JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Semarang

Mitos-mitos Rawa Pening, Bikin Merinding, Tapi Mengasyikkan

Selain panorama keindahan alam, Rawa Pening diliputi dengan mitos dan kisah misteri yang menambah daya tarik tersendiri / lulu - joglosemarnews

SEMARANG, JOGLOSEMARNEWS.COM – Siapa yang tidak mengenal Rawa Pening? Rawa yang berada di wilayah Kabupaten Semarang, tepatnya di Ambarawa itu, sangat terkenal dengan keindahan alamnya.

Rawa pening tidak hanya menghadirkan suguhan keindahan alam saja. Pengelolaan pariwisata di kawasan tersebut juga berkembang pesat.

Ada yang disebut dengan kampung rawa, ada bukit cinta, hingga jembatan biru. Selain mengandalkan keindahan alam, objek wisata Rawa Pening diliputi dengan berbagai ciri tradisi, seperti mitos asal usul nama Rawa Pening. Mitos semacam ini menjadi daya tarik sendiri di tengah masyarakat.

Sesepuh Desa Asinan di mana Rawa Pening itu berada, Mbah Bejo Alwi, mengisahkan, dahulu kala nama Rawa Pening berawal dari sebuah kerajaan yang bernama Malowopati.

“Suatu ketika, sang Raja mengadakan ritual merti dusun/ritual desa, yang mengharuskan mbedak (berburu-red) ke hutan untuk membuat lauk pauk,” kisah Mbah Bejo kepada Joglosemarnews belum lama ini.

Singkat cerita, di tentah hutan, para prajurit yang berburu menemukan ular yang kemudian ditangkap dan dibawa pulang untuk dimasak.

Saat itulah, ada seorang nenek yang berpenyakit gatal-gatal meminta olahan masakan ular itu untuk obat. Namun permintaan nenek tua itu tak dianggap oleh para prajurit dan abdi dalem.

Lalu, demikian kisah Mbah Bejo, diadakanlah sayembara mencabut lidi yang ditancapkan dalam tanah. Sebelum sayembara itu dimulai, nenek berpenyakitan itu sudah mengingatkan orang-orang untuk menyiapkan lesung, karena sebentar lagi daerah itu akan tenggelam.

Baca Juga :  Dapat Posisi Kanan, Cabup Petahana Grobogan, Sri Sumarni Langsung Ucapkan Alhamdulillah. Targetkan Raup 95 Persen  Suara

Namun, lagi-lagi peringatan dari nenek berpenyakitan itu diabaikan. Lalu terjadilah, saat lidi dicabut, memancarlah air dari lubang bekas lidi tersebut tertancap.

Air terus memancar hingga terbentuklah rawa. Kawasan yang terendam air itulah yang kini disebut dengan Rawa Pening.

Selain asal muasal nama Rawa Pening, masih banyak mitos bermunculan, yang membuat aura mistis kawasan wisata tersebut.

Salah satunya yang diungkap Mbah Bejo Alwi adalah keberadaan ikan. Mitos ini terkadang masih berlaku hingga sekarang.

“Terkadang jika banyak ikan yang berhasil ditangkap, kemudian ingin dijual, maka ikan itu akan sulit untuk laku,” tutur Mbah Bejo.

Ada juga kisah yang menyelimuti kawasan Rawa Pening. Di kawasan itu masih berkembang kepercayaan banyak roh-roh menjelma sebagai sahabat dekat wisatawan, hingga ia lupa bahwa ia telah tenggelam di Rawa Pening.

“Kebanyakan peristiwa orang tenggelam di Rawa Pening karena wisatawan melamun, muncul rasa takut, sampai kemudian terjadi kecelakaan tenggelam,” bebernya.

Mitos atau misteri lain menurut Mbah Bejo yaitu jika ada orang luar desa yang merekam kesenian reog yang ada di daerah tersebut tanpa izin terlebih dahulu, dipercayai bahwa orang yang melihat rekaman tersebut akan kesurupan.

Baca Juga :  Niatnya Pamer Jumping, Anggota Klub Motor KLX Malah Bikin Celaka. Sebabkan Kecelakaan, Puluhan Motor Anggota Komunitas Langsung Digaruk Polisi
Tim penulis bersama dengan Mbah Bejo Alwi (2 kanan) / lukman – joglosemarnews

Di luar itu, masih ada misteri lainnya yang secara kasat mata dapat dibuktikan. Misalnya, misteri tanah atau pupuk kompos alami yang sifatnya abadi di dalam Rawa Pening.

Tanah tersebut setiap harinya dikeruk dan diambil untuk berbagai keperluan. Namun demikian, walaupun setiap hari diambil sampai ber ton-ton, kompos alami di Rawa Pening itu tidak sedikit pun berkurang.

Cerita misteri lainnya menyebutkan, suatu hari ada seseorang yang akan mengeruk pupuk kompos alami di Rawa Pening. Ia naik sejenis mesin pengeruk yang besar.

“Saat orang itu akan mengeoperasikan alat pengeruk tersebut, tiba-tiba dia menjadi hilang arah. Linglung,” ungkap Mbah Bejo.

Mitos-mitos atau cerita misteri itulah yang menjadi daya tarik sendiri bagi objek wisata Rawa Pening, selain keidahan alamnya yang elok.

Oleh taburan cerita mistis tersebut, Mbah Bejo mengingatkan para pengunjung Rawa Pening hendaknya berdoa terlebih dulu sebelum masuk kawasan tersebut.

Para wisatatawan juga diminta untuk memiliki tujuan yang baik, tak punya niat jahat atau jahil. Pengunjung juga dilarang untuk melamun.

“Dan yang penting, jangan pernah membayangkan hal-hal yang tidak baik akan terjadi,” ujar Mbah Bejo menutup pembicaraan. Lukman – Najmi Yafi