JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Kisah Penumpang Bus Asal Sragen dan Karanganyar Ungkap Jadi Korban Keganasan Komplotan Calo di Kaligawe Semarang. Ongkos Semarang-Solo Dipongkol Rp 220.000- Rp 300.000, Diberi Tiket Ternyata Palsu

Agus, penumpang asal Sragen yang menjadi korban komplotan calo bus di Kaligawe, Semarang saat menunjukkan bukti tiket palsu yang diberikan calo dan tiket asli dari kondektur bus. Foto/Wardoyo

loading...
Agus, penumpang asal Sragen yang menjadi korban komplotan calo bus di Kaligawe, Semarang saat menunjukkan bukti tiket palsu yang diberikan calo dan tiket asli dari kondektur bus. Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM Sejumlah penumpang bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) asal Sragen, Karanganyar dan Ngawi, mengaku menjadi korban aksi oknum calo tiket di wilayah Kaligawe, Semarang.

Mereka dipaksa membayar tarif jauh di luar kewajaran dan diberi tiket bus yang ternyata palsu.

Tarif Semarang-Solo yang normalnya hanya Rp 25.000 per orang, oleh oknum calo itu ditarik Rp 195.000 hingga Rp 250.000 per orang.

Celakanya, uang pembayaran yang ditarik oknum calo itu ternyata tidak diserahkan ke kondektur bus yang ditumpangi sehingga para korban terpaksa harus membayar lagi ke kondektur bus AKAP jurusan Surabaya itu.

Aksi calo itu diungkapkan salah satu korban asal Sragen, Agus Arbani. Kepada JOGLOSEMARNEWS.COM , Kamis (9/4/2020) pria asal Dukuh Karangkulon, Desa Kecik, Tanon, Sragen itu menuturkan aksi calo itu dialaminya ketika pulang dari Kalimantan tanggal 11 Maret 2020 lalu.

“Ceritanya waktu itu saya dari Kalimantan naik kapal dan turun di Pelabuhan Tanjung Emas pas malam hari. Saya bersama beberapa penumpang lain kemudian dioper taksi ke Kaligawe untuk nyambung naik bus ke Terminal Solo,” papar Agus, Kamis (9/4/2020).

Saat itu kondisinya pukul 21.00 WIB. Ia bersama tiga penumpang tujuan Karanganyar dan Ngawi, kemudian diturunkan di tempat cegatan bus di tepi jalan raya Kaligawe.

Setelah diturunkan di Kaligawe, kemudian ada empat orang di warung kopi beberapa meter di cegatan.

Melihat dia dan tiga penumpang turun, satu dari orang itu kemudian menghampiri dua penumpang yang agak tua yang hendak menuju Kebakkramat, Karanganyar.

Satu orang yang berpakaian seragam warna oranye mirip kondektur itu kemudian sempat menanyakan mau naik bus tujuan mana kepada dua orang penumpang asal Karanganyar itu.

“Setelah itu, dua penumpang tadi diajak ke warung. Di dalam warung ada tiga orang temannya calo itu tapi pakaiannya preman. Di warung itu, dua penumpang tadi ditanya kalau mau ke Solo nanti naik bus ini. Bayarnya di sini. Mereka sambil menggertak narik Rp 550.000 ke dua penumpang asal Kebakkramat itu. Karena digertak, mereka akhirnya terpaksa bayar sesuai itu dan diberi tiket warna hijau,” tutur Agus.

Baca Juga :  Satpam Cantik PT PAN Brothers Sragen Hilang Misterius Diduga Bunuh Diri, Suaminya Sampai Syok Berat

Agus menceritakan tak lama berselang, datang Bus AKAP EKA jurusan Surabaya. Seketika bus datang, empat oknum calo itu kemudian merangsek mendekat ke pintu bus bagian depan.

Dua penumpang asal Karanganyar yang sudah membayar itu langsung disuruh naik. Sedangkan dirinya dan satu penumpang tujuan Ngawi, dihalang-halangi.

Setelah dua penumpang asal Karanganyar itu naik, pintu bus langsung ditutup oleh empat calo tersebut.

Setelah itu, dua oknum calo langsung memepet dirinya dan penumpang tujuan Ngawi, untuk segera membayar. Sedang dua lainnya berjaga di dekat pintu bus.

Sembari menggertak, oknum calo itu meminta bayaran Rp 195.000 per orang sambil mengeluarkan tiket bus warna hijau.

