Skenario perbaikan ekonomi pasca pandemik disiapkan oleh pemerintah. Salah satu fokus utama adalah mengembangkan produksi baterai lithium untuk electric vechile (EV) menggunakan raw material Indonesia yang kaya akan nikel sebagai bahan dasar utama. Bagaimana pengaruhnya ke saham nikel?
Referensi INCO
Kami mereferensikan pembelian INCO untuk swing trading dengan pembelian maksimal di 2950 sebanyak maksimal 5% dari modal swing trading. Jual jika harga turun dari 2780 untuk pembatasan risiko dengan perkiraan profit taking di kisaran 3200-3300.
Peluang Besar Indonesia Sebagai Produsen Baterai Lithium
Indonesia memiliki visi sebagai produsen pengembang baterai lithium untuk electric vechile (EV) pada tahun 2024. Hal ini menjadi potensi bagi penambang nikel Indonesia, pasalnya sekitar 40% dari biaya produksi mobil listrik dihabiskan untuk baterai. Bahan baku utama pembuatan baterai ini adalah nikel dan kobalt.
Indonesia sendiri memiliki 32.7% cadangan nikel seluruh dunia yang notabene merupakan bahan dasar baterai tersebut. Untuk mencapai visi ini, pemerintah pada awal tahun 2020 ini mempercepat penutupan pintu keluar ekspor bijih nikel berkadar rendah dari rencana 2022.
Selain itu, pemerintah akan membuka investasi bagi negara-negara lain dalam rangka membangun smelter-smelter untuk integrasi hulu ke hilir.
Menurut Koordinator Menko Kemaritiman dan Investasi, Filipina yang memiliki cadangan nikel kedua setelah Indonesia, diprediksi cadangan tersebut akan habis dalam dua tahun ke depan.
Sehingga, Indonesia akan menjadi pilihan utama bagi negara-negara yang berinvestasi di sektor pengembangan baterai lithium. (*)
Ellen May
Pakar Saham Indonesia