JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Menengok Inovasi Kompos Blok di Desa Bandung Sragen Yang Jadi Primadona Hingga Luar Jawa dan Papua. Olah Limbah dan Sampah Jadi Berharga, Tapi Sistem Manual dan Modal Masih Jadi Kendala

Produksi kompos blok di KUB Dukuh Siwalan, Desa Bandung, Ngrampal, Sragen yang dikerjakan secara manual. Foto/Wardoyo

loading...
Produksi kompos blok di KUB Dukuh Siwalan, Desa Bandung, Ngrampal, Sragen yang dikerjakan secara manual. Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM Inovasi baru media tanam sekaligus pupuk organik dalam bentuk kompos blok yang diproduksi kelompok usaha bersama (KUB) di Dukuh Siwalan, Desa Bandung, Kecamatan Ngrampal, Sragen ternyata sudah banyak dikenal di luar kota hingga luar Jawa.

Ketua KUB Kompos Blok Sragen di Desa Bandung, Tulus Susilo Budi (39) mengatakan sejak dirintis setahun lalu, produk kompos bloknya langsung dikenal dan banyak diminati pangsa pasar di luar Jawa.

Saat ditemui di tempat produksi KUB Rabu (18/3/2020), ia mengungkapkan selama ini pesanan banyak datang dari beberapa kota besar seperti Jogja, Makassar Sulawesi Selatan, hingga Papua. Karena produk baru yang ramah lingkungan, kompos blok temuannya langsung banyak diburu.

“Animo pasar luar biasa karena ini temuan baru. Dari Papua dan Sulawesi itu permintaan perbulan bisa sampai 200.000 kompos blok. Belum lagi pesanan dari Jogja. Cuma kendala kami, karena semua masih diproduksi secara manual, belum semua permintaan bisa terpenuhi. Kendala kami peralatannya masih semi primitif, lalu modal juga terbatas,” paparnya.

Menurutnya, selama ini, unit usaha di KUB Kompos Blok Bandung hanya digawangi oleh 8 warga sekitar. Kapasitas produksinya baru bisa 200 sampai 300 kompos blok perhari.

Dengan masih minimnya peralatan dan modal, Tulus sangat berharap adanya dukungan dari pemerintah kabupaten dan dinas terkait terutama soal mesin dan permodalan.

“Kami berterimakasih selama ini sudah banyak disupport dari pihak desa. Harapanya ke pemerintah kabupaten, karena ini inovasi baru dan masih manual, kalau bisa kami pingin dibantu peralatan mesin. Sehingga bisa memenuhi target produksi sesuai permintaan pasar. Karena produk kompos blok ini juga berperan untuk penyelamatan lingkungan,” urai Tulus.

Baca Juga :  BREAKING NEWS: Meroket Lagi, 2 Warga Sragen Ditemukan Positif Covid-19 Hari Ini. Satu Orang Dari Kecamatan Tanon, Satunya dari Gemolong, Total Sudah 34 Kasus Positif

Tulus menguraikan produk kompos blok itu ramah lingkungan karena semua bahannya dari limbah kotoran sapi, ayam dan kompos serta limbah sekam dari penggilingan padi.

Dengan proses fermentasi, ditambah nutrisi unsur hara dan perekat alami, bahan organik itu kemudian diproses dan dicetak dalam bentuk kotak dengan lubang di tengah.

Lubang itulah nanti yang menjadi tempat untuk menyemai sekaligus menanam tanaman. Meski hanya dipadatkan secara manual, kompos blok produksinya dijamin tidak hancur dan justru semakin lama kian kuat.

“Pengeringan pun tidak boleh kena matahari langsung biar keringnya natural,” tukasnya.

Tulus Setio Budi saat menata kompos blok yang sudah jadi. Foto/Wardoyo

Produk kompos blok itu punya beberapa keunggulan sebagai salah satu media semai sekaligus tanam. Sehingga tanaman setelah disemai langsung dibiarkan tumbuh di kompos blok itu tanpa perlu dipindah lagi.

Kemudian, satu kompos blok bisa digunakan untuk berkali-kali tanam terutama untuk produk hortikultura seperti cabe, bayam, tomat, dan sayuran lain.

“Kalau sudah habis panen, tinggal tanamannya dicabut, bisa ditanami lagi. Dan yang paling penting, semua bahan di kompos blok ini murni bahan organik sehingga bisa jadi pupuk sekaligus. Kalau nanam di kompos blok nggak perlu dipupuk lagi, cukup disiram sekali sehari sampai besar dan berbuah,” urainya.

Tulus menyebut harga jualnya pun sangat merakyat karena satu kompos bloknya hanya dibanderol Rp 4.000 saja. Kemudian media tambahan satu plastik pupuk tabu dipatok hanya Rp 1.000 perak.

Baca Juga :  Kreatif di Tengah Pandemi, Karang Taruna di Kedungwaduk Sragen Kompak Sulap Lapangan Voli dan Sejumlah Pekarangan Jadi Lahan Sayuran. Ditanami Berbagai Sayur, Hasilnya Dibagikan untuk Warga
Contoh penggunaan kompos blok sebagai media tanam. Foto/Wardoyo

Ia menambahkan selain ramah lingkungan, keberadaan KUB Kompos Blok itu punya andil mengurangi sampah organik dan memberi pendapatan bagi peternak.

“Dengan usaha ini, kotoran dari peternakan, sekam dan kotoran ayam, bisa kami manfaatkan dan ada nilai jualnya,” tukasnya.

Pemdes Bandung pun mengaku sangat mendukung penuh unit usaha KUB Kompos Blok itu.

Kades Bandung, Supardi mengaku sangat mengapresiasi kerativitas KUB dan semangat mereka dalam menciptakan inovasi di bidang pertanian yang diyakini baru pertama ada di Eks Karesidenan Surakarta.

Dari Pemdes, sudah siap melakukan pendampingan dan akan mengupayakan pembenahan struktur organisasi KUB agar lebih sempurna dan berkembang.

“Kami yakin kalau dibina dan diberi modal serta peralatan, maka akan lebih bagus dan makin berkembang lagi. Mudah-mudahan pemerintah kabupaten atau pusat, bisa melihat kreativitas ini,” tuturnya.

Kades Bandung, Supardi. Foto/Wardoyo

Sekdes Bandung, Muh Nurrahadi menambahkan pihak Pemdes nantinya akan berusaha mengupayakan bantuan misalnya dengan modal bunga lunak atau tanpa bunga.

Pihaknya sangat berharap inovasi itu bisa mendapat support dari Pemkab atau dinas terkait agar lebih maju lagi. Bahkan jika memungkinkan nantinya didorong untuk bisa menjadi sentra kompos blok dengan memberdayakan warga lebih banyak lagi sehingga bisa meningkatkan derajat perekonomian warga.

“Karena permintaannya sangat tinggi. Ini kan produk yang bisa dibuat di rumah. Kalau memang sudah ada peralatan, kan bisa dikembangkan oleh warga dibuat di rumah-rumah, nanti produknya disetor ke KUB sebagai penampung untuk dipasarkan. Ini akan mampu mengangkat ekonomi warga dan memberdayakan potensi yang ada,” tandasnya. Wardoyo