JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Disdikbud Sragen Tegaskan Sekolah Tatap Muka Untuk 133.607 Siswa Tetap Dimulai 31 Agustus. Siswa Diminta Bawa Bekal dari Rumah!

Kadisdikbud Sragen, Suwardi. Foto/Wardoyo
Kadisdikbud Sragen, Suwardi. Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Pemkab Sragen melalui Dinas Pendidikan Kebudayaan (Disdikbud) Sragen menegaskan wacana sekolah tatap muka tetap pada rencana semula yakni dimulai tanggal 31 Agustus 2020 mendatang.

Melonjaknya angka kasus covid-19 beberapa hari terakhir dipastikan tidak mempengaruhi rencana pembelajaran tatap muka bagi 133.607 siswa yang ada di semua jenjang sekolah di Sragen.

Kepala Disdikbud Sragen, Suwardi menyampaikan pembelajaran tatap muka tetap pada rencana semula yakni mulai 31 Agustus.

Saat ini sedang menyiapkan Petunjuk teknis (Juknis) tentang gambaran yang harus dikakukan di sekolah. Langkah yang disiapkan yakni terkait perangkat penunjang protokol kesehatan.

Seperti thermogun, wastafel dan mewajibkan semua siswa kenakan masker. Untuk kepentingan itu, hari ini tadi pihaknya sudah mengumpulkan semua Kasek SMP yang nantinya diikuti Kasek TK hingga SD.

”Tidak berubah tetap 31 Agustus. Ini sedang kami siapkan Juknisnya. Masih menyiapkan persyaratan seperti yang tertuang dalam SKB empat menteri. Selain itu juga menyiapkan peralatan yang berkaitan dengan penanganan Covid-19,” ujarnya Rabu (19/8/2020).

Suwardi menguraikan untuk memastikan keamanan siswa saat belajar tatap.muka, sekolah wajib memiliki thermogun, disinfectan, wastafel dan masker untuk mengurangi resiko potensi.

Baca Juga :  Insiden Viral Ratusan Pelamar Berdesakan Sampai Terinjak-Injak di Pabrik Boneka Masaran Sragen, Dinas Sesalkan Manajemen Tak Koordinasi Dulu

Kemudian dilakukan pembatasan durasi pembelajaran. Nantinya siswa hanya masuk tiga kali dalam sepekan dan mengikuti 50 persen dari jumlah rombel. Dengan pembatasan ini maksimal hanya 4 jam pelajaran di sekolah.

”Disiapkan menjadi separuh kelas agar bisa jaga jarak. Separuh itu jika SMP maksimal 16 anak karena biasanya 32 anak. Sedangkan SD maksimal 14 anak karena rombel ada 28. Sedangkan TK dan PAUD hanya 5 anak,” terang Suwardi.

Dia menegaskan secara teknis juknisnya nanti mengikuti masing-masing sekolah.
Lantas jika dari orang tua belum memperbolehkan dilakukan tatap muka, maka tetap dilayani pembelanjaran dengan daring.

Suwardi menyampaikan selama pembelajaran daring diakui memang masih banyak kendala. Banyak yang menginginkan dilakukan pembelajaran tatap muka. Namun dinas juga tidak boleh gegabah dalam mengambil tindakan.

”Kita dorong untuk anak juga membawa bekal dari rumah. Menghindari kekhawatiran berkerumun di tempat jajanan. Kita menghindari sekolah jadi klaster baru. Kami siap dengan apapun keputusannya namun juga langkah ini tetap dilakukan evaluasi dan diawasi,” tukasnya.

Saat ini banyak masih daring di Sekolahan. Karena kemampuan dan fasilitas tersedia di sekolah.

Baca Juga :  Pidato Sidang Umum PBB: Presiden Jokowi Tegaskan Setiap Negara Berhak untuk Akses Vaksin Covid-19, Sebut Vaksin Jadi Game Changer Perang Global Melawan Pandemi

‘Namanya pendidikan peran guru tidak bisa digantikan. Sulit membentuk anak dari kejauhan,” kata dia.

Sedangkan disinggung soal pembelajaran di tingkat SMA sederajat, Suwardi menegaskan masih menunggu koordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jateng.

”Dari keputusan nanti provinsi seperti apa kita kordinasi,” tuturnya.

Suwardi memahami kemampuan masyarakat untuk mendidik sendiri terbatas. Pihaknya mengupayakan maksimal agar pendidikan berjalan dengan baik. Saat ini ada 133.607 siswa dari PAUD sampai SMP.

Terpisah, Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati mengatakan, pihaknya telah memerintahkan Dinas Pendidikan untuk meminta konfirmasi kepada orang tua murid terlebih dahulu.

Hal ini dilakukan untuk tetap mengakomodir siswa yang tetap menghendaki model pembelajaran daring.

“Jadi nanti yang setuju, jalan (tatap muka). Yang tidak setuju biar daring di rumah. Toh sistem sudah jalan,” paparnya.

Pihaknya mengakui keputusan sekolah tatap muka ini mengandung resiko. Namun menurutnya, hal ini dilakukan untuk mengakomodir kesulitan siswa yang mengalami banyak kendala dalam melaksanakan sistem belajar via online.

“Beresiko pasti, tapi kita bisa mengakomodir kesulitan orang. Jika memang bisa daring silakan tetap belajar di rumah,” pungkasnya. Wardoyo