JOGLOSEMARNEWS.COM Edukasi Kesehatan

Waspada Kasus Demam Berdarah Terus Meningkat, Ini Fase Penyakit DBD yang Penting Diketahui

Ilustrasi pasien demam berdarah
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id

JOGLOSEMARNEWS.COM Di tengah pandemi Covid-19 yang telah memakan ribuan jiwa di Indonesia, tidak lantas bisa mengabaikan risiko penyakit lainnya.

Saat ini yang kasusnya juga sedang meningkat adalah demam berdarah dengue (DBD) yang menginfeksi manusia melalui gigitan nyamuk betina Aedes aegypti.

Jika tidak ditangani dengan benar, bukan hal yang mustahil penyakit DBD dapat menyebabkan perdarahan yang mengakibatkan syok dan bahkan kematian.

Untuk itu perlu diketahui bahwa DBD memiliki tiga fase, yang penting untuk dipahami agar dapat dilakukan penanganan yang optimal.

Melansir dari laman Alodokter, pasien demam berdarah dengue biasanya akan mengalami 3 fase, mulai dari gejala muncul untuk pertama kalinya hingga pemulihan.

Berikut adalah ketiga fase demam berdarah tersebut:

Fase demam (febrile phase)

Pada fase ini, pasien akan mengalami demam tinggi hingga 40 derajat Celsius yang berlangsung selama 2-7 hari. Selain itu, pasien juga mungkin mengalami beberapa gejala lain, seperti mual, muntah, sakit kepala, sakit tenggorokan, muncul bintik-bintik kemerahan di kulit, serta nyeri otot, tulang, dan sendi.

Baca Juga :  Madu Hutan Liar Berkhasiat untuk Pengobatan

Dalam fase ini, dokter akan memantau jumlah keping darah (trombosit), karena biasanya jumlah trombosit mengalami penurunan dengan cepat hingga kurang dari 100.000/mikroliter darah. Penurunan jumlah trombosit ini terjadi dalam waktu singkat, yaitu 2-3 hari.

Fase kritis (critical phase)

Setelah melewati fase demam, banyak pasien merasa dirinya telah sembuh karena suhu tubuhnya mulai turun.

Padahal, ini justru fase demam berdarah yang paling berbahaya, karena kemungkinan bisa terjadi perdarahan dan kebocoran plasma darah yang akan menyebabkan syok dan berpotensi mengancam nyawa.

Fase kritis dapat terjadi 3-7 hari sejak demam dan berlangsung selama 24-48 jam. Pada fase ini, cairan tubuh penderita harus dipantau ketat. Pasien tidak boleh kekurangan maupun kelebihan cairan.

Pada beberapa kasus, pasien dapat mengalami syok atau penurunan tekanan darah yang drastis, serta perdarahan pada kulit, hidung, dan gusi. Apabila tidak ditangani segera, kondisi ini dapat berujung pada kematian.

Fase pemulihan (recovery phase)

Setelah melewati fase kritis, pasien akan memasuki fase pemulihan yang akan terjadi 48-72 jam setelah fase kritis.

Baca Juga :  Madu Hutan Liar Berkhasiat untuk Pengobatan

Di fase ini, cairan yang keluar dari pembuluh darah akan kembali masuk ke dalam pembuluh darah. Oleh karena itu, sangat penting menjaga cairan yang masuk agar tidak berlebihan.

Cairan berlebih dalam pembuluh darah dapat menyebabkan kematian akibat gagal jantung dan edema paru.

Kadar trombosit pun akan meningkat dengan cepat hingga mencapai angka sekitar 150.000/mikroliter darah, sampai kemudian kembali ke kadar normal.

Dalam penanganan DBD, sebenarnya tidak ada pengobatan khusus yang dapat diberikan. Penderita hanya disarankan untuk banyak beristirahat dan minum air putih yang banyak untuk mencegah dehidrasi.

Bila perlu, dokter akan memberikan cairan melalui infus. Selain itu, dokter juga akan memberikan obat penurun panas untuk meredakan demam.

Selama melalui fase-fase demam berdarah di atas, kondisi penderita harus terus dipantau. Bila muncul keluhan berupa sesak napas, keluar keringat dingin, atau terjadi perdarahan, segeralah ke IGD di rumah sakit terdekat.