JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Magelang

Digelar Sederhana Penuh dengan Pembatasan, Nyadran Sewu Kupat di Temanggung Berlangsung Khidmat

Pelaksanaan Nyadran Sewu Kupat di Dusun Gedongan, Desa Ngemplak Kecamatan Kandangan, Kabupaten Temanggung. Istimewa. Foto: Humas Pemprov

TEMANGGUNG, JOGLOSEMARNEWS.COM — Penyelenggaraan tradisi Nyadran Sewu Kupat atau Sadranan Seribu Ketupat di Kecamatan Temanggung tahun ini berlangsung khidmat. Meski pelaksanaannya digelar berbeda akibat pandemi covid-19, perayaan tradisi sebagai ungkapan rasa syukur warga atas limpahan hasil panen berlangsung secara sederhana.

Warga Dusun Gedongan, Desa Ngemplak Kecamatan Kandangan, Kabupaten Temanggung mengadakan acara Nyadran Sewu Kupat atau Sadranan seribu ketupat sebagai ungkapan rasa syukur warga atas limpahan hasil panen pada Jumat (7/8/2020) lalu dengan mengedepankan disiplin protokol kesehatan.

Nyadran Sewu Kupat rutin diadakan setiap tahun pascapanen raya desa, dan jatuh pada Jumat Kliwon. Meskipun masih berada di masa pandemi covid-19, warga Desa Ngemplak tetap menjalankan prosesi sadranan tersebut, namun hanya untuk kalangan terbatas atau warga lokal.

Perwakilan Panitia Nyadran Sewu Kupat yang juga Kepala Urusan Umum Desa Ngemplak Sartono menuturkan, pada tahun sebelumnya arak-arakan dimulai dari depan Masjid Gedongan sampai Kali Dawuhan, dengan membawa tiga buah gunungan berisi hasil bumi dan ketupat. Gunungan dipikul menggunakan tandu oleh warga yang memakai pakaian tradisional, seperti surjan dan blangkon, diiringi warga lain yang juga membawa ketupat menuju tempat prosesi ritual sadranan.

Baca Juga :  Pasien Terinfekasi Covid-19 di Kabupaten Magelang Bertambah 17 Orang

Namun, tahun ini ritualnya lebih disederhanakan dengan meniadakan arak-arakan, dan warga langsung menuju ke lokasi dengan pakaian sehari-hari. Kendati begitu, prosesinya berjalan hikmat.

“Jadi sesederhana mungkin, tetapi hajat yang ada di sini tidak mengurangi dari tahun-tahun sebelumnya, terutama jumlah dan jenis sesaji,” imbuh Sarto.

Sarto berharap, generasi muda terus melestarikan tradisi sadranan ini.

“Untuk generasi muda, saya mohon untuk meningkatkan acara seperti ini, jangan sampai dikurangi, dan lokasi ini perlu pembenahan dan perbaikan. Dari doa maupun kidung untuk tetap ditingkatkan. Yang belum sempurna, disempurnakan,” ujarnya.

Sarto mengungkapkan, tradisi Nyadran Sewu Kupat bermula ketika Kiai dan Nyai Lenging membuka lahan atau babat alas di daerah perbukitan, yang dinamakan perkampungan Slenging, atau sekarang dikenal sebagai Dusun Gedongan.

“Sebenarnya dulu di sini itu tidak ada kali. Ya gini aja hanya pegunungan dan tidak ada kali,” kata Sarto.

Baca Juga :  Mahasiswi Cantik Asal Banyumas Tergulung Ombak Saat Selfi di Pantai Logending, 4 Hari Kemudian Jenazahnya Ditemukan Nelayan Kebumen

Menurut dia, jumlah seribu ketupat itu terkait erat dengan jumlah ketupat yang disediakan Nyai Lenging untuk Kiai Lenging ketika membuat saluran air sepanjang Desa Ngemplak. Dengan adanya saluran air, tanah di Kampung Slenging atau Dusun Gedongan menjadi subur dan menghasilkan hasil bumi yang melimpah. Untuk mengenang jasa Kiai Lenging, warga Desa Ngemplak, khususnya Dusun Gedongan, mengadakan tradisi ritual nyadran atau doa bersama sebagai rasa syukur.

“Diperingati dengan membawa ketupat sejumlah 1.000 atau lebih. Kenapa membawa ketupat, karena dulu itu Mbah Kiai tiap hari membawa bekal berupa ketupat untuk berbuka, dan tidak ada lauk yang lain,” terangnya.

Dikatakan, warga meyakini jika makan ketupat sadran usai prosesi ritual, akan mendapatkan berkah. Makanya, banyak orang yang berduyun-duyun datang ke acara Nyadran untuk mendapatkan ketupat tersebut.

“Tapi yang saya yakini Insyaallah bahwa berkah itu dari Allah, dan kegiatan itu hanya lantaran saja,” pungkasnya. Satria Utama