JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Semarang

Sanggar Tari Nyi Pandansari, Tetap Eksis di Tengah Pandemi

Sanggar tari Nyi Pandansari / lupita - joglosemarnews

SEMARANG, JOGLOSEMARNEWS.COM – Pandemi Covid-19 membawa dampak besar kepada setiap individu maupun kelompok. Pembatasan untuk beraktivitas di luar rumah adalah salah satu yang menjadi kendala.

Tetapi kendala tersebut tidak berlaku pada kelompok kesenian tari Nyi Pandansari. Sanggar Tari Nyi Pandansari tetap berkarya di saat pandemi.

Semangat berkarya untuk menjadi yang lebih baik terus digelorakan dalam hati, sekaligus dilakukan secara riil oleh Sanggar Tari Nyi Pandan Sari.

Di kancah kesenian, sanggar tari Nyi Pandansari telah berkiprah sekitar 27 tahun sampai sekarang. Sanggar itu merupakan sanggar turun temurun yang sekarang di ketuai oleh Septa Adiya Anuraga.

“Kami diberi tugas untuk mengurus dan mengembangkan Sanggar Tari Nyi Pandansari ini,” ujar Septa kepada Joglosemarnews beberapa hari lalu.

Septa menjelaskan, nama Nyi Pandansari diambil dari sesorang yang mempunyai pengaruh cukup besar di  daerah Boja, Kabupaten Kendal. Sehingga, untuk mengenang  Nyi Pandansari dijadikanlah Nyi Pandansasri sebagai nama sanggar itu.

Sekalipun sudah berdiri tahun 1992 silam, namun Sanggar Nyi Pandansari sampai sekarang masih belum memiliki tempat yang tetap.

Untuk melakukan kegiatannya, sangar tari Nyi Pandansari terus berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya.

Namun, ujar Septa, pada tahun 2015 akhirnya dibangun Sanggar Nyi Pandansari di atas tanah seluas 40 x 30 meter yang berada di Boja, Kabupaten Kendal. Septa menuturkan proses  pembangunan sanggar itu sebenarnya dari uang pribadi.

Baca Juga :  Limbah Medis Virus Corona Blora Telah Mencapai 369 Ton, Sama Dengan Volume Tahun 2019

Tari yang biasanya dibawakan oleh Sanggar Nyi Pandansari terdiri dari tarian tradisional dan tarian kontemporer. Untuk menghemat biaya, maka kostum dan alat-alat pementasan lain dibuat sendiri.

Menurut Septa, pada saat pandemi seperti sekarang ini, Sanggar Tari Nyi Pandansari tetap melakukan kegiatan latihan rutin. Hanya saja, jumlahnya dibatasi dalam satu minggu dan hanya di hari Jumat.

“Pagi hari untuk anak-anak, dan malam hari untuk dewasa. Tentu dengan menerapkan protokol kesehatan yang dianjurkan pemerintah,” ujar Septa.

Secara keseluruhan anggota Sanggar Tari Nyi Pandasari berjumlah kurang lebih 80 orang. Mereka terdiri dari para siswa tingkat SD, SMP, SMA, Perguruan Tinggi maupun masyarakat umum.

Untuk menyiasati kondisi saat pandemi, ujar Septa, mereka melakukan pentas secara virtual. Bahkan rencana ke depan,  sanggar tersebut akan mengadakan pentas virtual yang berbeda dari biasanya.

“Rencana Oktober kita gelar,” ujar Septa.

Dari penjelasan Septa, sanggar tersebut mampu  bertahan lama karena dilandasi ketulusan pada pengabdian yang dilandasi hobi dan kecintaan. Para pengelola, lanjut Septa, tidak terlalu menuntut insentif dari anggota ataupun pemerintah.

Tujuan utama dari pembuatan sanggar tersebut adalah untuk mewadahi karya dan kreativitas masyarakat umum.

Baca Juga :  Kejar Mimpi Semarang Bangun Motivasi Anak Panti Asuhan Melalui Kegiatan Volunteering

Septa menyadari, setiap kegiatan di sanggar tersebut membutuhkan dana. Untuk mendapatkan dana, merka menggunakan pemasukan 50 persen hasil lomba, penyewaan baju, uang pendaftaran Rp 20.000 satu kali seumur hidup.

“Ada juga anggota yang hanya membayar Rp 5.000 untuk setiap kali latihan,” ujarnya.

Septa mengatakan, sanggar tersebut memang tidak ingin memberatkan anggotanya. Pasalnya, ada anggota yang mau belajar menari saja sudah menguntungkan, karena mencari anggota yang benar-benar serius sangat susah.

Hampir kebanyakan anggota tidak terlalu bisa menari, maka latihan biasanya harus di mulai dari dasar. Namun hal itu tidak meyurutkan semangat Septa selaku Ketua.

“Lebih baik dari dasar dan serius daripada sudah bisa tapi tidak serius. Kita hadir lebih untuk mewadahi, supaya anak-anak bisa bergaul dalam hal-hal positif,” ujar Septa.

Sanggar Nyi Pandansari selain melakukankan kolaborasi dengan kesenian lainnya, juga pernah berkolaborasi dengan Motor Antik Club Kendal (MACI). Pernah juga dengan kelompok kesenian modern, seperti beatbox dan lain-lain.

Harapan ke depan dari sanggar Nyi Pandansari adalah untuk menjadi wadah bagi masyarakat yang lebih luas, bukan hanya sebagai sanggar tarian tetapi juga bisa sebagai pertujukan lainnya seperti ketoprak dan lain-lain.  lupita – wandani