JOGLOSEMARNEWS.COM Edukasi Kesehatan

Kalung Eucalyptus Bukan Antivirus Corona, Ini Kata Kementan

Kalung kesehatan ari tanaman eucalyptus. Foto: tempo.co
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM Kementerian Pertanian (Kementan) beberapa waktu lalu mengumumkan inovasi berbagai produk herbal berbahan daun atsiri atau ekaliptus.

Produk yang merupakan hasil inovasi dari Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementan itu di antaranya berbentuk inhaler, roll on, salep, balsem, diffuser, hingga kalung.

Produk yang tersebut terakhir itulah yang kemudian menjadi viral beberapa hari terakhir karena disebut sebagai kalung antivirus corona.

Namun Kepala Balitbangtan Kementan, Fadjry Djufry, menegaskan bahwa produk inovasi tersebut tidak pernah diklaim sebagai antivirus corona, melainkan dari persepsi masyarakat yang menganggap produk itu sebagai antivirus corona.

“Kalung ini sebagai aksesoris kesehatan. Ini bukan jimat. Tidak ada klaim antivirus di situ,” kata Fadjry dalam konferensi pers pemanfaatan ekaliptus, Senin (6/7/2020), dikutip Liputan6.com.

Fadjry menjelaskan, tulisan “Antivirus Corona” yang tertera dalam kemasan kalung produk herbal ekaliptus tersebut hanya sebagai prototype atau purwarupa kalung aroma terapi yang dipakai oleh kalangan pegawai Kementan.

“Ini hanya prototype ya, produksi massal nanti ini (tulisannya) akan menjadi aromaterapi eucalyptus,” tandasnya.

Baca Juga :  Terus Meningkat, 4 Warga Sragen Kembali Positif Terpapar Covid-19 Hari Ini, Suspek Bertambah 5 Orang. Total Sudah 82 Kasus Positif, 487 Warga Jalani Isolasi Mandiri

Lebih lanjut ia mengatakan, produk tersebut mengambil bentuk kalung yang didesain dalam bentuk seperti name tag yang dikenakan sebagai kalung, sehingga mudah dibawa dan tidak mudah tertinggal atau hilang.

Produk kalung aromaterapi Balitbangtan itu diformulasikan dari bahan dasar minyak eucalyptus dan didesain dengan teknologi nano dalam bentuk serbuk yang kemudian dikemas dalam kantong berpori.

“Oleh karena itu dibentuk kalung sehingga akan mudah menghirup setiap 2-3 jam sekali selama 5-15 menit dihirup (didekatkan ke hidung), agar mampu menginaktivasivirus yang berada di rongga hidung,” ujarnya menjelaskan.

Uji Klinis

Lebih lanjut Fadjry mengakui jika produk kalung aromaterapi eucalyptus dari Balitbangtan itu belum melalui tahapan uji klinis.

“Produksi untuk inhaler dan roll on akan siap akhir bulan Juli, sementara kalung pada bulan Agustus. Produk ini blum melalui uji klinis, karena Uji klinis harus dilakukan oleh tim dokter, di mana untuk kasus uji klinis harus diketuai oleh dokter spesialis paru,” ujarnya.

Baca Juga :  Sempat Dilanda Keresahan, Desa Bedoro Sragen Akhirnya Umumkan Bebas Kasus Covid-19. Hasil Swab Satu Pemudik dan 5 Orang Keluarganya Dinyatakan Negatif, Warga Lega

Ia menegaskan, Balitbangtan tidak punya wewenang dan kompetensi melakukan uji klinis. Namun saat ini tawaran untuk uji klinis sudah datang dari UNHAS dan UI.

Eucalyptus sudah turun-temurun digunakan sebagai bahan pengobatan alternatif untuk gangguan saluran pernafasan.

Tumbuhan itu dapat digunakan sebagai pelega saluran pernafasan, pengencer dahak, pereda nyeri, pencegah mual, antiinflamasi, dan memberi efek menenangkan.

Kementan, lanjut Fadjry, telah melakukan uji coba, kepada 16 pasien positif. Namun pengujian hanya sebatas mencatat testimoni mereka dan tidak melakukan pengujian terhadap kondisi kesehatan pasien.

Testimoni yang dicatat di antaranya, yakni melegakan pernapasan, menghilangkan pusing, mual dan nyeri lainnya, perasaan lebih nyaman dan tenang.

Adapun perbedaan produk eucalyptus buatan Kementan dengan produk yang sudah beredar di pasaran, menurut Fadjry, yakni formula yang dihasilkan Balitbangtan terdiri dari kombinasi beberapa minyak bahan aktif tidak hanya eucalyptus saja. Namun secara proporsional, eucalyptus memang yang paling dominan.