JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Tak Peduli Pandemi, Ribuan Warga Tetap Menyemut Padati Tradisi Malam 1 Suro di Pasar Tambak Sribit Sragen. Tuah Cemeti dan Perabot Dapur Paling Diburu Pengunjung

Para pengunjung memadati lokasi tradisi sewindu Pasar Tambak di Desa Sribit, Kecamatan Sidoharjo, Sragen, Jumat (21/8/2020) malam. Foto/Wardoyo

 

Para pengunjung memadati lokasi tradisi sewindu Pasar Tambak di Desa Sribit, Kecamatan Sidoharjo, Sragen, Jumat (21/8/2020) malam. Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Meski tak mendapat izin dari Pemdes setempat, tradisi malam satu suro di Pasar Tambak Desa Sribit, Kecamatan Sidoharjo, Sragen tetap berjalan.

Ribuan warga dari sekitar dan luar kota datang berbondong-bondong untuk berburu tuah di malam puncak tradisi sewindu Pasar Tambak, yang jatuh pada hari Jumat Wage (21/8/2020) malam.

Pantauan JOGLOSEMARNEWS.COM , ribuan warga mulai memadati lokasi Pasar Tambak sejak Jumat sore sekitar pukul 18.30 WIB.

Meski pandemi covid-19 dan tiadanya izin dari Pemdes, tak menyurutkan animo para pengunjung untuk datang menyemarakkan tradisi sewindu Pasar Tambak.

“Tadi siang sempat ada kabar kalau Pasar Tambak ditutup dan nggak akan diadakan karena ada pandemi covid-19. Namun agak malam banyak teman yang datang ke sana dan akhirnya kita juga berangkat,” ujar Sriyono, salah satu warga Desa Kecik, Tanon, ditemui di lokasi Pasar Tambak yang konon dipercaya sebagai tempat persinggahan Pangeran Joko Tingkir.

Di lokasi Pasar Tambak, pengunjung berkeliling sembari memburu beberapa barang perabot rumah tangga dari bambu yang dijual oleh puluhan pedagang di pasar itu.

Ada cemeti, nyiru, kukusan, beruk, serok, dan beberapa perabot dapur lainnya. Barang-barang buatan warga setempat yang dijual di Pasar Tambak konon diyakini membawa tuah bisa memperlancar rejeki dan banyak berkah lainnya.

Baca Juga :  Kepala DPUPR Sragen Dilaporkan ke Kejaksaan Negeri. Terkait Dugaan Tipikor Urusan Proyek, Potensi Kerugian Negaranya Sungguh Mencengangkan! 

“Saya beli nyiru, kalo, bakul dan sapu. Semua Rp 50.000 dapat empat biji. Ya katanya kalau beli di pasar Tambak ini bisa mbawa berkah. Apalagi ini kan petungan jawanya kan suro yang puncak karena hanya ada delapan tahun sekali. Makanya kami datang jauh-jauh ke sini,” tutur Adnan, warga Sosa, Padang Lawas, Sumatera Utara yang kebetulan baru pulang di rumahnya di Sragen.

Salah satu tokoh setempat, Ngatiran (50), menuturkan gelaran Pasar Tambak kali ini memang berlangsung tanpa kepanitiaan. Sebab pihak desa jauh-jauh hari sudah menyatakan tidak akan menerbitkan izin demi menghindari kerumunan di masa pandemi.

Namun ternyata pandemi tak bisa mengalahkan tradisi di Pasar Tambak yang sudah turun temurun terwarisi. Hal itu dibuktikan dengan ribuan pengunjung yang nekat berdatangan untuk menyaksikan tradisi Pasar Tambak.

“Dari desa memang nggak ada izin. Ini pada datang sendiri. Ribuan orang Mas, tadi yang paling ramai habis Isyak sekitar jam 19.30 WIB. Jalan masuk sudah nggak muat orang,” tuturnya.

Seorang nenek sampai terkantuk-kantuk menju dagangan perabot dari anyaman bambu di Tradisi Pasar Tambak. Foto/Wardoyo

Meski berkerumun, mayoritas pengunjung juga terlihat mengenakan masker. Beberapa orang juga sempat tersengar memberikan imbauan jaga jarak dan pakai masker melalui pengeras suara.

Baca Juga :  Satu PNS Bappeda Sragen Positif Terpapar Covid-19, Semua Pegawai Satu Ruangan Pagi Ini Langsung Diswab Semua. Kepala Bappeda Pastikan Layanan Tetap Jalan!

Bahkan, hingga pagi hari, aliran pengunjung masih berdatangan untuk menyaksikan Pasar Tambak.

Kepala Desa (Kades) Sribit Sutaryo saat dihubungi wartawan menegaskan pemerintah desa memang tidak memberikan ijin perihal pelaksanaan gelaran pasar tambak.

Pasalnya kondisi pandemi covid-19 saat ini sangat rawan mengundang kerumunan. Pihaknya tidak tahu jika tradisi Pasar Tambak tetap berjalan.

“Saya tidak tahu. Karena kemarin memang tidak kita izinkan. Padahal suronan ini termasuk tradisi 8 tahunan,” ujarnya.

Sebelum merebaknya pandemi Covid-19 ini sebenarnya Pasar Tambak diharapkan menjadi ikon wisata di Desa Sribit. Karena banyak pengunjung yang tertarik hadir di pasar tambak.

Anggota Komisi IV DPRD Sragen, Faturrohman pernah menyampaikan sudah ada pembangunan joglo pendopo jelang peringatan sewindu yang sebenarnya jatuh pada Jumat (21/8/2020).

Ke depan kawasan tersebut juga berpotensi dibuat kolam pemancingan agar lebih ramai dan didatangi warga.

”Bagian timur bisa jadi kolam, tapi banyak butuh dukungan agar menarik jadi destinasi wisata,” ujarnya.

Dia menyampaikan Pasar tambak bisa menjadi salah satu faktor keunikan yang dimiliki desa Sribit. Sangat potensial untuk dikembangkan. Terutama dalam melestarikan budaya dan tradisi setempat. Wardoyo