JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Karanganyar

Disidang LBH Muhammadiyah, Oknum LSM dan Wartawan Dalang Kasus Pemerasan Guru dan Kasek 11 TK Aisyiyah Nekat Berkelit. Mengaku Tak Saling Berhubungan, Saling Elak Ditanya Siapa Yang Minta Uang Damai Rp 5 Juta!

Tim LBH Muhammadiyah Karanganyar, saat mengkonfrontir oknum LSM dan wartawan yang diadukan telah melakukan pemerasan ke guru dan Kasek di 11 TK Aisyiyah Colomadu. Foto/Beni Indra
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
Tim LBH Muhammadiyah Karanganyar, saat mengkonfrontir oknum LSM dan wartawan yang diadukan telah melakukan pemerasan ke guru dan Kasek di 11 TK Aisyiyah Colomadu. Foto/Beni Indra

KARANGANYAR, JOGLOSEMARNEWS.COM – Kasus dugaan pemerasan terhadap guru dan Kasek di 11 TK Aisyiyah di Kecamatan Colomadu, Karanganyar, terus bergulir.

Sempat mangkir panggilan, oknum yang mengaku wartawan sebuah tabloid akhirnya mau hadir saat dikonfontir oleh Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Muhammadiyah Karanganyar.

Oknum wartawan itu datang bersama oknum LSM yang sudah dikonfrontir sebelumnya. Mereka disidang dan diklarifikasi oleh LBH Muhammadiyah Karanganyar yang dipimpin Wakil LBH Muhammadiyah, Ari Santoso dan Ketua LBH Muhammadiyah, Teguh Riyanto.

Namun saat dikonfrontir terkait aduan para guru dan Kasek yang merasa diperas Rp 5 jutaan untuk uang damai, kedua oknum LSM dan wartawan itu mengelak.

Mereka mungkir dari tuduhan dan saling berkelit dan saling menghindar saat disuruh menjelaskan siapa yang awal mula melontarkan tuduhan penggelembungan data siswa.

Keduanya juga saling berkilah saat didesak siapa yang meminta win-win solusi secara detail hingga akhirnya muncul permintaan uang damai sebesar Rp 5 juta.

Bahkan, tim LBH Muhammadiyah sempat dibuat geram saat kedua oknum itu saling menghindar saat ditanya permintaan uang Rp 5 juta itu siapa yang akan menerima jika seandainya terjadi deal.

Baca Juga :  Pengunjung Telaga Madirda Meledak Hingga 600 %, Pemdes Berjo Siap Tambah Water Boom dan Lebarkan Jalan

“Keduanya malah mengaku tidak tahu dan tidak berhubungan,” papar Ari Santoso kepada JOGLOSEMARNEWS.COM , Selasa (30/6/2020).

Keterangan kedua oknum itu sangat bertolak belakang dengan keterangan para guru dan Kasek di 11 TK Aisyiyah saat mengadukan kronologi di hadapan PDM Karanganyar akhir pekan lalu.

Saat itu, para guru dan Kasek mengaku resah dengan tuduhan penggelembungan data siswa yang awalnya dilontarkan oleh para oknum ketika datang ke sekolah.

Awalnya hanya satu dua TK saja yang didatangi oknum-oknum itu dengan tuduhan yang sama. Namun pada akhirnya tuduhan itu pun berkembang kepada 11 TK Aisyiyah di Colomadu.

Tak pelak, masing-masing sekolah TK Aisyiyah diintervensi oleh konspirasi pelaku agar mengakui tuduhan itu, namun ternyata dilawan oleh semua guru.

Pasalnya data yang dituduhkan itu   tidak terbukti. Meski demikian, para pelaku tetap nekat dan menekan para guru untuk melakukan win-win solution agar mau membayar pada pelaku.

Akhirnya terjadilah negosiasi pada Jumat (26/06/2020) pelaku, perwakilan guru TK AIsyiyah serta Oknum ASN UPTD dan ASN dari IGTK bertemu di Rumah makan Soto Sedap Haji Widodo Jl Adi Sucipto Solo.

Baca Juga :  Tak Punya HP Android dan Kuota, Banyak Siswa Miskin di Karanganyar Kesulitan Belajar Daring. Anggota DPRD Dorong Pemerintah Buat Kampung Internet dari APBD

Kasek TK Aisyiyah Klodran, Sumarno mengatakan pada pertemuan itu, para pelaku meminta 11 TK Aisyiyah membayar uang sebesar Rp 5 juta.

Meski dengan terpaksa ditawar Rp 2 juta karena pihak TK Aisyiyah merasa risih,  tetapi para pelaku menolak uang Rp 2 juta. Hingga akhirnya pertemuan itu pun deadlock dan tidak tercapai kesepakatan.

Sumarno menegaskan pihaknya menolak permintaan uang itu lantaran tuduhan yang dialamatkan tidak terbukti.

“Saya hadir pada pertemuan itu hingga selesai. Tetapi saat diminta uang Rp 5 juta, saya tawarkan pada guru TK Aisyiyah yang hadir hasilnya ditawar Rp 2 juta tapi pelaku menolak,” paparnya kepada wartawan, Sabtu (27/6/2020).

Pendapat yang sama disampaikan Kepala TK Aisyiyah Gedongan, Dewi Nawangsari. Ia yang hadir di pertemuwn itu mengaku sempat bingung antara menyetujui atau tidak.

“Ya begiitu diminta Rp 5 juta saya manut saja kesepakatan teman-teman. Eh ternyata tidak ada kata sepakat,” ungkapnya.

Penolakan tegas disampaikan Kepala Sekolah TK Aisyiyah Baturan, Indah yang melawan dan mengancam akan melaporkan paca Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM).

“Saat itu juga saya menolak karena TK dibawah yayasan Muhammadiyah maka ya lapor yayasan,” tegasnya. Beni Indra/Wardoyo