JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Tak Hanya Disekap Sampai Pingsan, Surani TKW Asal Sragen Juga Sering Dilempar Pisau dan Perabot. Kerabat: Seperti Mau Dibuat Mati Pelan-Pelan!

Purwanto, adik kandung Surani, TKW asal Mojorejo, saat menunjukkan kondisi kakaknya yang terbaring sakit karena sering disiksa dan disekap majikannya di Arab Saudi. Foto/Wardoyo
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
Purwanto, adik kandung Surani, TKW asal Mojorejo, saat menunjukkan kondisi kakaknya yang terbaring sakit karena sering disiksa dan disekap majikannya di Arab Saudi. Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Kisah pilu Surani (45), tenaga kerja wanita (TKW) asal Dukuh Ngembat, RT 21/10, Desa Mojorejo, Kabupaten Sragen yang mendapat perlakuan kejam dari majikannya di Arab Saudi, terus terkuak.

Berdasarkan keterangan pihak keluarga, TKW yang sudah 18 tahun bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Arab Saudi itu, kerap mendapat perlakuan tak manusiawi dari majikannya.

Hal itu diungkapkan adik dan kakak kandungnya, Purwanto (42) dan Wardiyanto (51) yang selama ini sering berkomunikasi dengan Surani via telepon.

Ditemui di rumahnya, Selasa (30/6/2020), Wardiyanto (51), kakak Surani menyampaikan majikan Surani memang tidak pernah memukul atau memberi hukuman fisik kepada adiknya.

Namun, majikan memperlakukan adiknya itu secara tidak manusiawi. Tak hanya disekap di kamar dikunci tanpa diberi makan, adiknya juga sering dicederai dengan alat yang ada.

Wardi menduga, majikan Surani memang sengaja membuat Surani sakit, tanpa menyakiti secara fisik. Semua itu ia ketahui dari keluh kesah adiknya yang mengabarkan via WA.

“Pernah melempar pisau atau perabotan, tapi tidak sampai kena. Seperti mau dibuat mati pelan-pelan. Pernah sekali adik saya sampai pingsan di dalam kamar baru ditolong. Perlakuan ini semakin parah saat Surani minta pulang,” ujar Wardiyanto kepada JOGLOSEMARNEWS.COM .

Perlakuan sadis yang diterima Surani ini membuat fisiknya semakin lemah. Bahkan bobot Surani makin menyusut karena jarang mendapatkan makanan.

Baca Juga :  Polisi Amankan Puluhan Motor Milik Pelaku Perusakan Tugu 3 Tugu PSHT Sragen. Kapolres Sebut Masih Mendata Pelaku, Minta Semua Menahan Diri!

“Bobot turun drastis, nggak tahu turun berapa kilo, tapi dari fotonya terlihat sekali bobotnya susut banyak,” urainya.

Sementara, adik kandung Surani,
Purwanto menguraikan kakaknya itu berangkat ke Arab Saudi sejak tahun 1999. Sempat pulang tahun 2002, kemudian berangkat kembali lewat PJTKI di Jakarta.

Awalnya Surani mendapat majikan nenek yang sangat baik. Dia merasa betah bekerja di majikannya itu selama hampir 14 tahun hingga tak pernah kepikiran untuk pulang.

Sampai akhirnya, si nenek itu meninggal dunia 4 tahun lalu. Kepergian majikannya itu menjadi awal petaka bagi Surani.

Karena majikannya meninggal, oleh agen yang mempekerjannya di Arab Saudi, dia kemudian diberi pilihan untuk beralih menjadi pembantu di antara kedua anak dari majikan lamannya.

Dua anak mantan majikannya itu laki-laki dan perempuan. Purwanto menuturkan, saat itu Surani memilih bekerja di anak majikan yang perempuan.

Tak disangka, ternyata tabiat majikan perempuannya itu jauh berbeda 180 derajat dengan orangtua yang pernah diasuhnya.

Selama 4 tahun, Surani menerima perlakuan tak manusiawi.

“Namun tahun 2016 majikannya meninggal, Surani kemudian ikut bekerja di salah satu anak majikannya tersebut. Sejak saat itu kondisinya sudah berubah,” ujar Purwanto.

Baca Juga :  Bupati Sragen Belum Berani Jamin Sekolah-Sekolah Bisa Buka Kembali 13 Juli 2020. Ini Masalahnya!

Puncaknya dalam tiga bulan terakhir, Surani mulai mendapatkan perlakuan tidak mengenakkan dari majikan barunya.

Berdasarkan pengakuan Surani kepada Purwanto via WA, majikan barunya sering memarahi Surani tanpa alasan yang logis.

Surani sering dimarahi tanpa sebab dan jadi pelampiasan jika merasa kesal Bahkan majikan perempuan itu kerap mengurung Surani di kamar.

“Kalau dia marah, Surani dikurung di kamar dan dikunci dari luar. Biasanya sampai 2 malam satu hari tanpa dikasih makan. Kakak saya sering cerita, dia sering hanya bertahan dengan minum air di bak mandi dalam kamar, karena tidak diberi air minum sama sekali,” kata Purwanto.

Purwanto kemudian menceritakan, Surani hanya diperbolehkan keluar saat majikannya memintanya untuk bekerja.

Saat itu, ia dibebaskan untuk memasak ataupun membersihkan rumah. Namun setelah selesai, Surani kembali disekap di dalam kamar.

“Memasak pun ditungguin majikannya. Setelah selesai dikunci lagi di kamar. Kakak saya sering cerita bertahan hidup di kamar hanya selama dua hari dengan sepotong roti, pernah juga hanya makan garam dan minum air bak mandi,” terangnya. Wardoyo