JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Nasional

Penyebaran Covid-19 di Indonesia Tidak Terkendali

Ilustrasi positif corona. Pixabay

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM  -Situasi penyebaran Covid-19 di Indonesia dinilai tidak terkendali. Penilaian itu merupakan bagian dari survei yang dilakukan oleh Lembaga Indikator Politik Indonesia.

Sebanyak 64,4 persen elite menganggap penyebaran Covid-19 di Indonesia kurang atau tidak terkendali sama sekali.

“Sementara 35,5 persen menilai cukup terkendali,” kata Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi, dalam konferensi pers virtual, Kamis (20/8/ 2020).

Terkait prioritas yang harus dikerjakan, sebanyak 71,1 persen elite meminta pemerintah pusat mendahulukan masalah kesehatan ketimbang ekonomi.

“Hanya 25,3 persen yang memilih pemerintah lebih baik memprioritaskan ekonomi dan 3,6 persen tidak menjawab,” ucap dia.

Baca Juga :  Sempat Dirawat Karena Terpapar Covid-19, Sekda DKI, Saefullah Akhirnya Meninggal

Selain itu, mayoritas elite (54,6 persen) menilai agar penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dilanjutkan. Sedangkan 43,4 persen merasa PSBB sudah cukup dan bisa dihentikan agar ekonomi berjalan.

Burhanuddin Muhtadi mengatakan survei ini berbeda dari biasanya karena membutuhkan kualitas informasi dari para responden untuk mengevaluasi model penanganan Covid-19 yang dilakukan pemerintah pusat dan daerah, kepemimpinan para pengambil keputusan, struktur birokrasi. Karena itu, responden dalam survei ini adalah mereka yang dianggap sebagai pemuka opini.

Survei ini dilakukan sejak awal Juli hingga awal Agustus 2020. Respondennya adalah 304 orang pemuka opini dari 20 kota yang terdiri dari akademikus yang menjadi rujukan media, pengamat kesehatan, sosial, dan politik, redaktur politik dan kesehatan media, pengusaha, tokoh organisasi keagamaan, tokoh organisasi masyarakat, LSM, dan organisasi profesi.

Baca Juga :  Bawaslu: 40 Balon Kepala Daerah Positif Covid-19, Tapi Nekat ke KPU

Ia menuturkan tidak adanya data populasi pemuka opini membuat pemilihan responden tidak dilakukan secara random, melainkan secara purposif, terutama dicari dari media massa nasional atau daerah.

“Namun karena jumlah responden survei ini cukup banyak, dan terdiri dari pemuka opini yang sering menjadi rujukan, maka hasil survei ini cukup menyuarakan penilaian pemuka opini pada umumnya,” ujar Burhanuddin.

www.tempo.co