JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Karanganyar

Tak Punya HP Android dan Kuota, Banyak Siswa Miskin di Karanganyar Kesulitan Belajar Daring. Anggota DPRD Dorong Pemerintah Buat Kampung Internet dari APBD

Joko Pramono. Foto/Istimewa
Joko Pramono. Foto/Istimewa

KARANGANYAR, JOGLOSEMARNEWS.COM – Sebagian besar waraga Karanganyar, mengeluhkan sistem belajar secara online ditengah pandemi Covid-19.

Kondisi ekonomi utamanya bagi siswa dari kalangan tidak mampu, membuat mereka tak bisa mengikuti pembelajaran via daring akibat ketiadaan HP android atau kesulitan membeli kuota.

Hal tersebut dikatakan anggota DPRD Karanganyar, Joko Pramono, saat dihubungi melalui sambungan telepon, Kamis (30/7/2020).

Menurut Joko, keluhan tersebut disampaikan warga saat melakukan kegiatan penyerapan aspirasi saat reses, di wilayah Kecamatan Colomadu dan Gondangrejo.

“Sejumlah keluhan yang disampaikan, mulai dari kesulitan sinyal, masalah kuota, serta tidak memilki telepon pintar atau android yang disebabkan karena faktor ekonomi,” terang Joko.

Baca Juga :  87 Warga Karanganyar Terdata Gelar Hajatan Hari Ini dan Besok. Kepala Satpol PP Ingatkan Hajatan Hanya Siang Hari, Wilayah Terkonfirmasi Covid-19 Tidak Diizinkan!

Untuk mengatasi berbagai persoalan pendidikan yang terjadi selama pandemi Covid-19 ini, politisi PDIP tersebut mendorong pemerintah mencair solusi yang tepat.

Sehingga proses belajar melalui daring ini, dapat diikuti oleh seluruh siswa, terutama untuk meringankan biaya pembelian kuota internet.

“Kita mendorong dibuatkan kampung internet atau sentra internet kampung. Tapi khusus untuk anak sekolah, bukan untuk umum. Dengan demikian, warga bisa terbantu. Sedangkan untuk anggaran, dapat diambil dari APBD,” ujarnya.

Sementara tenaga pendidik mengaku sering menerima keluhan dari warga terkait sistem belajar yang dilakukan secara online ini, terutama dari keluarga tidak mampu.

Baca Juga :  Indonesia Dinilai Tak Aman karena Pandemi Covid-19, Timnas U-16 Pilih Jalani Pemusatan Latihan di Luar Negeri

Meurut orang tua siswa, proses belajar melalui online sangat tidak efektif dan cenderung terjadi pemborosan.

“Keluhan tersebut kami terima dari orang tua siswa saat melakukan kunjungan ke rumah siswa (home visit). Dalam satu rumah bahkan ada yang hanya memilki satu android. Itupun hanya dimiliki oleh kepala keluarga. Praktis siswa tidak dapat mengikuti pelajaran secara online. Siswa baru dappat mengerjakan soal dari guru, setelah orang tua pulang dari bekerja,” ujar salah satu guru, S, kepada wartawan. Wardoyo