JOGLOSEMARNEWS.COM Market

Pakar Ekonomi Kreatif UNS: Pelaku Bisnis Harus Ubah Orientasi Usahanya pada Perilaku Konsumen Agar Bertahan di Tengah Covid-19

Ilustrasi new normal. Pixabay/iXimus
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
Ilustrasi new normal. Pixabay/iXimus

 

Ahmad Adib, Ph.D
Pakar Ekonomi Kreatif UNS

SOLO, JOGLOSEMARNEWS.COM –Para pelaku ekonomi kreatif harus menyesuaikan dengan situasi dan kondisi saat ini terkait perubahan konsumen akibat hadirnya wabah Covid-19. Pelaku ekonomi kreatif agar mengorientasikan usaha atau bisnisnya berdasar perubahan (consumer behaviour).

Demikian disampaikan pakar ekonomi kreatif dari Universitas Sebelas Maret (UNS), Ahmad Adib, Ph.D. Perilaku konsumen yang dia maksud adalah mengubah orientasi usaha pada pemenuhan kebutuhan primer konsumen.

Ahmad Adib yang juga sebagai Dewan Penasehat Solo Creative City Network (SCCN) itu mengungkapkan, sejumlah sektor ekonomi yang akan terkena dampak langsung pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19).

“Sektor tersebut yaitu bisnis yang tidak berorientasi pada kebutuhan primer dan bisnis apapun yang melibatkan banyak orang, seperti pariwisata, hotel, transportasi, cafe, event organizer, exhibition, kompetisi, liga, konser musik, kecuali diubah menjadi daring,” ungkapnya.

Hal tersebut disampaikannya bukan tanpa alasan, sebab pandemi  Covid-19 telah merubah pola konsumsi, selera, dan daya beli masyarakat yang semula membeli barang berdasar keinginan menjadi berdasar kebutuhan, dari non-esensial ke esensial, dari emosional (gaya hidup) ke rasional (manfaat).

Baca Juga :  Festival Inovasi Disrupto Kembali Digelar secara Virtual, Kali Ini Juga Hadirkan Penemuan Tekstil dari Limbah Tempe Asal Yogyakarta

Namun, ada juga prospek usaha yang menjanjikan ditengah pandemi Covid-19, seperti kebutuhan pokok, kesehatan (obat, vitamin, jamu dan alat olahraga), makanan beku, layanan antar makanan, hardware-software komunikasi, pendidikan, dan pelatihan daring.

“Para pemain pada bidang ekonomi/ industri kreatif harusnya tetap bisa berkelit disaat Covid-19. Justru disaat krisis ini harusnya berpikir dan mengerjakan sesuatu yang saat normal tak terpikirkan dan tak terkerjakan. Yang terpenting harus berorientasi pada perubahan perilaku konsumen, tingkatkan kualitas manajerial dan maksimalkan marketing communication,” ujar Ahmad Adib, Ph. D yang juga sebagai pendiri Lestude Creative Start Up Center.

Dia menyarankan agar pelaku ekonomi industri kreatif baru maupun lama, membekali pengetahuan manajerial terutama untuk start up, business plan, visual branding, dan marketing communication. Baginya hal tersebut sangat diperlukan dan menjadi tantangan serta peluang bagi pelaku ekonomi industri kreatif.

Baca Juga :  Festival Inovasi Disrupto Kembali Digelar secara Virtual, Kali Ini Juga Hadirkan Penemuan Tekstil dari Limbah Tempe Asal Yogyakarta

Ahmad Adib yang juga memiliki banyak usaha kecil di bidang kreatif ini melihat pelaku ekonomi kreatif tidak dapat bergerak sendiri. Mereka harus bekerja sama dengan sesama pengusaha, koperasi, asosiasi dan lembaga keuangan.

Peran pemerintah juga dinilai Ahmad Adib, sangat diperlukan untuk menyiapkan ekonomi/ industri kreatif dalam menghadapi kenormalan baru. Selain memberikan modal berupa uang, pemerintah disarankan juga membekali modal berupa mindset, ilmu, konsep, strategi, hard skill, dan soft skill untuk menjadi entrepreneur sukses.

“Sehingga target pemerintah tidak hanya mengeluarkan dana berapa dan untuk berapa orang, tapi keberhasilan dan perkembangan usahannya untuk keberlanjutan sebagai keluarga mandiri secara ekonomi. Sebenarnya situasi industri kreatif di Indonesia sudah mulai baik dan berkembang apalagi di era Jokowi bidang ekonomi dan industri kreatif diberi ruang tersendiri. Paling tidak masyarakat terutama generasi milenial di Indonesia mulai paham dan ikut berperan,” ujarnya.(Prihatsari)