Beranda Daerah Sukoharjo Dr Sawitri dan Jalan Panjang Merawat Budaya Jawa dari Kampus hingga Sanggar

Dr Sawitri dan Jalan Panjang Merawat Budaya Jawa dari Kampus hingga Sanggar

Dr. Sawitri, S.Sn., M.Hum | Istimewa

SUKOHARJO, JOGLOSEMARNEWS.COM Di tengah semakin langkanya akademisi yang aktif menulis untuk publik, sosok Dr. Sawitri, S.Sn., M.Hum., menjadi pengecualian yang menarik.

Ketika banyak dosen lebih fokus pada aktivitas mengajar dan publikasi ilmiah di lingkungan kampus, dosen Universitas Veteran Bangun Nusantara (Univet Bantara) Sukoharjo ini justru terus menapaki berbagai ruang pengabdian sekaligus: Sebagai pengajar, penulis, seniman, pegiat budaya, hingga aktivis organisasi kemasyarakatan.

Perempuan kelahiran Jatimalang, Palur, Mojolaban, Sukoharjo, 30 Mei 1977 itu dikenal sebagai sosok yang tak pernah jauh dari dunia budaya dan literasi. Baginya, ilmu pengetahuan tidak cukup berhenti di ruang kuliah, tetapi harus hadir dan memberi manfaat bagi masyarakat luas.

Lahir dan tumbuh di lingkungan keluarga yang dekat dengan dunia seni, budaya, pertanian, dan perdagangan, Sawitri mengaku bersyukur mendapat dukungan penuh dari kedua orang tuanya, Yoko Suparto dan Sukinem Yoko Suparto. Dukungan tersebut menjadi bekal penting dalam perjalanan akademik maupun kiprahnya di bidang kebudayaan.

Pendidikan dasarnya ditempuh di SD Palur 1, kemudian melanjutkan ke SMP Negeri 2 Mojolaban dan SMA Mojolaban. Kecintaannya pada seni membawanya menempuh pendidikan tinggi di STSI Surakarta pada Jurusan Tari. Setelah itu, ia melanjutkan studi magister dan doktoral pada Program Kajian Budaya Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta.

Karier akademiknya kini dijalani sebagai dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Univet Bantara Sukoharjo. Selain mengajar, ia juga dipercaya sebagai Kepala Laboratorium Bahasa dan Budaya FKIP Univet.

Baca Juga :  Melrose Leather by Melanie Berdayakan Pengrajin Lokal Sukoharjo Lewat Produk Tas Kulit Premium

Berbagai mata kuliah yang diampunya berkaitan erat dengan kebudayaan Jawa, mulai dari Kebudayaan Jawa, Folklor Jawa, Mitologi Jawa, Adat Tradisi Jawa, Ngadisarira lan Ngadibusana Jawa, hingga Filsafat Ilmu dan Ilmu Sosial Budaya Dasar (ISBD).

Namun aktivitas Sawitri tidak berhenti di ruang kelas. Ia termasuk akademisi yang produktif melahirkan karya tulis dalam berbagai genre. Sejumlah buku telah diterbitkannya, antara lain Ideologi Bedhaya dan Bedhayan di Surakarta, Budaya Kampanye di Era Pandemi Covid-19, kumpulan geguritan Bedhaya Anuraga, novel berbahasa Jawa Gendewa Madu Retna, antologi puisi Kidung Sepanjang Waktu, Bedhaya Sinarawedi, Cathetan Lawas ing Dluwang Merang, Sang Pramesthi, Ketrajang Ayang-Ayang, Menggambar Kupu-Kupu, hingga Karya Tari Satria Geni.

Produktivitas tersebut menunjukkan bahwa dunia akademik dan dunia kreatif sesungguhnya dapat berjalan beriringan. Melalui karya-karyanya, Sawitri berupaya menghadirkan budaya Jawa dalam berbagai bentuk yang lebih dekat dengan masyarakat.

Tak hanya aktif menulis, Sawitri juga dikenal sebagai seniman yang menaruh perhatian besar pada pelestarian budaya. Ia kerap menjadi narasumber dalam berbagai seminar, workshop, dialog budaya, pendidikan, UMKM, hingga siaran di sejumlah media seperti RRI Surakarta, RSPD Sukoharjo, perguruan tinggi, serta berbagai lembaga kebudayaan.

Kiprahnya juga terlihat melalui keterlibatan di berbagai organisasi profesi dan kebudayaan, antara lain Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI), IKADBUDI, FORKOM Bela Negara, PDPI, ICMI Sukoharjo, Dewan Kesenian Sukoharjo, Dewan Kesenian Indonesia, Dewan Kesenian Jawa Tengah, Mataram Jaya Binangun, hingga yang terbaru adalah Imanda Sarva Indonesia.

Baca Juga :  Melrose Leather by Melanie Berdayakan Pengrajin Lokal Sukoharjo Lewat Produk Tas Kulit Premium

Di luar aktivitas akademik dan organisasi, Sawitri juga mendirikan Sanggar Ngrumat Budaya sebagai wadah pelestarian budaya sekaligus penguatan kepedulian terhadap lingkungan. Ia juga memimpin komunitas Wanita Gita Budaya yang bergerak dalam pelestarian seni karawitan putri.

Bagi Sawitri, budaya bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan sumber nilai yang harus terus dirawat agar tetap hidup di tengah perubahan zaman. Karena itu, ia memilih terus berkarya, menulis, mengajar, menari, dan menggerakkan komunitas sebagai bagian dari ikhtiarnya menjaga denyut kebudayaan Jawa.

Di tengah derasnya arus digital dan semakin berkurangnya sosok akademisi yang aktif hadir di ruang publik melalui karya tulis dan gerakan kebudayaan, Dr. Sawitri menunjukkan bahwa seorang dosen tetap dapat menjadi penulis, seniman, sekaligus penggerak masyarakat. Sebuah dedikasi panjang yang lahir dari keyakinan sederhana: budaya hanya akan tetap hidup apabila ada orang-orang yang bersedia merawatnya. [*]

 

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.