JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Nasional

Memperingati Hari Pramuka, 14 Agustus 2020: Ini Sejarah Pramuka di Indonesia Sejak Masa Penjajahan Belanda

Danramil Gondang, Kapten Inf Warisman saat menjadi Irup dalam upacara pembukaan Kemah HUT Pramuka ke-58 se-Kecamatan Gondang di Bumi Perkemahan Samdonorejo, Desa Tegalrejo, Gondang, Senin (12/8/2019). Foto: Joglosemarnews/Wardoyo

JOGLOSEMARNEWS.COM Setiap tanggal 14 Agustus, Indonesia memperingati Hari Pramuka, yang bertepatan dengan 59 tahun sejak diperkenalkannya Gerakan Pramuka kepada seluruh rakyat Indonesia pada 14 Agustus 1961.

Lantas bagaimana sejarah terbentuknya Gerakan Pramuka yang dulu disebut Gerakan Kepanduan ini?

Pramuka, yang merupakan singkatan dari Praja Muda Karana, yang berarti Jiwa Muda yang Suka Berkarya, merupakan sebuah kegiatan pendidikan non-formal untuk pengembangan kemampuan dan pembentukan karakter.

Cikal bakal gerakan Pramuka di Indonesia disebut sudah ada sejak tahun 1912. Ini merupakan gerakan yang mengadaptasi gerakan kepanduan dunia, Scout Movement, yang dicetuskan oleh Robert Baden-Powell, seorang tentara Angkatan Darat Inggris berpangkat letnan satu umum.

Gerakan itu lantas menyebar ke seluruh dunia dan diikuti berbagai negara lain, termasuk Indonesia.

Masuknya gerapan kepanduan ke Indonesia bisa dikatakan dibawa oleh Belanda yang saat itu mendirikan cabang Nederlandsche Padvinders Organisatie (NPO) pada 1912, yang kemudian berganti nama menjadi Nederlands-Indische Padviders Vereeniging (NIPV) pada 1916.

Baca Juga :  Suntik Vaksin Covid-19 yang Dijalani Jokowi Hanya Turunkan 2 Persen Penolakan Masyarakat

Di tahun yang sama, rakyat Indonesia mulai mendirikan organisasi kepanduannya sendiri. Yang pertama adalah Javaansche Padviders Organisatie yang diprakarsai oleh SP Mangkunegara VII.

Tahun-tahun berikutnya, semakin banyak gerakan kepanduan bernapaskan nasionalis dan keagamaan yang didirikan oleh organisasi Indonesia.

Kemudian pada tahun 1923, Belanda mendirikan organisasi yang dinamakan Nationale Padvinderij Organisatie (NPO) di Bandung dan Jong Indonesische Padvinderij Organisatie (JIPO) di Jakarta.

Kedua organisasi tersebut kemudian meleburkan diri menjadi satu, bernama Indonesische Nationale Padvinderij Organisatie (INPO) di Bandung pada tahun 1926.

Selanjutnya, antara 1928-1935 bermunculan gerakan kepanduan Indonesia, baik yang bernapaskan kebangsaan maupun keagamaan.

Kepanduan yang bernapas kebangsaan antara lain Pandu Indonesia (PI), Padvinders Organisatie Pasundan (POP), Pandu Kesultanan (PK), Sinar Pandu Kita (SPK) dan Kepanduan Rakyat Indonesia (KRI).

Baca Juga :  Tindak Lanjuti Perintah Kapolri, Mabes Polri Langsung Bentuk Satgas Anti Mafia Tanah

Sedangkan yang bernapas keagamaan ada Pandu Ansor, Al Wathoni, Hizbul Wathan, Kepanduan Islam Indonesia (KII), Islamitische Padvinders Organisatie (IPO), Tri Darma (Kristen), Kepanduan Asas Katolik Indonesia (KAKI), Kepanduan Masehi Indonesia (KMI).

Seiring waktu, gerakan-gerakan kepanduan yang berbasis pada latar belakang kebangsaan maupun keagamaan melebur menjadi satu gerakan besar, yaitu Gerakan Pramuka pada 1961, yang dilandasi Keputusan Presiden RI Nomor 238 Tahun 1961, tanggal 20 Mei 1961.

Selanjutnya pada tanggal 14 Agustus 1961, dilangsungkan kegiatan apel besar dan defile Pramuka yang bertujuan untuk memperkenalkan Gerakan Pramuka Indonesia kepada khalayak di Jakarta yang diikuti sekitar 10.000 anggota. Momen tersebut yang kemudian diperingati setiap tahun sebagai Hari Pramuka Indonesia.