JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Tak Hanya PSHT, Ketua Pagar Nusa Sragen Juga Tolak Perobohan dan Pembongkaran Semua Tugu Perguruan. Punya 100 Lebih Tugu, Mengaku Tak Bisa Bayangkan Dampaknya Jika Sampai Terjadi Perobohan!

Komandan Inti Pagar Nusa Sragen, Moh Ihwan Tasykuri MPD saat memberikan pengarahan pada warga baru Pagar Nusa yang disahkan tadi malam. Foto/Wardoyo
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
Komandan Inti Pagar Nusa Sragen, Moh Ihwan Tasykuri MPD saat memberikan pengarahan pada warga baru Pagar Nusa yang disahkan tadi malam. Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Sikap penolakan perobohan tugu perguruan silat ternyata tidak hanya datang dari arus bawah warga Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) saja.

Warga perguruan silat Pagar Nusa Sragen pun juga menyatakan tegas menolak wacana perobohan tugu yang bergulir atas nama kesepakatan perwakilan perguruan silat saat rapat dengan Forkompida akhir pekan lalu.

Sikap penolakan itu disampaikan langsung Ketua Pengurus Cabang Pagar Nusa Kabupaten Sragen, Muh Ihwan Tasykuri, Senin (29/6/2020).

Kepada wartawan, ia menegaskan pihaknya menolak keras instruksi perobohan semua perguruan silat yang ada di Sragen.

Sebab menurutnya, pihaknya dalam hal ini, Pagar Nusa tidak dilibatkan dalam pembicaraan awal bersama Forum Pimpinan Kepala Daerah (Forkompimda) yang kemudian diklaim menyepakati perobohan semua tugu perguruan silat.

Lebih dari itu, menurutnya, tugu perguruan dibangun sebagai wujud simbol dan lambang kebesaran perguruan. Terlebih, selama ini, Pagar Nusa dalam mendirikan tugu selalu didasari izin terlebih dahulu.

”Makanya kami menolak statement untuk merobohkan semua tugu perguruan silat di Sragen. Alasannya itu simbol yang sama dengan bendera. Itu simbol kebanggaan kita, walaupun di kabupaten Sragen kita tidak pernah punya masalah. Makanya kalau semua tugu dirobohokan, kita dirugikan. Nggak pernah ada masalah tapi ikut jadi imbasnya,” paparnya.

Baca Juga :  Kabar Duka Sragen, Satu Warga Sambirejo Meninggal dengan Status PDP Corona. Jadi Korban Meninggal ke-24, Sempat Dirawat di RSUD Sragen

Ihwan menguraikan selama berdiri di Sragen Pagar Nusa tidak pernah berkonflik. Bahkan selama ini, perguruannya selalu bersinergi dan siap menjaga kondusivitas wilayah Sragen, bersama Polri dan TNI.

Dengan kondisi itu, ia memandang sangat tak bijak dan adil, ketika perguruan yang relatif tanpa masalah, tapi tiba-tiba ikut kena imbas perobohan.

Ihwan menyebut di Sragen, tugu Pagar Nusa relatif banyak. Menurutnya hampir di setiap ranting atau kecamatan, perguruannya memiliki 5 sampai 10 tugu.

Sehingga jika ditotal, ada lebih dari 100 tugu Pagar Nusa yang berdiri di wilayah Sragen.

Terkait alasan tugu dianggap pemicu aksi perusakan hingga konflik antar perguruan, Ihwan mengaku tak sependapat.

Ia justru memandang untuk menekan potensi bentrok antar perguruan, semestinya dari stakeholder harus memfasilitasi atau memediasi jika ada konflik.

Kemudian jika ada aksi pengrusakan yang dilakukan oleh oknum, maka perguruan yang bersangkutan harus melakukan pembinaan. Dan jika sudah mengarah hukum, maka harus legawa menyerahkan ke proses hukum.

“Kami yakin, pada dasarnya semua perguruan mengajarkan kebaikan. Karenanya setiap perguruan harus menegakkan aturan. Jika ada oknum yang melanggar harus dibina oleh perguruan, jika melanggar hukum diserahkan pada pihak berwajib,” terangnya.

Baca Juga :  Beredar Pengakuan Salah Satu Pelaku Perusakan Tugu PSHT di Sragen. Sebut Seseorang Berinisial Pak W Yang Menyuruh Melakukan Perusakan

Ia juga menyarankan agar antar perguruan perlu sering melakukan pertemuan silaturahmi yang difasilitasi oleh pemerintah kabupaten, Kepolisian atau TNI.

Misalnya bisa dikemas dengan bentuk kejuaraan atau turnamen. Dalam event tersebut akan terjalin komunikasi dan rasa silaturahmi antar perguruan.

”Dengan begitu, konsentrasi fokus pada kejuaraan, bukan masalah di luar,” ujarnya.

Pihaknya menegaskan meski tidak pernah berkonflik, namun Pagar Nusa juga tergerak untuk peduli dengan masalah ini.

Perlu mengumpulkan semua pimpinan perguruan untuk nota kesepakatan bersama menjaga kondusivitas wilayah Sragen.

”Jadi jangan tugunya, yang melakukan oknum kok,” tandasnya.

Setelah ada nota kesepakatan bersama, harus ada komitmen dari perguruan untuk membina anggotanya. Jika ada masalah, pengurus segera turun untuk meredam.

Ia juga memandang perobohan semua tugu, justru dikhawatirkan bisa memicu inkondusivitas di tengah situasi politik Sragen menjelang Pilkada saat ini.

“Kalau dirobohkan, saya tidak bisa bayangkan dampak dan bahayanya. Apalagi ini musim pilkada, bisa jadi alat politik yang berakibat rusaknya politik di wilayah Sragen,” tandasnya. Wardoyo