JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Duduk Perkara Munculnya Penolakan Pendirian Pabrik Sepatu Korea di Sumberlawang Sragen. Warga Klaim Ada 106 Yang Menolak Lahannya Dibeli, Alasannya Hanya Karena Ini!

Sejumlah warga Desa Cepoko, Sumberlawang, Sragen saat berkumpul mengutarakan penolakan menjual lahan untuk pendirian pabrik sepatu, Senin (6/4/2020). Foto/Wardoyo
Sejumlah warga Desa Cepoko, Sumberlawang, Sragen saat berkumpul mengutarakan penolakan menjual lahan untuk pendirian pabrik sepatu, Senin (6/4/2020). Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM   Sejumlah warga yang menolak menjual lahannya untuk pendirian pabrik sepatu yang dikabarkan akan didirikan di Desa Cepoko, Sumberlawang, Sragen buka suara.

Mereka menolak karena lahan milik mereka termasuk lahan produktif yang selama ini menjadi sumber pencaharian mereka.

Penolakan itu disampaikan beberapa perwakilan warga saat berkumpul di rumah Sardi, salah satu tokoh di Desa Hadiluwih, Sumberlawang, Senin (6/4/2020).

Ada enam warga yang hadir dan menyampaikan argumen penolakan mereka. Salah satu warga Dukuh Sumber Kulon, Desa Cepoko, Dwiyono mengatakan dirinya sejak awal menolak menjual sawahnya yang masuk daftar untuk pendirian pabrik.

Menurutnya, penolakan itu bukan karena persoalan harga beli dari investor. Akan tetapi ia menolak karena lahannya adalah sawah produktif.

“Bukan masalah harga Mas. Kami tidak setuju karena sawah kami itu lahan produktif, untuk cari makan. Kami nggak menolak ada pabrik, tapi kalau mau bangun pabrik kami minta jangan pakai lahan produktif, pakai tegalan, tanah bengkok atau tanah kas pemerintah saja,” paparnya.

Ia mengungkapkan lahannya yang masuk daftar untuk dibeli ada sekitar 4.000 meter persegi. Menurutnya di Dukuh Sumber Kulon ada sekitar 16 warga pemilik lahan yang juga menolak dengan alasan serupa.

Pria yang juga berprofesi pedagang itu menyampaikan selama ini, yang diundang pertemuan ke balai desa tidak semua warga pemilik lahan. Ia juga menegaskan penolakan itu bukan terkait agenda politik atau pembangkangan terhadap program pemerintah.

“Tapi lebih karena sawah kami itu sawah produktif untuk hidup kami. Mau dibeli harga berapapun, saya pribadi nggak akan saya jual,” kata dia.

Suwarno (48) salah satu warga Dukuh Cepoko RT 9 mengatakan di dukuhnya ada sekitar 11 warga pemilik lahan yang menyatakan menolak menjual lahannya.

Semuanya menolak juga karena alasan lahan mereka adalah sawah produktif.

“Karena sawah kami itu sawah produktif, untuk makan kami,” ujarnya.

Senada, Haryanto (52) warga Dukuh Cepoko RT 8 menuturkan ia memiliki lahan sawah seluas 6.000 meter persegi yang masuk daftar hendak dibeli investor.

Namun ia juga tidak akan melepas karena sawah itu adalah lahan pencahariannya untuk bertani.

Baca Juga :  Dapat Posisi Kanan, Cabup Petahana Sragen, Mbak Yuni Langsung Ucapkan Alhamdulillah. Optimis Bakal Jadi Awal Yang Baik, Sebut Masyarakat Juga Makin Mantap Memilih di 9 Desember 2020

“Saya sempat tawarkan kalau mau tegalan saja, mereka nggak mau. Ya kalau yang dibeli sawah produktif, tetap saya pertahankan. Soal harga, juga nggak ada nego, harga sudah dari sana. Informasinya yang dekat jalan Rp 180.000 permeter persegi, yang agak tengah Rp 140.000 permeter persegi. Punya saya masuk di tengah,” urainya .

Sementara, Sardi yang mengaku mendapat kuasa dari warga yang menolak, menuturkan dari data yang ia punya, warga yang menolak ada 57 orang di Dukuh Cepoko, Deresan, Jaten dan Gembol. Lalu di Sumber Etan 33 warga dan Sumber Kulon 16 warga.

