JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Kisah Haru Perjuangan Perangkat Desa di Sribit Sragen Hadapi Cobaan Covid-19 Hingga Sembuh dengan Swab Negatif (Bagian 1). Masih Bingung Tertular dari Mana, Sempat Syok dan Berfikir Hidupnya Tinggal 14 Hari!

Kadus Sribit, Ketut Sujarwo (35) yang sempat dinyatakan reaktif hasil rapid testnya sebelum kemudian sembuh dan swab negatif saat ditemui di kediamannya, Sabtu (16/5/2020). Foto/Wardoyo
Kadus Sribit, Ketut Sujarwo (35) yang sempat dinyatakan reaktif hasil rapid testnya sebelum kemudian sembuh dan swab negatif saat ditemui di kediamannya, Sabtu (16/5/2020). Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Wabah covid-19 atau corona virus barangkali akan menjadi catatan berharga dalam perjalanan hidup Ketut Sujarwo (35).

Pria muda yang berprofesi sebagai kepala dusun (Kadus) di Desa Sribit, Kecamatan Sidoharjo, Sragen itu harus melewati masa kelam ketika fakta menunjukkan dirinya reaktif alias positif covid-19 saat dirapid test.

Meski tidak dinyatakan positif covid-19, hasil rapid test reaktif itu ternyata sudah cukup membuatnya harus berjuang menghadapi cobaan yang sangat berat.

Ditemui di kediamannya di Dukuh Tambak RT 12, Desa Sribit, Kecamatan Sidoharjo, Sabtu (15/5/2020), Ketut menyambut dengan wajah mulai ceria.

Didampingi sang istri, Yeni Handayani (27), Kadus muda itu menyapa dengan mengenakan masker serta tetap menjaga jarak.

Belum sempat diwawancara, ia sudah menumpahkan kelegaannya setelah mendapat informasi dan berita bahwa hasil swabnya dinyatakan negatif.

“Alhamdulillah. Akhirnya lega Mas saya sudah dinyatakan negatif,” papar Ketut sumringah.

Ia pun menceritakan cobaannya bermula ketika ada satu warga di wilayah kebayanannya, berinisial A (48) di Dukuh Newung yang dinyatakan positif saat dirapid test covid-19 pada 17 April lalu.

Karena harus karantina mandiri, ia sebagai pemangku wilayah kebayanan di situ, kemudian bersama bidan desa berinisiatif menyambangi A dan memberi saran untuk melakukan karantina.

Saat datang, dirinya dan bidan juga mengenakan APD lengkap serta menerapkan jaga jarak.

Baca Juga :  Mengaku Sempat Tersiksa, Keluarga Ketua RT di Buran Karanganyar Yang Positif Covid-19 Akhirnya Bisa Bernafas Lega Usai Hasil Tes Swab Negatif. Langsung Siapkan Syukuran Setelah Operasi Patah Tulang Selesai

“Lalu tanggal 20 April, kami datang lagi menyerahkan bantuan sembako untuk warga kami itu sebagai bekal karantina mandiri. Protokol kesehatan tetap saya lakukan,” urainya.

Baru beberapa hari karantina mandiri, kondisi A kemudian menurun dan dirujuk ke RSUD Moewardi Solo.

Hingga kabar tak pernah dinyana pun datang tanggal 27 April 2020 ketika Pemkab mengumumkan hasil swab test A dinyatakan positif terinfeksi covid-19.

Seisi desa kala itu langsung gempar. Dua hari berselang, tim medis DKK Sragen langsung bergerak melakukan tracking untuk melacak riwayat kontak A dengan warga.

Hasilnya ada 21 orang yang terlacak punya riwayat kontak dan harus menjalani rapid test. Dari 21 nama itu, Ketut termasuk salah satunya, selebihnya adalah tetangga dekat dan anggota keluarga A maupun anak kandungnya.

“Waktu itu saya juga koordinir tetangga untuk jujur dan terbuka siapa yang pernah kontak. Saya sendiri juga ikut rapid test. Tujuannya hanya satu agar apabila ada yang terjangkit atau terpapar virus supaya bisa cepat terdeteksi. Bisa cepat disembuhkan dan tidak menulari masyarakat,” terangnya.

Tanggal 29 April, Ketut dan 20 orang dirapid test. Seingatnya kondisinya sejak awal hingga rapid test, sehat-sehat saja. Dia pun menjalani rapid test dengan biasa pula.

Baca Juga :  Tambah Lagi 2 Warga Positif, Jumlah Kasus Covid-19 Sragen Terus Meroket Jadi 469. Satu Orang Baru Pulang dari Boyolali, Satunya Tertular dari Sukodono, Total 65 Sudah Warga Meninggal Dunia

Sebelum akhirnya cobaan berat menghampiri ketika sehari berselang dirinya menerima kabar ada 5 dari 21 warga yang rapid testnya reaktif. Dan satu diantaranya adalah namanya.

Bak disambar petir, saat itu Ketut mengaku langsung down dan seolah tak percaya. Perasaannya hancur, hatinya berkecamuk dan dilanda keresahan luar biasa.

“Waktu itu saya dan keluarga langsung syok berat dan kaget semua. Kok bisa saya reaktif padahal saya nggak kontak dengan pasien A itu. Datang ke rumahnya pun kami hanya di teras dan tidak masuk. Saya bingung terus terang saat itu nggak bisa berfikir. Sampai-sampai saya berfikir, Ya Allah apakah hidup saya tinggal 14 hari lagi,” ujarnya.

Tak hanya Ketut, sang istri juga mengaku sempat syok dan tak percaya dengan fakta suaminya reaktif rapid test. Dia saat itu langsung menangis.

“Tapi ya sudah, akhirnya kami semua pasrahkan sama Yang Maha Kuasa. Waktu itu saya hanya bisa nangis. Kami harus bagaimana, bingung Mas,” tuturnya.

Meski masih misteri tertular darimana, hasil reaktif itu membuat Ketut harus menerima kenyataan untuk menjalani karantina mandiri di rumah selama 14 hari.

Selama 14 hari itulah, dirinya merasakan seolah menghadapi cobaan terberat dalam hidupnya. (Bersambung…)