JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Karanganyar

Waspada, Jangan Lupakan DBD di Tengah Pandemi Covid-19. Di Karanganyar Kasusnya Meroket Dalam 3 Bulan Terakhir, Tertinggi Ada di Colomadu

Seorang nenek di Desa Gemantar, Mondokan bertahan di halaman saat rumahnya difogging petugas Sabtu (26/1/2019). Foto/Wardoyo
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
Seorang nenek di Desa Gemantar, Mondokan bertahan di halaman saat rumahnya difogging petugas Sabtu (26/1/2019). Foto/Wardoyo

KARANGANYAR, JOGLOSEMARNEWS.COM – Di tengah pandemi virus corona (Covid-19), jumlah kasus penyakit demam berdarah ternyata mengalami peningkatan selama kurun tiga bulan terakhir.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Karanganyar, Warsito mengungkapkan,  lonjakan kasus terjadi pada bulan April hingga Mei dari sebelumnya 150 kasus menjadi 194 kasus.

Menurutnya, berdasarkan grafik kasusnya, peningkatan awal kasus demam berdarah terjadi pada pada bulan Februari-Maret dari 26 kasus naik menjadi  menjadi 73 kasus.

Memasuki Bulan Maret-April, sempat mengalami penurunan menjadi 39 kasus. Namun pada bulan April-Mei, kembali mengalami peningkatan menjadi 44 kasus.

Baca Juga :  Kapolres Sragen Tegaskan Masyarakat Sudah Boleh Gelar Hajatan Pernikahan. Tapi Diimbau Tak Ada Hiburan dan Jamuan Makan, Jumlah Tamu Dibatasi Segini Saja!

“Peta persebaran kasus hampir merata di seluruh kecamatan dengan kasus tertinggi di kecamatan Colomadu sebanyak 39 kasus. Kenaikan jumlah kasus demam berdarah ini disebabkan karena faktor cuaca,” jelasnya.

Warsito menjelaskan jika dibandingkan tahun lalu, kasus demam berdarah ini tahun ini memang masih mengalami penurunan. Tahun lalu, jumlah kasus demam berdarah mencapai 583 kasus.

Meski demikian, upaya untuk mencegah agar persebarannya tidak meluas, pihaknya berupaya mendorong masyarakat menjaga pola hidup sehat dan melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN).

Baca Juga :  Pendidikan Daring Banyak Masalah, Bupati Sragen Isyaratkan Segera Terapkan Sekolah Tatap Muka

Ia menambakan, dampak covid-19 yang membuat sejumlah program Dinkes seperti tilik tonggo dan PSN sedikit menurun. Hal itu dikarenakan adanya pembatasan ruang gerak selama pandemi Covid-19.

“Dengan adanya lonjakan kasus dalam kurun waktu tiga bulan terakhir, kami segera menggerakkan kembali kader PSN di masing-masing wilayah untuk menggencarkan program tilik tonggo dan  melaksanakan tindakan fogging, terutama di wilayah dengan kasus yang cukup tinggi, tentu dengan menerapkan protokol kesehatan,” tegasnya. Wardoyo