loading...

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Virus Corona tidak mudah dideteksi pada manusia saat pertama kali terjangkit. Kondisi itulah yang menyebabkan virus mematikan tersebut dapat meluas ke berbagai negara di dunia.

Demikia dikatakan oleh Juru Bicara pemerintah untuk penanggulangan virus Corona atau COVID-19, Achmad Yurianto.

“Sekarang terjadi pergeseran bahwa kasus infeksi ini gejalannya cenderung semakin lebih ringan, sehingga orang dengan virus yang positif tapi gejala yang muncul ringan, tidak telalu berat,” kata Yurianto saat konferensi pers di Kantor Staf Presiden, di Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Kamis (5/3/2020).

Baca Juga :  Sampai H+7 Lebaran, Petugas Putar Balik 3.400 Kendaraan yang Akan Keluar Jateng

Bahkan, Yurianto mengatakan dalam beberapa kasus, penderita Corona awalnya tak menunjukkan gejala sakit sama sekali atau asymptomatic.

Ia mengatakan hal ini dimaknai bahwa virus yang masuk ke dalam dirinya tidak sempat beranak pinak.

Menurut analisisnya, hal itu diduga karena disebabkan dua hal. Pertama, karena daya tahan tubuh yang tertular cukup kuat. Hal ini menyebabkan virus tak mudah berkembang biak.

“Yang kedua, (karena) virusnya memang sudah menjadi semakin melemah. Inilah yang kemudian bisa menjelaskan kenapa kok kemudian inkubasinya kok tidak lagi 14 hari,” kata Yurianto.

Baca Juga :  Tak Kenakan Masker, Warga di Maluku Ini Dicambuki Pakai Rotan oleh Oknum Polisi

Karena itu, Yurianto mengatakan masa observasi pun diperpanjang tak lagi 14 hari seperti masa karantina WNI yang dipulangkan dari Cina pada awal Februari lalu. Saat ini, pemerintah akan menerapkan masa observasi selama 2 x 14 hari atau 28 hari.

“Ini kita lakukan di anak buah kapal World Dream. Dia sudah 14 hari pertama di kapal World Dream (diobservasi), maka (saat selesai) kita jemput. Untuk 14 hari yang kedua kita lakukan di Sebaru,” kata Yurianto.

Hal yang sama juga diterapkan bagi WNI kru kapal pesiar Diamond Princess, yang telah dipulangkan ke Indonesia. Yurianto mengatakan proses observasi itu telah menjadi standar di dunia internasional juga.

www.tempo.co