JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Hujan Air Mata, Bidan Sembuh dari Covid-19 asal Jambanan Sragen Disambut Bak Pahlawan. Mayoritas Warga Menangis Beri Sambutan di Sepanjang Jalan, Bu Bidan Langsung Sujud Syukur di Depan Pintu Rumah

Dari atas, Bidan S asal Jambanan Sidoharjo Sragen yang sembuh dari covid-19 saat melakukan sujud syukur setiba di depan rumahnya. Foto bawah, warga menyambut antusias kepulangan Bidan S. Foto/Wardoyo
Madu Borneo
Madu Borneo
Madu Borneo

Dari atas, Bidan S asal Jambanan Sidoharjo Sragen yang sembuh dari covid-19 saat melakukan sujud syukur setiba di depan rumahnya. Foto bawah, warga menyambut antusias kepulangan Bidan S. Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Suasana Desa Jambanan, Kecamatan Sidoharjo Sragen, Jumat (22/5/2020) pagi mendadak berubah menjadi riuh.

Tak seperti biasanya, pagi ini jalan-jalan di kampung itu dipenuhi oleh deretan warga yang berdiri di tepi jalan. Deretan warga makin banyak memadati jalan menuju rumah Bidan S (47), yang berdomisili di Dukuh Kwayon, Desa Jambanan, Sidoharjo, Sragen.

Ada yang membawa bendera kuning hijau, namun sebagian besar membawa poster bertuliskan sambutan untuk Bidan S.

Rupanya, pagi tadi warga sengaja menyempatkan waktu untuk menyambut kepulangan S yang dinyatakan sudah sembuh dari covid-19.

Ungkapan sukacita warga pun dituangkan dalam beragam tulisan di poster. Mulai dari “Selamat Datang Pahlawan”, “Neng Pantuk Bali Ngetan Bu Bidan Mantuk Pancen Mari Tenan” “Jangan Ada Diskriminasi di Antara Kita”, “Selamat Datang Bu Warti” dan puluhan tulisan dukungan lainnya yang ditulis dalam kertas dan dipampangkan oleh masing-masing warga.

Ratusan warga itu dengan sabar menantikan kedatangan ambulans Puskesmas Sidoharjo yang dikabarkan bakal mengantarkan bu bidan itu kembali pulang ke rumah.

Setelah dilepas dari Teknopark Sragen, Bidan S kemudian diantar ke Puskesmas Sidoharjo, tempat ia bertugas.

Sambutan hangat, linangan air mata hingga dukungan moril dan semangat dilontarkan rekan sejawat di Puskesmas itu.

Tepat pukul 09.30 WIB, mobil ambulans Puskesmas yang membawa Bidan S kemudian bertolak dari Puskesmas menuju kediamannya.

Momen mengharukan pun tercipta. Memasuki batas desa Jambanan yakni di perempatan Pasar Jambanan, S pun kaget melihat warga sudah berdiri di sepanjang jalan seraya menyebut namanya.

Bidan paruh baya itu pun langsung membuka kaca jendela mobil ambulans dan kemudian melambaikan tangannya. Tangisnya pun pecah ketika melihat warga dengan antusias mendekat dan memberi semangat kepadanya.

Di belakang ambulans, para pemuda karang taruna dan warga ikut mengawal penuh sukacita. Melihat deretan warga memyambut, ambulans pun berjalan melambat.

Baca Juga :  Banyak Petani Tak Masuk Data, KTNA Sragen Curiga RDKK Hanya Copy Paste dari Tahun ke Tahun. Siap-Siap, Besok Dewan Bakal Panggil BRI, Distributor dan Produsen!

Air mata Bidan S seolah tak henti acapkali melihat warga menyebut namanya dan melambaikan tangan. Sesekali ia menyeka air matanya dan tertunduk tanda tak kuasa menahan haru.

“Bu Warti,”” ujar salah satu nenek yang kemudian menangis terisak-isak saat melambaikan tangan ke arah Bidan S.

Sesampai di depan rumah, lantunan salawat menyambut kedatangan bersama ratusan warga. Begitu menginjakkan kaki di depan gerbang, tangis S makin menjadi.

