JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Kapolres Sragen Ungkap Sejumlah Siswi SMP Korban Predator asal Mondokan, Sempat Menangis Saat Dipaksa Layani Hubungan Intim di Kuburan. Satu Siswi asal Tanon Bahkan Sempat Dicekik

Tersangka predator seks dengan korban-korban siswi SMP asal Mondokan Sragen saat dikeler di Mapolres. Foto/Wardoyo
madu borneo
madu borneo
madu borneo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Aksi predator seksual atau pelaku kejahatan seksual bernama Indrawan (20), warga Dukuh Kalidoro, Kedawung, Mondokan, Sragen, ternyata sudah memakan banyak korban.

Tidak hanya itu sebagian korban juga sempat menangis dan berontak saat dipaksa melayani pelaku untuk berhubungan intim di kuburan Cina wilayah Desa Katelan, Tangen.

“Sebagian korban ada yang menangis saat dipaksa oleh tersangka untuk berhubungan intim,” papar Kapolres Sragen, AKBP Raphael Sandhy Cahya Priambodo sembari menginterogasi tersangka di Mapolres Sragen kemarin.

Kapolres menguraikan sejauh ini, hasil penyelidikan polisi, sudah tiga siswi SMP jadi korban kebiadaban pemuda yang berprofesi sebagai buruh bangunan itu.

Namun diperkirakan jumlahnya masih bisa bertambah mengingat dimungkinkan masih ada korban lain yang belum berani melapor.

Celakanya, semua korban diperdaya terlebih dahulu sebelum kemudian diperkosa. Bahkan dalam setiap aksinya, pelaku selalu menyertakan kekerasan dengan memukul menampar hingga kemudian menyetubuhi paksa korbannya.

“Sejauh ini yang resmi melapor sudah ada tiga korban. Hasil pengembangan yang kami lakukan masih ada korban yang lain yang juga di bawah umur. Tersangka ini adalah predator anak-anak yang mengincar korban di bawah umur dan masih sekolah. Rata-rata berusia 15-16 tahun,” urai Raphael.

Baca Juga :  Astagfirullah, Begini Penampakan Mobil Ketua DPC Gerindra dan Wakil Ketua DPRD Pekalongan Yang Tewas Kecelakaan Maut di Tol Sragen

Kapolres menguraikan tersangka sehari-hari bekerja sebagai buruh harian lepas tukang bangunan. Aksinya dilakukan karena tersangka punya fantasi hal-hal yang sangat tidak baik.

Dari pengakuan tersangka, dia mengenal korban melalui jejaring media sosial FB. Kemudian dari perkenalan itu komunikasi berlanjut via whatsapp (WA).

“Korban kemudian diajak ketemuan dan dia fitnah korban bahwa dia dapat foto akan menyebarkan foto tidak pantas milik korban hingga viral. Akhirnya korban menuruti kemauannya. Kemudian diajak ketemuan dan jalan ke kuburan Cina di wilayah Katelan, Tangen. Di situlah tersangka memaksa korban melayani hingga terjadilah persetubuhan paksa. Tersangka menakut-nakuti korban dengan foto yang didapat dari medsos. Kemungkinan tersangka sudah profiling korbannnya terlebih dahulu hingga dia dapatkan foto-fotonya,” terangnya.

Tersangka juga selalu melancarkan ancaman akan membunuh korban jika tidak mau menuruti nafsunya bejatnya.

Baca Juga :  (Bag 4) Kisah Haru Perjuangan Ervan,  Bocah Asal Sragen 11 Tahun Hilang di Jakarta Akhirnya Bisa Bertemu Keluarganya. Lepas dari Sindikat Pengamen Berkat Razia Satpol PP, Sempat Punya 4 Nama Hingga 4 Kali Ganti Orangtua Asuh

Termasuk kepada korban HUL (15),yang sempat memberontak, tersangka mengaku memperkosa dengan cara membekap korban dan kemudian mencekik lehernya serta menampar korban.

Meski dicekik dan dibekap, korban sempat melakukan perlawanan dengan cara memberontak.

Namun siswi itu kalah tenaga dan akhirnya pasrah ketika tersangka memasukkan pakda tangannya ke dalam celana korban dan kemudian menyetubuhinya secara paksa.

Selesai melampiaskan hasratnya, tersangka kemudian mengantar korban pulang ke rumah. Korban yang merasa sudah dinodai, akhirnya tak tahan dan menceritakan apa yang menimpanya kepada kakaknya.

Hingga kemudian kasus itu dilaporkan ke Polres Sragen. Kapolres menambahkan tersangka melalukan aksinya siang hari pukul 14.00 WIB. Tak cukup memperdaya korban, tersangka juga membawa kabur HP milik korban.

“Dari hasil pengembangan, ternyata korbannya lebih dari satu orang. Dan rata-rata berusia 15 sampai 16 tahun,” urai Kapolres.

Tersangka sudah diamankan di Mapores Sragen berikut barang bukti. Di antaranya pakaian korban dan tersangka yang dikenakan saat kejadian, HP dan barang lainnya. Wardoyo