JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Nasional

Eks Sekretaris MA, Nurhadi Diduga Beli Kebun Kelapa Sawit dengan Duit Suap

Sekretaris Mahkamah Agung, Nurhadi Abdurrachman, menjalani pemeriksaan di gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jakarta, Selasa (6/11/2018), setelah mangkir dari panggilan sebelumnya. Nurhadi Abdurrachman diperiksa sebagai saksi untuk tersangka mantan petinggi Lippo Group, Eddy Sindoro / tempo.co
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM
 Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menduga, mantan Sekretaris Mahkamah Agung (MA), Nurhadi membeli kebun kelapa sawit menggunakan duit penyuapnya.

Dugaannith mencuat ketika KPK melakukan pemeriksaan terhadap saksi bernama Agus Andrian.

Pelaksana Tugas Juru Bicara KPK Ali Fikri mengatakan, KPK memeriksa Agus untuk mengetahui terkait survei harga kebun sawit yang dibeli Nurhadi.

KPK menduga kebun itu dibeli oleh Nurhadi menggunakan uang Direktur PT Multicon Indrajaya Terminal Hiendra Soenjoto.

“Penyidik mengkonfirmasi terkait survei kebun sawit yang dibeli oleh tersangka NHD dan sumber uangnya diduga dari tersangka HSO,” kata Ali lewat keterangan tertulis, Rabu (1/7/2020).

Dalam penelusuran aset milik Nurhadi, KPK juga pernah memeriksa dua pegawai Kantor Jasa Penilai Publik Hari Utomo dan Rekan.

Baca Juga :  Kumpulan Ucapan Idul Adha 2020 Bahasa Inggris dan Indonesia, Pas Untuk Status Medsos dan Dikirim via WA

Dari kedua pegawai itu, KPK menelusuri dugaan rekayasa penilaian aset kebun kelapa sawit milik Nurhadi.

Menurut Ali, dari kedua saksi itu penyidik berupaya mengungkap dugaan rekayasa penilaian kebun sawit milik Nurhadi di Padang Lawas, Sumatera Utara. Dia bilang ada dugaan kebun itu seolah dijual sebagai pengembalian uang kepada Hiendra Soenjoto. Hiendra adalah tersangka penyuap Nurhadi.

Majalah Tempo edisi 15 Februari 2020 menyebut Nurhadi diduga menyembunyikan aset-asetnya di tengah upaya KPK menyelidiki dugaan pencucian uang.

Salah satu aset itu ialah kebun sawit di Kecamatan Sosa dan Barumun, Padang Lawas.

Baca Juga :  Joko Tjandra dan Brigjen Prasetijo Utomo Sama-sama Ditahan di Rutan Mabes Polri

Nurhadi disebut telah menyiapkan underlying transaction untuk kebun sawit itu.

Nilai transaksinya mencapai Rp 42,5 miliar. Agar tak terlacak, sumber Tempo diminta melapis setoran dengan transaksi yang seolah-olah berasal dari orang lain.

Cara lain: transaksi itu disamarkan menjadi pembayaran utang-piutang yang tak melibatkan Nurhadi dan keluarganya.

Dalam perkara suap dan gratifikasi, KPK menyangka Nurhadi dan menantunya Rezky Herbiyono menerima uang senilai Rp 46 miliar dari pengurusan perkara di MA.

Duit diduga berasal dari Direktur PT Multicon Indrajaya Terminal Hiendra Soenjoto. Sempat buron beberapa bulan, Nurhadi dan menantunya akhirnya ditangkap di rumahnya di kawasan Simprug, Jakarta Selatan. Hiendra masih buron.

www.tempo.co