JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Terungkap, Perempuan Positif Corona asal Grobogan Datang ke Gabugan Sragen Bersama Rombongan Pengiring Manten Berjumlah Sekitar 500 Orang. Kades Pastikan Saat Itu Tak Ada Salam-Salaman!

Kades Gabugan, Loso Sunarto. Foto/Wardoyo
Kades Gabugan, Loso Sunarto. Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM Pemdes Gabugan, Kecamatan Tanon, Sragen membenarkan bahwa satu pasien positif corona asal Grobogan, berinisial S, sempat datang ikut ngiring manten di hajatan warga Dukuh Gambaran, Gabugan, pada medio Maret 2020 lalu.

Namun, Pemdes memastikan hingga kini tidak ada keluhan atau gejala mengarah covid-19 dari empunya hajat maupun warganya yang hadir di hajatan tersebut.

Hal itu disampaikan Kades Gabugan, Loso Sunarto kepada JOGLOSEMARNEWS.COM , Minggu (12/4/2020). Loso menyampaikan bahwa memang benar ada warganya di Dukuh Gambaran RT 19 yang punya hajat dan rombongan pengantinnya asal Grobogan.

Seingatnya, hajatan pernikahan itu digelar sudah tanggal 14 Maret 2020 dan kala itu situasi masih relatif aman. Sudah ada imbauan mengurangi aktivitas berkumpul namun belum ada larangan menggelar hajatan.

“Kemarin itu hajatannya tanggal 14 Maret. Waktu itu semua masih normal, ada anjuran tapi belum segencar sekarang. Maklumat dan larangan menggelar hajatan kan baru awal April. Saat itu, memang ada rombongan pengiring manten dari warga Madok, Geyer, Purwodadi, Grobogan dan salah satunya perempuan yang kabarnya dinyatakan positif itu,” papar Loso kepada JOGLOSEMARNEWS.COM , usai penyemprotan desinfektan serentak di desanya, Minggu (12/4/2020).

Ia menguraikan dari laporan yang diterimanya, saat itu, perempuan yang baru pulang dari Hongkong itu hadir bersama pengiring manten berjumlah hampir 500 orang.

Saat ditanya apakah pemilik rumah dan siapa saja warga yang kontak dengan perempuan positif asal Grobogan itu, ia mengaku belum mendata secara rinci ada berapa.

Namun ia memastikan saat ini situasi warganya baik empunya hajat maupun warga sekitar yang hadir, sehat-sehat saja.

Sebab selama jeda waktu antara kedatangan perempuan itu hingga kini sudah lewat 14 hari, tak ada yang mengeluhkan gejala apapun.

Terlebih, saat hajatan digelar, kala itu sudah dilakukan imbauan tidak berjabat tangan sehingga dimungkinkan tidak ada kontak langsung dengan pasien perempuan itu.

“Kami juga terus menerus mengecek dan berkoordinasi dengan bidan desa. Sampai sekarang nggak ada warga di RT 19 itu yang ngeluhkan gejala batuk, pilek atau demam. Semua waras wiris Mas dan mudah-mudahan memang nggak ada yang gitu (kena),” terangnya.

Baca Juga :  Ribuan Seniman Sragen Siap Turun ke Jalan dan ke Polres Tuntut Izin Hajatan Dibuka. Kapolres Tegaskan Hajatan Tidak Dilarang, Tapi Hanya Ijab Kabul Saja Tanpa Hiburan!

Sejak kabar pasien berinisial S positif dan dilansir Pemkab Grobogan, Kades Losi mengaku langsung menyambangi kediaman yang punya hajatan dan warga sekitarnya.

Selain memastikan kondisinya, pihaknya juga menyampaikan arahan agar senantiasa mencuci tangan, pakai masker dan segera melapor jika ada keluhan kesehatan.

“Makanya hari ini tadi kami gerakkan semua Satgas Covid-19, perangkat desa, lembaga desa, LP2MD, Ketua RT untuk penyemprotan desinfektan lagi. Biar wilayah kami steril dari wabah corona. Dan Alhamdulillah sampai sekarang nggak ada ODP atau PDP di desa kami,” tandasnya.

Sebelumnya, Pemkab Sragen bakal melacak semua warga yang sempat kontak dengan seorang pasien positif corona asal Grobogan, berinisial S.

