JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Grosir Kota-Kota Besar Lockdown, Ratusan Perajin Batik di Masaran Sragen Menangis. Sebulan Lebih Putuskan Berhenti Produksi

Ilustrasi perajin batik. Foto/Wardoyo
Ilustrasi perajin batik. Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Ratusan perajin batik di Desa Pilang, Kecamatan Masaran, Sragen terpaksa gulung kain alias menutup usaha lantaran terimbas wabah corona.

Sepinya order dan sulitnya penjualan, membuat mereka memutuskan menghentikan produksi sejak sebulan terakhir.

“Sudah lebih satu bulan ini pada tutup. Jumlahnya ya 100an perajin lebih. Karena memang nggak ada pesanan lagi. Toko-toko batik dan grosir besar yang selama ini jadi andalan penjualan mereka, pada nggak buka. Di Solo, Tanah Abang, Jogja yang biasanya jadi langganan, juga sudah tutup,” papar Anggota DPRD Sragen asal Pilang yang juga pengusaha batik, Sugiyamto, Senin (20/4/2020).

Baca Juga :  Kekeringan Mulai Landa Tangen Sragen. Ada 750 Jiwa di 15 RT Desa Ngrombo Kesulitan Air Bersih, Warga Berharap Bantuan Droping

Tak hanya di Jakarta dan Jogja, pasar Batik di Bali yang selama ini jadi andalan pesanan juga sudah lockdown alias nutup order. Hal itu membuat perajin makin tak bisa gerak sehingga terpaksa akhirnya menutup sementara operasional.

“Selama ini andalan perajin kan pusat-pusat kulakan Batik kayak di Jakarta, Bali dan Jogja. Kalau di sana sudah nggak buka, ya nggak bisa jualan lagi,” terangnya.

Tak hanya perajin batik, pemilik toko pakaian dan usaha batik pun saat ini juga menjerit.

Sebab sebagian besar sudah terlanjur menyetok barang untuk persiapan lebaran, sementara aktivitas jualan juga sudah berhenti lantaran kondisi pandemi covid-19 juga belum mereda.

Baca Juga :  Tak Remehkan Kotak Kosong, Tim Pemenangan Yuni-Suroto Targetkan Kemenangan 80 % Suara di Pilkada Sragen. Ketua Tim Akan Gerakkan Semua Jaringan

“Pedagang itu panennnya kan kalau mendekati Lebaran dan puasa. Yang mudik biasanya belanja batik untuk oleh-oleh. Lha ini mudik nggak bisa, ya pedagang menangis bener ini,” tukasnya.

Kades Pilang, Sukisno tidak menampik seratusan lebih perajin batik di desanya menutup usaha. Hal itu dikarenakan tidak ada lagi orderan lantaran hampir semua pasar besar dan grosir di kota besar, menghentikan pesanan gegara wabah corona.

“Lha mau produksi gimana Mas, wong orderan gak ada. Ya sudah pada berhenti produksi hampir sebulan lebih,” tuturnya. Wardoyo