JOGLOSEMARNEWS.COM Nasional Semarang

Mengenal Ciu Wlahar, Potensi Daerah yang Dilirik Bupati Banyumas untuk Bikin Hand Sanitizer


loading...

PURWOKERTO, JOGLOSEMARNEWS.COM – Mewabahnya virus corona atau covid-19 berisbas pada kelangkaan masker dan and hand sanitizer atau cairan pembersih tangan. Saat ini kedua barang tersebut menjadi barang yang langka dan berharga mahal, karena hampir diburu setia orang.

Tak mau kehilangan akal, Pemkab Banyumas berupaya membuat sendiri hand sanitizer dengan memanfaatkan local wisdom atau potensi daerah yang ada. Pemkab Banyumas berencana mengembangkan sentra ciu di Desa Wlahar, Kecamatan Wangon sebagai pusat produksi produk farmasi, yaitu hand sanitizer.

Desa Wlahar, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas ini sebenarnya sudah dikenal lama sebagai tempat pembuatan minuman beralkohol. Masyarakat sekitar menyebut minuman tersebut dengan istilah ciu.

Karena sebagai tempat produksi ciu yang merupakan minuman beralkohol tidak jarang membuat pada pengrajin merasa minder.

Tetapi tidak dengan Casmadi (70), warga Gerumbul Karanglo, RT 01 RW 03, Desa Wlahar, Kecamatan Wangon.

Bahan Ciu Wlahar

Dia sudah bertahun-tahun bekerja sebagai pengrajin ciu.

Casmadi menceritakan. jika pembuatan ciu perlu mencampurkan beberapa bahan utamanya.

Bahan-bahan yang digunakan dalam proses pembuatan ciu.

Seperti gula jawa sekira 30 kilogram, tape singkong sekira 1,5 kilogram, dan tape beras sekira 1 kilogram.

Semua bahan-bahan itu kemudian menjadi satu dan dimasukan ke dalam sebuah wadah tong atau drum besar dan direndam selama 10 hari.

Selama 10 hari itulah terjadi proses fermentasi yang nantinya akan didestilasi atau disuling untuk menghasilkan ciu.

“Satu tong besar itu bisa menghasilkan 25 liter ciu. Kalau yang kecil biasanya menghasilkan 20 liter,” ujar Casmadi kepada TribunBanyumas.com, Jumat (20/3/2020).

Jika sudah disuling, Ciu Wlahar dijual per liter mulai dari Rp 20 ribu dan Rp 30 ribu.

“Jika diminum sensasinya hangat di tenggorakan dan perut.”

Baca Juga :  Pengakuan 2 Maling Ayam Yang Bikin Resah Warga di Kali Gondang. Malingnya Berkali-Kali, Hasilnya Buat Beginian!

“Sebenarnya mirip dengan ciu bekonang di Kabupaten Karanganyar,” katanya.

Ciu Wlahar rata-rata memiliki kadar alkohol sekira 25-50 persen.

Syarat dalam membuat handsanitizer adalah kadar alkoholnya minimal berada di kisaran 70-80 persen.

Jika harus membuat Ciu Wlahar dengan kadar alkohol mencapai 70 persen diungkapkan Casmadi, tidak pernah.

Karena menurutnya, jika harus mencapai 70 persen membutuhkan ongkos produksi yang tidak sedikit.

Semakin banyak bahan baku, semakin bagus dan semakin tinggi kadar alkohol yang dihasilkan.

Menurut Kadus 3 Desa Wlahar, Abas Supriyadi, jika harus membuat ciu dengan kadar mencapai 70 persen setidaknya harus melalui dua sampai tiga kali lagi proses penyulingan.

Pada umumnya para pengrajin Ciu Wlahar dalam sekali produksi bisa mencapai 60 liter dengan kadar alkohol yang hanya berkisar 25-50 persen.

“Akan tetapi jika ciu itu dinaikan kadarnya menjadi 70 persen, hasil sulingan nantinya paling hanya menjadi 15 liter.”

“Harga yang mahal satu liter Rp 80 ribu,” katanya.

Kesulitan utama dalam membuat kadar alkohol pada Ciu Wlahar menjadi 70-80 persen adalah bahan produksi yang mesti dua kali lipat karena dua kali penyulingan.

“Di sini maksimal kadar alkohol 50 persen. Itupun juga sudah termasuk ciu super,” tambahnya.

Abas menambahkan, jika jumlah pengrajin ciu di Desa Wlahar saat ini ada sekira 500 pengrajin dari 1.100 KK.

Adapun jumlah produksinya rata-rata sekira 10-15 liter per KK.

Terkait rencana Pemkab Banyumas menjadikan Desa Wlahar sebagai sentra pembuatan hand sanitizer, warga sangat menyambut baik.

Karena diharapkan dapat mengembangkan lagi lebih luas potensi Ciu Wlahar menjadi sumber ekonomi warga.

Sebab konsumen dan pemasaran Ciu Wlahar paling besar adalah kepada pada nelayan di Kabupaten Cilacap untuk keperluan melaut.

Baca Juga :  Membahayakan Penerbangan, 6 Balon Udara Siap Terbang Digagalkan dan Disita Polisi di Kalikajar. Warga Diingatkan Ancaman 2 Tahun dan Denda Rp 500 Juta

“Kami masih mengandalkan agen-agen pribadi.”

“Jika benar akan dikembangkan sangat berterima kasih. Otomatis bisa membuat home industry, tidak bingung melempar hasil produk ini,” kata Abas.

Namun demikian, proses mengembangkan cukup berat.

Apalagi mayoritas para pengrajin masih menggunakan alat tradisional.

Kawasan Berikat

Menurut Kabag Humas dan Protokol Pemkab Banyumas, Deskart Setyo Jatmiko, produksi Ciu Wlahar belum bisa berskala besar.

Pemkab melihat kawasan ini dapat menjadi semacam kawasan berikat.

Dimana suatu wilayah yang mampu membuat produksi ekspor.

“Tentunya kamiperlu mengubah pola alkohol konsumsi di sini menjadi alkohol farmasi.”

“Permasalahannya adalah menyesuaikan dengan harga di lapangan.”

“Sebab harga alkohol di apotek sangat murah,” ujar Jatmiko.

Karena harga alkohol di apotek sangat murah, Ciu Wlahar mesti berinovasi dan menyesuaikan dengan kondisi pasar.

“Misalnya saja gula Jawa yang biasa digunakan sebagai bahan baku itu yang harganya fluktuatif bisa diubah dengan molase atau tetes tebu.”

“Atau bahkan mengunakan buah-buahan juga bisa.”

Sebab intinya adalah bagaimana menekan harga bahan baku dan proses produksi,” ungkapnya.

Menurutnya, saat ini banyak aspek yang tidak efisien dalam proses pembuatan Ciu Wlahar.

Misalnya saja proses yang tradisional menggunakan tungku api dari kayu yang membuat panas menyebar dan membuang energi secara percuma.

Para pengrajin juga masih menggunakan panci dari aluminium yang diperkirakan banyak terdapat kebocoran.

Tungku yang digunakan oleh Casmadi menjadi salah satu tungku yang sudah dimodernisasi.

“Punya Casmadi sudah sedikit modern karena menggunakan pendingin dengan bak yang lebar.”

“Sehingga mempercepat proses pencairan uap menjadi alkohol cair,” pungkasnya.

Sebab beberapa pengrajin lain masih menggunakan pipa tembaga, dengan kuali dari tanah liat.

www.tribunnews.com