Spontan ia langsung bersujud di depan pintu gerbang. Warga dan kerabat di sekelilingnya juga ikut larut dalam tangisan. Bahkan Kades Jambanan, Sugino dan anggota DPRD Fathurrohman yang ikut hadir, tak kuasa menitikkan air mata melihat momen haru itu.

Kades Sugino mengaku terharu atas animo warganya yang spontan tergerak menyambut kepulangan Bidan S. Ia menuturkan sambutan dan dukungan warga atas kesembuhan Bidan S diharapkan bisa menjadi suntikan moril yang bersangkutan untuk kembali menatap kehidupan secara normal seperti sedia kala.

“Saya sampai ikut mbrebes tadi. Karena memang warga sudah merindukan kesembuhan dan kepulangan Bu Bidan. Sampai-sampai mereka tiap hari tanya ke saya, Pak kapan Bu Bidan Pulang, kapan Pak. Saya sampai nggak bisa njawab. Alhamdulillah tadi malam suami beliau memberi info kalau besok boleh pulang. Spontan saya sampaikan ke karang taruna dan hari ini antuasias warga luar biasa menyambut,” terangnya.

Kades menguraikan apa yang dilakukan warga itu diharapkan bisa menjadi pembelajaran bagi semua masyarakat di Sragen maupun Indonesia. Bahwa pasien covid-19 yang sudah sembuh harus selayaknya diterima kembali bermasyarakat.

Jangan sampai dibully, dijauhi, apalagi dikucilkan. Terlebih, tenaga medis seperti Bidan S yang selama ini banyak diandalkan warga untuk mendapat pelayanan kesehatan.

Baca Juga :  Tambah 11 Warga Positif dan 1 Meninggal, Kasus Covid-19 Sragen Melaju Jadi 1.120. Ada 1084 Warga Kontak Erat, Total Sudah 111 Warga Meninggal Dunia

“Apalagi bu bidan ini tenaga medis, seorang pejuang kesehatan. Maka jangan sampai dikucilkan. Kalau melihat di beberapa daerah ada yang kena covid-19 masyarakat langsung antipati, rumahnya ditutup rapat, mendekat saja tidak mau. Tapi Alhamdulillah hari ini bukti bahwa warga kami tidak demikian, justru memberi support Bu Bidan,” tandasnya.

Angin Segar di Tengah Terserah

Legislator asal PKB Sragen, Fathurrohman mengapresiasi antusiasme warga Jambanan yang spontan memberi penyambutan luar biasa terhadap Bidan S.

Menurutnya hal itu merupakan angin positif di tengah kondisi Indonesia saat ini yang belakangan sedikit terusik dengan bahasa terserah dari banyak orang dan tenaga medis terkait covid-19.

“Hari ini pembelajaran berharga bahwa salah satu tenaga medis sudah sembuh, warga memberikan semangat luar biasa kepadanya untuk menghadapi hidup normal kembali. Kami berharap ini jadi contoh bagi siapapun masyarakat yang mungkin jadi korban kena virus, mereka harus diterima dengan semangat gotong royong,” ujarnya.

Ia berharap kesembuhan tenaga medis di Jambanan dan dukungan besar masyarakat, bisa menjadi motivasi bagi tenaga medis lain untuk tetap semangat bertugas menjalankan misi menangani covid-19.

Virus Berbahaya

Sementara, Bidan S mengaku terharu dan tak menyangka sambutan warganya begitu antusias. Ia berharap apa yang dialaminya bisa menjadi pembelajaran kepada masyarakat untuk tetap menaati anjuran pemerintah dan protokol kesehatan agar terhindar dari covid-19.

“Karena virus ini sangat berbahaya. Saya sendiri tidak menyangka bisa positif karena saya nggak merasakan gejala apa-apa tapi pas dirontgen ada flek dan peradangan di paru-paru saya. Berarti virus itu sudah masuk meskipun saya tidak merasakan. Alhamdulillah saya sangat bersyukur masih diberi kesempatan untuk sehat, terimakasih warga sudah sangat peduli dan perhatian kepada kami,” tandasnya sembari menyeka air mata. Wardoyo