loading...

YOGYAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Gunung Merapi dua kali mengalami erupsi, yakni Jumat (27/3/2020) dan Sabtu (28/4/2020). Diperkirakan, Merapi masih akan mengalami erupsi.

Pada Jumat, Merapi erupsi pada pukul 10.56 WIB ditandai dengan tinggi kolom asap dan debu mencapai lima kilometer dari puncak gunung.

Lalu pada malam harinya, erupsi terjadi lagi pukul 21.46 WIB. Tinggi kolom asap dan debu mencapai 1000 meter.

Pada Sabtu pagi pukul 05.21 WIB, Gunung Merapi kembali meletus. Tinggi asap dan debu membubung mencapai 2000 meter di atas kawah.

“Kejadian letusan semacam ini masih dapat terus terjadi sebagai indikasi bahwa suplai dari dapur magma masih berlangsung,” kata Hanik Humaida, Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi atau BPPTKG Yogyakarta, Sabtu (28/3/2020).

Baca Juga :  Yogyakarta Tak Ada Penambahan Kasus Baru Positif Covid-19 Berturut-turut, Bertahan di Angka 237, Sembuh Bertambah 2

Hanik memperingatkan, ancaman bahaya letusan berupa awan panas dan lontaran material vulkanik.

Jangkauan lontaran material vulkanik itu diperkirakan kurang dari tiga kilometer. Ini sesuai volume kubah sebesar 291 ribu meter kubik menurut data drone 19 Februari 2020. “Tapi tidak teramati adanya awan panas dari letusan ini,” kata dia.

Saat letusan, BPPTKG Yogyakarta juga menerbitkan VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan kode warna oranye.

Angin saat kejadian letusan mengarah ke barat. Hujan abu tipis dilaporkan terjadi dalam radius lima kilometer dari puncak Merapi terutama pada sektor barat menjangkau wilayah kecamatan Krinjing, Kabupaten Magelang.

Dari data kegempaan, seismisitas setelah erupsi tanggal 27 Maret 2020 pukul 10.46 WIB didominasi gempa LF yaitu sebanyak 24 kali, hembusan 11 kali, guguran 2 kali, dan MP 2 kali.

Baca Juga :  Sultan Tak Ingin Terburu-buru Terapkan New Normal di DIY

Deformasi atau penggembungan badan gunung tidak menunjukkan perubahan yang signifikan.

“Data observasi ini menunjukkan bahwa menjelang letusan ada fluida yang bergerak ke permukaan, tetapi tekanan tidak cukup kuat karena material letusan didominasi oleh gas vulkanik,” kata Hanik menerangkan.

Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan beraktivitas seperti biasa di luar radius tiga kilometer dari puncak Merapi.

Masyarakat yang beraktivitas di dekat sungai yang berhulu di Merapi juga harus waspada dan selalu memantau cuaca.

Karena di saat terjadi hujan deras di gunung, air sungai membawa material vulkanik.

“Yang beraktivitas di sungai atau dekat sungai memantau pakai radio komunikasi. Jika sewaktu-waktu hujan deras sudah siap siaga,” kata Rahmat, satu penambang pasir di lereng Gunung Merapi.

www.tempo.co