JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Begini Hasil Simulasi Pembelajaran Tatap Muka dari TK, SD dan SMPN di Sragen Yang Ditinjau Wabup. Soal Rencana Tatap Muka Mulai 31 Agustus Ternyata Masih Tunggu Ini!

Wabup Sragen, Dedy Endriyatno saat meninjau simulasi pembelajaran tatap muka dengan penerapan protokol kesehatan di salah satu SD di Sragen, Kamis (27/8/2020). Foto/Wardoyo
Wabup Sragen, Dedy Endriyatno saat meninjau simulasi pembelajaran tatap muka dengan penerapan protokol kesehatan di salah satu SD di Sragen, Kamis (27/8/2020). Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM Pemerintah Kabupaten Sragen melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sragen menggelar simulasi pembelajaran tatap muka tingkat TK, SD dan SMP di beberapa sekolah Negeri dan Swasta, Kamis (27/8/2020).

Meski sekolah yang dijadikan simulasi dinilai sudah siap, Pemkab masih akan menunggu hasil kajian epidemologi untuk memastikan apakah rencana sekolah tatap muka bisa digelar mulai 31 Agustus atau tidak.

Simulasi tadi pagi dilakukan di TK Negeri Pembina Sragen, SDIT Az Zahra Sragen, SD Negeri 4 Sragen, SMP Negeri 1 Sragen dan SMP Birrul Walidain Muhammadiyah Sragen.

Pelaksanaan simulasi belajar tatap muka yang dilaksanakan sehari ini ditinjau langsung oleh Wakil Bupati Sragen Dedy Endriyatno, Sekda Tatag Prabawanto, Kepala Dinas Pendidikan Suwardi, Kepala Dinas Kesehatan dr. Hargiyanto beserta jajaran.

Wakil Bupati Sragen, Dedy Endriyatno mengatakan kegiatan simulasi ini untuk meninjau secara langsung apakah sekolah sudah siap melakukan pembelajaran tatap muka.

“Kami lihat secara detail, mulai dari siswa masuk ke sekolah dengan pakai masker, pakai face shield, jaga jarak, pemeriksaan suhu tubuh, dan cuci tangan,” terang Wabup.

Selain itu Wabup Dedy juga berencana ingin memformulasikan peran orang tua dalam mengawasi anak-anak agar menerapkan protokol kesehatan.

Baca Juga :  Kampanye Pilkada Sragen, Cabup Yuni Siapkan Konsep Lomba Virtual dan Akan Pilih Cara Santun. "Langsam, Tenang, 9 Desember Menang!"

“Kami melalui dinas pendidikan dan kebudayaan akan memformulasikan dan melibatkan peran orang tua untuk mengingatkan dan turut memberi pelajaran kepada anak dalam menerapkan protokol kesehatan dimanapun berada,” jelasnya.

Pihaknya meminta kepada Kepala Sekolah maupun Guru untuk selalu mengingatkan siswa agar selalu menjaga jarak, tidak meminjam alat tulis antar siswa lainnya, membawa bekal sendiri makan dan minum.

Tak hanya itu siswa serta orangtua harus memahami SOP penjemputan siswa di sekolah masing-masing.

Wabup Dedy menjelaskan bahwa seluruh sekolah telah menyediakan tempat cuci tangan, hand sanitizer, dan pengaturan jarak tempat duduk.

“Sekolah yang kami cek sudah menerapkan ketentuan dengan kapasitas maksimal 50%, sedangkan SMP maksimal 16% dari kapasitas ruang,” papar Wabup.

Menurutnya, hakikat sekolah tatap muka bukan hanya pembelajaran saja. Namun juga membiasakan kepada anak kemampuan menjaga diri dan keluarga tahu menempatkan diri baik di lingkungan keluarga, sekolah dan lingkungan.

Pembelajaran di sekolah ini diharapkan bisa membuat anak-anak bisa menjadi agen bagi keluarga dan lingkungan dalam menerapkan protokol kesehatan.

“Jika kita mempunyai 83.000 siswa TK, SD, SMP itu berarti harapan kita sebagian besarnya menjadi agen dirumah masing-masing dalam menjaga protokol kesehatan,” harapnya.

Baca Juga :  Barusaja Masuk Zona Oranye, Kasus Covid-19 Langsung Meledak Lagi Tambah 24 Warga Positif Hari Ini. Tersebar di 12 Kecamatan, Total Kasus Meroket Jadi 511, Warga Meninggal Sudah 68

Meski dinyatakan siap, Wabup menyampaikan pemkab Sragen juga masih menunggu kajian epidemiologi lebih rigid agar tidak membuat keputusan yang salah.

Kajian epidemiologi ini nantinya para ahli akan memberikan masukan apa dari rencana masuknya anak sekolah pada (31/8/2020) mendatang.

“Jika kajian epidemiologi tersebut mengarah baik untuk pembelajaran tatap muka akan dilakukan, namun jika tidak memungkinkan akan diundur,” tandasnya.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Sragen, Suwardi menyampaikan
pelaksanaan sekolah tatap muka nantinya akan dilangsungkan setengah dari pembelajaran normal. Atau sekitar 4 jam saja.

Simulasi itu digelar untuk mengevaluasi persiapan dan role model sekolah lainnya.

“Kita lihat semuanya apakah benar-benar siap atau belum. Mulai dari fasilitas sekolah, pemberian materi, kebiasaan siswa dan guru dan sebagainya. Lantas ini akan dipelajari dan jadi bahan evaluasi apa yang kurang dan perlu diperbaiki,” papar Suwardi.

Dirinya menambahkan jumlah siswa yang masuk mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM) tatap muka harus setengah dari kapasitas ruang kelas. Sedangkan siswa lainnya bisa mengikuti KBM secara daring dari rumah.

Selanjutnya akan menunggu keputusan untuk tetap digelar pada 31 Agustus mendatang atau ada keputusan lainnya. Wardoyo