JOGLOSEMARNEWS.COM Nasional Semarang

66.871 Pemudik Pulang ke Jateng, Kasus Positif Corona Langsung Meroket Jadi 40 Orang. Wonogiri Paling Banyak 42.838 Pemudik, Ganjar Sebut Ini Soal Hidup Mati!

Petugas medis di RSUD Sragen saat memeragakan penanganan pasien corona virus di ruang isolasi. Foto/Wardoyo

loading...
Ganjar pranowo. Foto/Humas Jateng

SEMARANG, JOGLOSEMARNEWS.COM Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengatakan, ada tren peningkatan pengidap Covid-19 di Jawa Tengah. ‎Dalam tiga hari, pasien terkonfirmasi positif melonjak dari 19 orang menjadi 40 orang dan sudah ada enam orang yang meninggal.

Jumlah orang dalam pengawasan atau ODP naik drastis hingga 3.638 orang, serta pasien dalam pengawasan 294 orang. Hal itu dikhawatirkan sebagai dampak kedatangan sejumlah perantau yang mudik lebih awal. ‎

‎”Hingga 26 Maret sudah ada 66.871 orang dari berbagai provinsi yang yang pulang ke Jateng. Jumlah paling banyak di Wonogiri ada 42.838 orang,” papar Ganjar.

Kemudian di Kota Semarang dan sekitarnya 10.979 orang, Cilacap 4.527 orang, di Jepara tercatat 2.164 orang.

Baca Juga :  Nekat Pesta Miras di Tengah Pandemi Corona, Gerombolan Pemuda Dikukut Polisi di Jalan Jatiroto Kayen

Lainnya tersebar di Tegal, Pemalang, Pekalongan, Kudus, Pati, Grobogan, Purbalinga, Boyolali, Sragen, Kabupaten Magelang dan  Karanganyar.

Dengan kondisi itu, Ganjar memerintahkan semua bupati atau walikota untuk memasukkan pemudik, dalam kategori Orang Dalam Pemantauan (ODP).

Dengan konsekuensi tersebut, semua pemudik harus mengisolasi diri mandiri selama 14 hari.

Jika ada dari mereka yang sakit, maka mereka mudah untuk segera mendapatkan perawatan medis.

Untuk mengatasi hal tersebut, Ganjar mengaku sudah berkomunikasi dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Jawa Barat dan nantinya Jawa Timur. Hal itu untuk memastikan, perantau di daerah tersebut, tetap di wilayah perantauan masing-masing. ‎

Baca Juga :  Baru Bebas dari Penjara, 2 Pencuri Bonyok Dimassa Warga Usai Nekat Mencuri di Toko Kelontong Argopeni

‎”Untuk menjamin kehidupan warga di perantauan yang sudah tidak bisa bekerja, kami pun mengusulkan pada Gugus Tugas agar memberikan jaring pengaman sosial. Ada jaminan kebutuhan dasar untuk masyarakat selama menjalani social distancing di rumahnya masing-masing,” paparnya.

Terakhir, ia meminta ‎warganya tak menyepelekan Covid-19. Ia bahkan menyebut, penyakit itu adalah urusan hidup dan mati.

“Ini masalah hidup mati. Karena itu, mohon jangan bersikap meremehkan. Jangan semaunya sendiri. Ini masalah kita bersama yang harus kita selesaikan juga dengan kebersamaan. Anda berdiam di rumah, kita semua sehat. Atau anda nekat, kita semua terancam tidak selamat,” pungkas Ganjar. JSnews