JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Semarang

Perangi Corona dengan Pendekatan Historis, Hendi Belajar Sejarah Wabah Kolera

Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi saat didapuk sebagai salah satu pembicara Webinar Bulan Bung Karno 2020 yang diselenggarakan oleh DPP PDI Perjuangan pada Selasa (9/6/2020) siang tadi. Istimewa
Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi saat didapuk sebagai salah satu pembicara Webinar Bulan Bung Karno 2020 yang diselenggarakan oleh DPP PDI Perjuangan pada Selasa (9/6/2020) siang tadi. Istimewa

SEMARANG, JOGLOSEMARNEWS.COM – Korban jiwa pada perang tak hanya disebabkan oleh peluru atau bom, tetapi juga wabah (pandemi) penyakit yang mematikan. Dulu, pandemic kolera dianggap berbahaya karena mampu menyebar dengan mudah dan menyebabkan kematian.

Dalam menghadapi pandemi virus corona seperti saat ini, Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi, menyampaikan, sebelum terjadinya pandemi virus corona (Covid-19) seperti saat ini, dunia juga pernah dilanda krisis akibat persebaran pandemi lain, seperti kolera.

“Jika menggunakan pendekatan historis, memandang kasus Covid-19 dapat juga dilakukan dengan merujuk sejarah pandemi kolera yang ada pada tahun 1821 di Kota Semarang,” ungkap Hendi sapaan akrab orang nomor satu di Kota Semarang saat didapuk sebagai salah satu pembicara Webinar Bulan Bung Karno 2020 yang diselenggarakan oleh DPP PDI Perjuangan pada Selasa (9/6/2020) siang ini.

“Pandemi kolera pada tahun 1821 mengakibatkan 1.225 warga Kota Semarang meninggal hanya dalam waktu 11 hari saja,” sambung dia.

Baca Juga :  Tenaga Medis di Blora Berduka, Kepala Puskesmas Cepu Meninggal Akibat Terinfeksi Covid-19

Hendi melanjutkan, kasus pandemi kolera kemudian meluas ke berbagai daerah di pulau Jawa, dan kemudian menjadi salah satu pemicu terjadinya Perang Jawa, atau Perang Diponegoro.

Hendi menyebutkan, pada saat terjadi kolera melanda, masyarakat yang berada dalam masa sulit karena tekanan wabah, harus terbebani juga oleh sistem pajak yang dibuat oleh pemerintah kolonial, untuk meningkatkan pemasukan yang turun. Alhasil timbul pemberontakan, yang dimulai dari perlawanan Pangeran Diponegoro untuk membatalkan pajak puwasa.

Catatan – catatan sejarah tersebut kemudian dirujuk oleh Hendi, yang kemudian menghasilakan sejumlah kebijakan keringanan pajak dan retribusi di Kota Semarang. Dia menegaskan, meski pendapatan asli daerah Pemerintah Kota Semarang menurun drastis, namun nilai – nilai keadilan sosial tetap harus dikedepankan.

Maka dari itu Wali Kota Semarang yang juga Ketua PDI Perjuangan Kota Semarang itu menegaskan jika dalam penanangan kasus corona, Pemerintah Kota Semarang selalu menimbang dari dua sisi, yaitu medis dan ekonomi.

Baca Juga :  Bawaslu Jateng Minta Semua Elemen Taat Protokol Kesehatan Selama Rangkaian Pilkada

“Bantuan sosial didistribusi, retribusi PKL dan Rusunawa kita gratiskan, retribusi pasar diskon 50%, tarif PDAM diskon 20% semua golongan, PBB diskon sampai 15%, dan pajak pendapatan juga kita beri penundaan pembayaran,” terang Hendi.

“Kemungkinan New Normal yang nanti akan berjalan di bangsa kita, juga sebenarnya sama dengan PKM yang saat ini sudah berjalan di Kota Semarang sampai jilid 3. Artinya Kota Semarang sudah persiapkan lebih awal, dan kelonggarannya dilakukan bertahap,” tekannya.

Dalam Webinar Bulan Bung Karno 2020 tersebut, selain Hendi, hadir pula sejumlah tokoh berbicara, antara lain Sekjen DPP PDIP Hasto Kristiyanto, Ketua DPP PDIP Bidang Kaderisasi dan Ideologi Djarot Saiful Hidayat, Pemimpin Redaksi Historia Bonnie Triyana, Sekum PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti, serta Sekjen Transparency International Indonesia Danang Widoyoko. Mengangkat tema ‘Pancasila dan Keadilan Sosial’ lebih dari 500 peserta tersambung secara langsung dengan metode Daring untuk mengikuti webinar tersebut. Satria Utama