Pasalnya dari kronologi dan riwayatnya, pasien perempuan berusia paruh baya itu diketahui sempat terlacak keluyuran ke beberapa lokasi dan sampai ke luar negeri.

Tak hanya itu, warga yang terlacak sempat kontak dengan pasien positif iru nantinya juga harus melakukan tes rapid untuk mengetahui statusnya.

“Iya, kami sudah ke pihak dinas, Puskesmas dan kecamatan minta dilakukan tracing atau pelacakan. Siapa-siapa warga di jagongan di Tanon yang sempat kontak dengan pasien itu. Lalu dokternya yang sempat dijadikan tempat periksa, juga akan kami lacak,” papar Sekda Sragen, Tatag Prabawanto, kepada JOGLOSEMARNEWS.COM , Sabtu (11/4/2020).

Tatag menguraikan semua warga dan dokter yang kontak, nantinya harus dilakukan pemeriksaan. Bahkan mereka diwajibkan untuk mengikuti rapid test untuk mengantisipasi apakah mereka juga ikut terpapar atau tidak.

“Ini sebagai antisipasi jangan sampai terjadi penyebaran dan menular di Sragen,” terangnya.

Data yang dihimpun JOGLOSEMARNEWS.COM , Sabtu (11/4/2020), dari riwayat kontak dan perjalanannya, pasien itu terlacak sempat njagong di Gabugan, Tanon pada 14 Maret 2020 dan periksa di salah satu dokter Sragen di perbatasan Sragen-Grobogan.

Baca Juga :  Mohon Perhatian, Warga Sragen yang Ada di Jakarta Sementara Jangan Pulang Dulu. Bupati dan Gubernur Ganjar Minta Warga Dukung Pelaksanaan PSBB!

Kemudian, sempat rawat inap di sebuah klinik di perbatasan Sragen-Grobogan pada 22 Maret sebelum dirujuk ke RSUD Purwodadi dua hari kemudian.

Seperti diberitakan, seorang pasien positif corona atau covid-19 di Grobogan, bikin geger setelah terbongkar nekat membohongi petugas kesehatan yang merawatnya.

Celakanya sejak berstatus positif, ia ditangani 76 tim medis dan sempat keluyuran ke Sragen dan ke beberapa wilayah.

Saat ini, sebanyak 76 pekerja RSUD dr Soedjati Soemodiardjo, Purwodadi, Grobogan, dijadwalkan akan segera jalani rapid test.

Rupanya, pasien asal Desa Bangsri tersebut tidak jujur saat dimintai keterangan.

Hal itu disampaikan oleh Wakil Direktur RSUD dr Soedjati Soemodiardjo Purwodadi, Titik Wahyuningsih.

Pasien tersebut  mengaku tidak pernah pergi ke luar negeri. Dia juga mengaku tak pernah berkunjung ke daerah yang statusnya zona merah Covid-19.

Dari keterangan inilah, pasien tersebut selanjutnya dirawat di salah satu kamar perawatan yang ada di bangsal Aster.

Selama dirawat, pasien berusia 47 tahun itu juga ditangani dokter spesialis penyakit dalam. Kemudian kondisinya juga diobservasi lebih lanjut oleh dokter spesialis paru.

Dari pemeriksaan dokter spesialis ini, kondisi pasien ada pneumonia.
Ternyata yang bersangkutan sempat ke luar negeri dan main ke Yogyakarta.

“Setelah ditanya lebih lanjut akhirnya pada 30 Maret, pasien baru mengaku kalau pulang dari luar negeri. Dia juga sempat main ke Jogja. Setelah menyampaikan keterangan itu, pasien kemudian dipindahkan ke ruang isolasi. Setelah sehat, pasien itu diperbolehkan pulang pada 2 April. Selanjutnya diminta isolasi mandiri di rumah,” ungkap Titik, Jumat (10/4/2020).

Pasien ini sempat diambil sampel lendirnya untuk diuji di laboratorium di Yogyakarta.

Ternyata hasil uji swab menyatakan kalau pasien itu positif Covid-19.

“Ada 76 orang yang sempat kontak langsung dengan pasien itu mulai tanggal 24 sampai 30 Maret. Mereka ini akan kita rapid test. Di antaranya petugas pendaftaran, IGD, dokter, perawat, hingga tenaga kebersihan,” ungkap Titik. Wardoyo