“Kami juga sudah melapor Pak Camat bahwa warga resah dan menolak menjual lahan. Kami juga sudah ke DPU PR, katanya di situ sudah ada pengajuan perubahan tata ruang. Intinya kami tidak punya muataan apapun atau kepentingan apapun. Cuma menangkap keresahan warga Desa Cepoko yang tidak mau menjual tanahnya untuk pabrik. Soalnya itu tanah produktif,” tuturnya.

Sebelumnya saat dikonfirmasi, Kades Cepoko, Ngadiman membenarkan jika ada investor yang berniat membangun pabrik sepatu di wilayahnya.

Dari pembicaraan awal, investor asal Korea itu butuh 60 hektare lahan di Desa Cepoko untuk membangun pabrik sepatu.

Investor itu datang melalui perwakilan mereka dan melakukan sounding-sounding sekitar dua bulan lalu.

Setelah dilakukan peninjauan, kala itu ada 300 warga pemilik lahan dan sawah yang sudah sepakat dan siap menjual lahannya untuk pembangunan pabrik.

“Investornya ke sini sekitar dua bulan lalu. Tapi kami ketemu juga baru sebulan lalu. Warga yang siap menjual lahannya ada sekitar 300an orang. Nggak banyak, ada yang cuma 450 meter, 900 meter, yang paling luas sekitar 4500 meter persegi. Sebenarnya sudah pada mendukung dan sepakat bahkan sebagian sudah ada yang diberi uang muka. Dan kami juga tidak terlibat, semua langsung dari investor dengan warga,” paparnya Minggu (5/4/2020).

Perihal ada warga yang menolak, ia tidak menampik. Menurutnya memang ada beberapa warga di wilayah RT 9 yang belakangan berbalik menolak menjual lahannya.

Baca Juga :  Sudah Penjarakan 4 Orang, Bantuan Alsintan di Sragen Kini Diwanti-wanti Tanpa Pungutan Apapun. Ada 52 Kelompok Penerima, Bupati Yuni: Kalau Mau Sodaqoh, Sodaqohlah ke Warga Tidak Mampu!

30.000 Tenaga Kerja

Pihaknya tak tahu alasan penolakan itu. Meski sudah mencoba menjelaskan bahwa pembangunan pabrik itu akan berdampak luas mendongkrak kehidupan warga di Cepoko dan Sumberlawang, namun sebagian warga itu tetap berkeras mendadak menolak.

“Saya juga nggak tahu persis mengapa mereka mendadak berbalik. Padahal semua proses juga langsung dari investor ke warga. Kami nggak ikut-ikutan. Kami dari Pemdes dan mayoritas warga sejak awal sangat mendukung karena pabrik itu nanti membutuhkan karyawan hampir 30.000. Kami rasa ini sangat bagus untuk masa depan Sumberlawang, apalagi Sumberlawang selama ini jadi kecamatan dengan KK miskin terbanyak di Sragen. Sudah kami jelaskan, tapi mereka tetap nggak mau. Ya sudah, kami biarkan sementara,” tuturnya.

Ngadiman juga menyampaikan sebenarnya dengan kehadiran pabrik itu, warga juga banyak diuntungkan. Sebab dari investor sudah menyanggupi beberapa tuntutan warga.

Di antaranya, semua warga pemilik lahan nantinya akan dijadikan karyawan tetap, pembayaran uang lahan dibayarkan utuh tanpa potongan PPH PPN, lalu yang ketiga ketika lahan sudah dibayar tapi belum dibangun, warga masih boleh menggarapnya.

“Keempat, ketika sudah tiga tahun diurug tapi belum dibangun, tanah akan kembali diberikan ke warga. Yang terakhir, warga yang mungkin usianya agak tua tetap akan diterima bekerja di situ entah sebagai petugas kebersihan atau yang lain. Kurang gimana coba kami perjuangan warga Mas,” katanya.

Terpisah, Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Sragen, Tugiyono sebelumnya menyampaikan memang ada tiga investor asing asal Korea dan China yang sempat sounding-sounding untuk berinvestasi membangun pabrik di Sragen.

Salah satunya lahan yang dipilih memang di Sumberlawang untuk pabrik sepatu. Ia juga mengatakan secara prinsip Pemkab mendukung masuknya investasi pabrik berskala besar yang bisa menyerap banyak tenaga kerja.

“Kemarin sudah sounding-sounding dan cek lahan juga. Tapi sejak adanya corona virus ini, belum ada lagi kabarnya. Mudah-mudahan nanti berlanjut, karena pabrik yang akan dibangun skala besar dan menyerap puluhan ribu tenaga kerja. Kan bisa meningkatkan pendapatan warga dan menyerap tenaga kerja,” paparnya. Wardoyo