JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Nasional

RI Dinilai Terlalu Banyak Impor Obat

Ilustrasi obat. jarmoluk/Pixabay

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Indonesia dinilai terlalu banyak mengimpor obat-obatan ketimbang meneliti dan memproduksi sendiri secara nasional.
Hal itu dikemukakan oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Pandjaitan. Ia mengatakan, kesadaran itu muncul saat pandemi Covid-19 melanda.

“Kalau kita lihat juga Covid-19 ini kalau lihat dari satu sisi itu ada sisi positifnya. Ada wakeup call bahwa kita pengimpor obat yang besar. Kita enggak punya industri obat, sangat terbatas,” ujar Luhut dalam konferensi video, Sabtu (25/7/2020).

Setelah merebaknya Covid-19, Luhut pun mengatakan pemerintah mulai menggenjot produksi berbagai obat, vaksin, reagen, alat uji, hingga peralatan kesehatan di dalam negeri.

Hal itu juga sejalan dengan arahan Presiden Joko Widodo atau Jokowi agar Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dan berbagai stimulus dioptimalkan untuk menggenjot industri kesehatan Tanah Air.

Baca Juga :  KPK Telah Berubah, Febri Diansyah Pilih Mundur

Dia mengatakan saat ini Indonesia mulai membuat bahan baku obat melalui fasilitas petrokimia milik PT Pertamina (Persero). Selama ini, Indonesia selalu mengimpor bahan baku obat tersebut.

“Begitu India lockdown kita kelabakan.”

Selain itu, Indonesia kini tengah mengembangkan sejumlah vaksin Covid-19 bersama perusahaan dari negara lain seperti Cina, Korea Selatan, dan Norwegia. “(Mereka mau) karena Indonesia dianggap prospektif dengan market yang besar,” ujar Luhut.

Sebelumnya, PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) sebagai Subholding Refinery and Petrochemical dari PT Pertamina (Persero) bersinergi dengan PT Kimia Farma Tbk untuk mengoptimalkan potensi nilai tambah dari pengolahan produk turunan petrokimia menjadi bahan baku farmasi, seperti Paracetamol.

Wakil Menteri BUMN Budi Gunadi Sadikin menyampaikan bahwa sinergi ini sesuai arahan Presiden RI untuk meningkatkan kemandirian industri farmasi nasional dan sekaligus membantu menurunkan defisit neraca perdagangan Indonesia di sektor farmasi.

Baca Juga :  Hari Ini Pasien Sembuh dari Covid-19 Bertambah 3.207

Mengingat, 95 persen dari total kebutuhan bahan baku armasi Indonesia masih dipasok melalui impor.

Menurutnya, sinergi ini berawal dari penjelasan dan kajian yang dilakukan Pertamina untuk mengoptimalkan bahan baku di Kilang Cilacap menjadi bahan baku farmasi.

“Tidak sampai satu bulan kajian sudah keluar. Saya bangga dan mengucapkan selamat kepada tim Pertamina atas kegesitannya dan kecepatannya merespons permintaan pemegang saham dalam hal ini Pemerintah,” kata Budi dalam keterangan tertulis, Sabtu, 25 Juli 2020.

Pemerintah berharap kesepakatan ini dapat ditindaklanjuti segera menjadi kerjasama yang lebih konkret.

www.tempo.co