JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Nasional

Dikeluhkan, Harga Benih Lobster Ekspor 10 Kali Harga Nelayan

Benih lobster yang akan diselundupkan di Jambi (17/4/2019). Polisi berhasil mengagalkan upaya penyelundupan benis lobster senilai Rp 37 miliar / tempo.co
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM  – Harga benih lobster di tingkat nelayan dikeluhkan karena terlalu timpang dibandingkan dengan harga di tingkat ekspor.

Ketua Harian DPP Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI), Dani Setiawan mencontohkan, harga benih lobster (benur) di tingkat nelayan tradisional hanya berkisar Rp 10.000 – Rp 16.000 per ekor.

Sedangkan untuk harga jual ekspor benih lobster di pasar internasional bisa mencapai Rp 100.000 – Rp 170.000 per ekor. 

Pemerintah harus mengatur harga benur, kata dia, karena memiliki akses informasi harga benih pembelian di Vietnam.

“Disparitas itu kan harusnya diketahui supaya mempersempit ketimpangan karena kalau ini terus diberikan akses oleh pemerintah kepada para pengusaha atau eksportir itu akan memperbesar ketimpangan pendapatan yang diterima para eksportir menjadi lebih tinggi dari yang diterima para penangkap benih,” kata dia saat dihubungi, Minggu (12/7/2020).

Baca Juga :  Peraturan MA No. 1/2020, Koruptor Bisa Dipenjara Seumur Hidup, Ini Kata KPK

Menurut Dani, perbedaan harga benur antara satu wilayah dengan wilayah lain dipengaruhi juga dengan faktor kesiapan infrastruktur serta transportasi.

Wilayah penghasil benur dengan fasilitas yang memadai cenderung lebih mahal dibandingkan dengan wilayah yang fasilitasnya belum memadai.

Tak hanya itu, pihaknya juga mendesak pemerintah untuk menyusun peta jalan yang jelas dan komprehensif terkait dengan pengembangan budidaya lobster.

Pasalnya, jika soal budidaya tak dilakukan, maka soal keputusan untuk kembali membuka keran ekspor benih lobster akan dicap sebagai kepentingan para pengusaha selaku eksportir.

Setelah budidaya mampu dikembangkan dengan baik, kata Dani, ekspor benur pun harus dihentikan untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan kecil.

“Kalau tidak diberikan waktu atau tenggang waktu sampai kapan ekspor dibuka dan berapa banyak jumlahnya, nanti justru orientasi ekpsor ini lebih banyak digunakan untuk mengeksploitasi benih lobster untuk kepentingan ekspor, ini yang kemudian menjadi masalah,” kata dia.

Baca Juga :  Jaksa Pinangki Mangkir dari Panggilan Komisi Kejaksaan dalam Kasus Joko Tjandra

Kepala Departemen Advokasi Eksekutif Nasional Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Zenzi Suhadi mengatakan kesenjangan harga jual ekspor di tingkat nelayan akan menimbulkan masalah dalam jangka pendek.

Menurutnya, nelayan dengan segala risikonya tidak akan mampu mengembangkan potensi dan meningkatkan kesejahteraan. 

Di sisi lain pada jangka panjang, harga jual yang sangat rendah akan memicu terjadinya ekspor-ekspor ilegal melebihi kuota yang menyebabkan ketersediaan lobster di alam akan habis.

“Ketika lobster ini akan habis, jenis ikan lain akan menyusut karena rantai makanan terganggu,” tutur Zenzi, Sabtu (11/7/2020).

Zenzi pun meminta pemerintah mengkaji peraturan terkait penetapan harga jual lobster di level paling bawah. Di samping itu, dia mendesak agar negara transparan terhadap harga jual ekspor lobster dan penerimaan PNBP. 

www.tempo.co