Karena digertak dan setengah dipaksa, dirinya akhirnya pasrah dan penumpang tujuan Ngawi itu akhirnya membayar masing-masing Rp 195.000.

Seusai membayar, oknum yang mengenakan seragam oranye mirip kondektur, lalu memberi tiket warna hijau.

Agus menguraikan setelah uang dibayarkan, pintu bus baru dibuka oleh calo tersebut dan dirinya bersama penumpang tujuan Ngawi langsung didorong masuk ke atas bus.

“Waktu mau naik, kami sudah dipepet dan dikepung dua calo sambil nggertak suruh cepat bayar agar bisa segera naik. Yang dua lagi jaga pintu depan agar kami nggak bisa naik. Kelihatannya mereka sudah komplotan dan bagi tugas,” terangnya.

Tiket Palsu

Dirinya dan tiga penumpang itu baru kaget saat sampai di atas bus, masih ditarik ongkos oleh kondektur bus.

Saat ditunjukkan tiket yang diberikan oleh calo, kondektur bus hanya mengatakan bahwa itu bukan tiket busnya dan uang yang ditarik oknum calo itu juga tak dibayarkan.

“Setelah saya cek, ternyata tiketnya palsu. Karena tiketnya nggak ada nama PO busnya. Hanya ada tulisan Bis Cepat dan beberapa kota jurusan jurusan. Dan tulisan tujuannya yang ditulis calo itu juga salah. Tujuanya ditulis Jogja padahal tujuan kami Terminal Solo. Kami baru sadar ketika sudah di atas bus dan ngecek tiket,” terang Agus.

Meski bersikukuh bahwa sudah membayar lewat empat oknum tadi, kondektur bus tetap tak mau tahu dan menarik bayaran sesuai tarif yakni Rp 25.000 per orang.

Baca Juga :  Reaksi Gubernur Ganjar Tanggapi Kasus Teror dan Ancaman terhadap Petugas Medis di Sragen Usai Tangani Pasien Positif Covid-19. Begini Permintaan Gubernur! 
Bukti tiket palsu dari calo (atas) dan tiket resmi dari bus AKAP yang masih disimpan oleh Agus. Foto/Wardoyo

Karena menyadari sudah tertipu calo, ia dan tiga penumpang akhirnya terpaksa membayar lagi masing-masing Rp 25.000. Sehingga dari Kaligawe Semarang ke Solo, total ia dan rekannya harus mengeluarkan uang Rp 220.000.

Sedangkan dua penumpang dari Kebakkramat membayar Rp 600.000 untuk dua orang atau Rp 300.000 per orang.

“Kernetnya bilang itu (calo) bukan urusan aku. Aku urusannya di dalam bus. Dia (kernet) juga bilang nggak bisa berbuat banyak meski sebenarnya tahu saat melihat kami dioyok-oyok empat oknum itu calo. Tapi dia ngakunya takut karena lewat situ terus. Kami sebenarnya juga curiga calo tadi memang nggak ngasih bayaran kami ke kernet. Karena begitu dapat uang, kami langsung didorong masuk dan pintu ditutup,” terang Agus.

Agus menambahkan tak sempat memberontak atau meminta tolong karena saat itu situasi sudah malam dan lokasi sekitar sangat sepi.

Selain itu, dirinya juga seolah tertipu oleh penampilan salah satu calo yang berpakaian seragam mirip dengan kernet bus yang kemudian ditumpanginya sampai Solo.

“Warna seragamnya juga oranye, kernet di atas juga agak oranye. Pikir saya dia agen resmi. Meski ndongkol, kami juga nggak bisa apa-apa karena situasinya memang sepi. Para calo itu kelihatannya memang sudah komplotan dan lihai memainkan situasi. Kalau dibiarkan kasihan penumpang, kalau saya disuruh nunjukkan wajahnya saya masih ingat orang-orangnya,” tukasnya.

Meski uangnya tak mungkin akan kembali, Agus mengaku terpaksa buka suara agar menjadi perhatian bagi calon penumpang lain agar berhati-hati dengan komplotan calo itu.

Ia sangat berharap aparat bisa menindak tegas keberadaan calo di Kaligawe yang sudah merugikan masyarakat itu.

“Saya sudah berkali-kali pulang dari Kalimantan, baru kali ini mengalami kena calo. Harapan kami kalau bisa mereka diberantas agar nggak merugikan masyarakat. Kepada kru bus, kami juga minta semua tegas jangan hanya diam saja ketika calon penumpang dimakan calo,” tegasnya. Wardoyo