loading...

SOLO, JOGLOSEMARNEWS.COM – Pandemi Covid-19 di Indonesia tidak hanya berdampak pada sector rill saja, tetapi juga terjadi pada Pasar Modal. Pelemahan pasar ini menjadi sorotan banyak pihak di tengah pandemi global ini. Pakar ekonomi sekaligus praktisi Pasar Modal dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Riwi Sumantyo, SE., MM, mengatakan, dampak Covid-19 terhadap pasar modal luar biasa.

“Sudah beberapa minggu ini pasar modal Indonesia mengalami fluktuasi yang sangat tajam. Namun situasi ini tidak hanya di alami pasar modal Indonesia, seluruh dunia demikian. Di Indonesia Sudah berkali-kali, IHSG terkena penghentian perdagangan sementara (trading halt), yaitu ketika penurunan IHSG menyentuh angka 5% dibanding penutupan hari sebelumnya, maka ada trading halt selama 30 menit,” ujar Riwi, Jumat (3/4/2020).

Menurut Riwi, hal itu adalah bagian dari protokol yang diterapkan OJK dan BEI supaya IHSG tidak turun terlampau dalam. Karena fokus pelaku pasar saat ini adalah masalah penanganan Corona, maka dalam dalam jangka pendek-menengah pasar modal Indonesia akan cenderung terus berfluktuasi.

Baca Juga :  Peduli Kesehatan Masyarakat, Wings Luncurkan Masker 3 ply Wingscare Protector dengan Harga Terjangkau

“Saat ini ada gangguan dari sisi rantai pasok BBO (supply chain), karena impor BBO terbesar Indonesia itu dari Cina dan India. Beberapa perusahaan yang sudah menerapkan skema hedging dalam mencukupi pasokannya agak berkurang ‘pusingnya’, tetapi tetap saja dalam jangka panjang situasi ini tidak menguntungkan. Semoga Cina segera pulih sehingga tidak timbul supply shock”, jelas Riwi.

Dalam kondisi ini bagi investor jika masih punya dana tunai yang longgar, tidak perlu terlalu buru-buru masuk ke pasar, lebih baik menunggu situasinya lebih jelas dan terkendali. Tidak masalah jika terlambat melangkah, tapi risikonya kecil, daripada bersikap agresif tapi dengan risiko yang besar di depan mata.

Baca Juga :  Lepas Mahasiswa KKN Covid-19 UNS, Ganjar: UNS Tidak Ada Matinya

“Kalau mau ambil posisi, hendaknya bertahap, karena dugaan saya, IHSG masih ada ruang penurunan yang cukup besar. Angka moderatnya bisa ke level 3.800, ekstrimnya bisa ke 2.600”, terang Riwi.

Riwi juga berharap kepada investor untuk tenang menyikapi situasi pasar yang sangat fluktuatif, bahkan bisa disebut turbulensi saat ini, tidak perlu panik karena sblm ini kita sudah pernah mengalami goncangan pasar dengan penyebab yg lain.

“Secara fundamental, harga saham saat ini sudah terdiskon banyak, PER IHSG juga rendah, yang berniat mau beli, bisa nyicil beli secara akumulatif untuk mengantisipasi jika harga saham masih turun lebih dalam lagi,” tukasnya. Prihatsari