JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Cerita Anggota DPRD Sragen Tekor Ratusan Juta Gegara Fenomena Tikus. Pekerjanya pun Sampai Tobat dan Menyerah!

Anggota DPRD Sragen, Sutimin. Foto/Wardoyo
Anggota DPRD Sragen, Sutimin. Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Fenomena serangan hama tikus di wilayah Sragen benar-benar menjadi momok bagi kalangan petani.

Tak hanya merenggut korban petani yang berjuang membasmi dengan setrum, merajalelanya serangan juga menghadirkan duka karena biaya produksi terbuang sia-sia akibat tanamannya dirusak tikus.

Tak hanya petani biasa, bahkan anggota DPRD pun juga mengalaminya. Seperti dikisahkan Sutimin, anggota DPRD asal Desa Karanganyar, Kecamatan Plupuh, Sragen.

Legislator asal PDIP itu juga punya kisah pahit dengan maraknya serangan tikus saat ini. Ia yang nyambi bertani, mengaku mengalami kerugian tak main-main akibat tanamannya dihancurkan tikus.

“Padi saya lima hektare. Yang empat hektare sudah parah dirusak tikus, habis semua. Padahal biaya tanam empat hektare itu sudah habis Rp 32 juta karena per seperempat itu habis Rp 2 juta,” paparnya kepada JOGLOSEMARNEWS.COM di sela melakukan pemberantasan tikus di sawah Karanganyar, tadi malam.

Karena terlanjur habis, ia kini hanya berharap munculnya tunas atau trubusan dari sisa tanaman padi yang sudah dimakan hewan pengerat itu.

Tak cukup sampai di situ, deritanya diperparah dengan hancurnya dua lahan melon dan cabe yang harusnya memasuki masa panen.

Seorang warga Desa Pengkok, Kedawung saat mengumpulkan ribuan bangkai tikus hasil gropyokan serentak, Jumat (24/7/2020). Itu membuktikan ganasnya serangan dan populasi tikus saat ini.  Foto/Wardoyo

Legislator yang akrab disapa Keling itu menuturkan saat ini ada satu hektare tanaman melonnya yang juga hancur diserang tikus.

Padahal biaya produksi sudah habis Rp 135 juta dan sudah berbuah tinggal menunggu panen.

“Kalau melon itu dikreketi buahnya. Sama digantasi batangnya. Melon satu hektare itu sepeser pun nggak ngukut,” terangnya.

Baca Juga :  Tambah Lagi, 2 Warga Gemolong dan Sragen Positif Terpapar Covid-19. Jumlah Total Kasus 513, Sudah 71 Warga Meninggal Dunia

Yang paling parah, datang dari lahan cabenya. Cabe satu hektare yang harusnya sudah tinggal memetik hasil karena sudah masa panen besar, juga harus pupus karena habis dirusak tikus.

Buah-buah di batang cabe yang tinggal menunggu merah, tak luput dari serangan. Tikus-tikus yang menurutnya jumlahnya tak terhitung itu memakan cabe dan mencacahnya sehingga cabe menjadi rusak.

“Padahal harusnya panen besar wong buahnya banyak. Sama dengan melon, cabe ya hanya dikreketi buahnya dan nggak dimakan semua. Kalau sudah begitu nggak ada yang bisa dipetik lagi. Saking banyaknya tikus, dari cabe juga sama sekali nggak bisa balik. Padahal kemarin dihitung modalnya sudah habis Rp 80 juta,” tuturnya.

Dengan kerugian itu, dari tiga lokasi sawahnya, total Sutimin harus menanggung kerugian hampir Rp 220 juta. Ia menuturkan berbagai upaya sudah dilakukan untuk membendung serangan tikus.

Gropyokan, digerilya tiap malam, dikasih umpan hingga sawah dipagari plastik, sudah dilakukan. Namun semuanya tak mampu meredakan serangan.

“Mungkin saking banyaknya tikus. Kalau saya lihat, nggak hanya ribuan tapi jutaan tikus sehingga semalam saja bisa hancur tanaman di sawah. Tenaga saya yang nangani lahan cabe kemarin sampai sudah menyerah nggak bisa ngatasi lagi. Ya mau gimana lagi, terpaksa gagal total nggak panen dan sekarang nggak dirawat lagi wong sudah dirusak tikus,” tandasnya.

Atas fakta itu, ia berharap dinas terkait dan Pemkab segera turun tangan melakukan pencegahan dengan solusi yang aman tapi mematikan. Sebab jika dibiarkan bisa sangat merugikan pertanian, menurunkan produksi, merugikan petani.

Baca Juga :  Muncul Klaster Baru Penyebaran Covid-19 di Sragen. CD asal Sidoharjo Tulari 3 Orang, 3 Orang Juga Positif Tertular dari Mendiang Ustadz Habib MA

Kadus 1 Desa Karanganyar, Suwondo menguraikan dari sekitar 183 hektare sawah di Karanganyar, hampir semuanya mengeluhkan serangan tikus baik yang ditanami padi maupun palawija.

Serangan tikus saat ini, menurutnya ibarat kata bukan serangan biasa. Apalagi momentum saat ini memasuki masa-masa musim kawin sehingga peranakannya sangat cepat.

“Kalau tanaman padi yang masih muda itu sekali dimakan, masih bisa disulami lagi. Ini rata-rata sudah pada dua tiga kali sulam. Nanti nyerangnya lagi kalau pas mau berbulir. Untuk tanaman jagung, sekali serang batangnya sudah habis nggak bisa diharapkan lagi,” tuturnya.

Mewakili Pemdes, Suwondo menyebut sudah bekerjasama dengan pihak terkait agar membantu menekan tikus termasuk gropyokan tiap malam.

“Kami juga sering mengajukan permohonan ke dinas terkait. Harapannya segera ada perhatian karena serangan saat ini benar-benar sangat parah,” tandasnya.

Terpisah Kepala Dinas Pertanian Sragen, Ekarini Mumpuni Titi Lestari mengatakan dari laporan yang masuk ke dinas, jumlah serangan tikus di Sragen baru sekitar 50 hektare lahan.

Ia mengklaim tensi serangan sudah bisa dikendalikan dengan kegiatan gropyokan rutin dan pembasmian melalui teknis pengemposan.

“Ini juga kami ajukan anggaran untuk pengadaan burung hantu. Nanti masih akan dibahas dulu anggarannya. Nanti masing-masing kecamatan kita beri 2 pasang dulu,” terangnya. Wardoyo