JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Kronologi Petani Duyungan Sragen Tewas Kesetrum Jebakan Tikus di Sawahnya. Niatnya Selamatkan Tanaman Jagung, Malah Ditemukan Tak Bernyawa oleh Putrinya

Tim gabungan Polsek, PMI, Poldes, BPBD saat mengevakuasi jasad petani korban setrum jebakan tikus asal Duyungan, Sidoharjo, Sragen, Selasa (28/7/2020) malam. Foto/Wardoyo
Tim gabungan Polsek, PMI, Poldes, BPBD saat mengevakuasi jasad petani korban setrum jebakan tikus asal Duyungan, Sidoharjo, Sragen, Selasa (28/7/2020) malam. Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Perangkap setrum jebakan tikus kembali memakan korban di Sragen. Seorang petani asal Desa Duyungan, Kecamatan Sidoharjo, Sragen ditemukan tak bernyawa di lahan jagung miliknya Selasa (28/7/2020) malam.

Korban diketahui bernama Prapto Wiyono alias No Banjir (66). Petani paruh baya itu ditemukan tewas tergeletak di dekat pematang sawahnya di wilayah Patihan, Karanganyar, Sidoharjo yang dipasangi kabel beraliran listrik.

Data yang dihimpun di lapangan, insiden tragis itu terjadi pukul 18.50 WIB. Menurut sejumlah saksi mata, kejadian bermula ketika korban tadi berangkat ke sawah untuk menyalakan listrik jebakan tikus dari genset yang ada di sawahnya.

Karena tak kunjung pulang, kemudian putrinya, Siti, berupaya menyusul ke sawah. Saat sampai di sawah, ia langsung histeris mendapati bapaknya sudah ditemukan tergeletak di dekat pematang dalam kondisi tewas.

“Ceritanya korban ini mau menghidupkan genset di sawah untuk menyalakan perangkat setrum jebakan tikus di sawahnya sendiri. Sawahnya ditanami jagung dan dipasangi kabel beraliran listrik. Tahu-tahu sudah ditemukan tergeletak kesetrum di sawahnya. Yang menemukan putrinya sendiri,” papar Kades Duyungan, Arie Kurniawati kepada JOGLOSEMARNEWS.COM , Rabu (29/7/2020).

Baca Juga :  Pulang dari Jakarta, Warga Miri Sragen Ketahuan Positif Covid-19 dan Dirawat di Rumah Sakit. Jumlah Kasus Positif Melonjak Jadi 514, Jumlah Warga Meninggal Sudah 68 Orang

Ia menguraikan dari keterangan yang diperoleh, sebenarnya jebakan tikus yang dipasang disawah korban dinyalakan dengan genset berkapasitas 220 VA.

Meski sempat ada anggapan dayanya rendah, faktanya pemakaian genset untuk setrum jebakan tikus juga bisa berakibat fatal merenggut nyawa.

Karenanya ia kembali mengimbau ke warga dan petani di wilayahnya untuk menghentikan dan menghindari pemasangan perangkat listrik untuk jebakan tikus.

“Sebenarnya lewat Pak RT, sudah kami sosialisasikan terus agar warga jangan memasang perangkap tikus beraliran listrik. Karena itu sangat berbahaya bagi keselamatan. Penggunaan genset yang katanya dayanya rendah dan kalau kena hanya terpental, ternyata juga bisa mematikan. Makanya kami akan gencarkan sosialisasi lagi,” tukasnya.

Baca Juga :  PSBB Jakarta Jadi Mimpi Buruk bagi Sragen, Omzet Puluhan Perajin Batik Makin Anjlok. Pemilik Batik Brotoseno: Baru Saja Mau Bangkit, Kini Ambles Lagi!

Ia menambahkan almarhum dimakamkan di pemakaman dukuh setempat hari ini tadi pukul 10.00 WIB.

Isak tangis mengiringi pemakaman petani malang tersebut. Menurut warga, almarhum meninggalkan tiga orang anak.

Atas insiden itu, Arie berharap kejadian itu menjadi pembelajaran bersama dan petani lebih berhati-hati serta tidak lagi menggunakan listrik untuk menjebak tikus.

Terpisah, Kasubag Humas Polres Sragen, AKP Harno memastikan dari hasil olah TKP dan pemeriksaan, korban meninggal akibat tersengat listrik dari perangkat kabel yang dipasang untuk menjebak tikus di sawahnya.

Karena keluarga sudah menerima sebagai musibah, jasad korban kemudian diserahkan kepada keluarga untuk dimakamkan.

Prapto menjadi korban tewas kedepalan yang meregang nyawa kesetrum jebakan tikus dalam kurun enam bulan terakhir. Sebelumnya, kejadian serupa juga sudah merenggut nyawa petani di beberapa wilayah seperti di Ngrampal, Sine Sragen, Jambanan Sidoharjo, Bendo Sukodono dan Bandung Ngrampal. Wardoyo