JOGLOSEMARNEWS.COM Edukasi Pendidikan

3 Mahasiswa UNS Sulap Minyak Nyamplung Jadi Obat Luka Bakar

Dok Pribadi
Madu Borneo
Madu Borneo
Madu Borneo

SOLO, JOGLOSEMARNEWS.COM – Tiga orang mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menerima dana penelitian Rp 5 juta dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) tahun 2020.

Mereka adalah Zainab Herawati (Prodi S1 Farmasi), Alifiati Saifira Salma (Prodi S1 Agroteknologi) dan Faradiba Janiyustika (Prodi S1 Kedokteran).

Di  bawah bimbingan Apt Rita Rakhmawati, M.Si, ketiganya melakukan inovasi sediaan emulgel minyak nyamplung sebagai obat luka bakar.

“Formula emulgel dipilih karena bahan dasar dari formula ini adalah minyak, namun tetap ingin menerapkan kelebihan gel yang tidak lengket, praktis, dan memberikan efek dingin pada luka bakar,” ujar Zainab, sebagai ketua tim, sebagaimana dikutip dalam rilisnya ke Joglosemarnews, Selasa (20/10/2020).

Dia mengatakan, semula direncanakan kegiatan tersebut dilakukan secara luring agar menghasilkan sebuah prototipe sediaan emulgel dari laboratorium.

“Tapi karena sedang pandemi Covid-19, akhirnya berubah menjadi kegiatan daring, sehingga menghasilkan narrative review,  yaitu berupa kajian potensi minyak nyamplung untuk luka bakar,” jelasnya.

Zainab dan tim melihat, angka kejadian luka bakar cukup tinggi di Indonesia. Alasan itu mendorong mereka mengkaji potensi minyak nyamplung atau yang akrab disebut tamanu oil sebagai kandidat obat baru luka bakar berasal dari baham alam.

Baca Juga :  Jelang Pembelajaran Tatap Muka, Epidemiolog: Harus Ada Pemahaman Sekolah tak Lagi Sama dengan Sebelum Pandemi

Dijelaskan, Nyamplung (Calophyllum Inophyllum L) merupakan jenis tanaman yang banyak tumbuh di pesisir pantai di Indonesia.

Namun sayangnya, keberadaan yang melimpah dari tanaman ini tidak diikuti dengan pemanfaatan yang optimal.

Selama ini, penelitian terhadap nyamplung masih sebatas untuk biofuel. Penelitian nyamplung sebagai bahan baku obat (BBO) dan obat tradisional (BBOT) serta kosmetik masih sangat jarang.

Padahal, ujarnya, minyak nyamplung berpotensi menghasilkan berbagai macam produk di bidang farmasi dan kosmetik, salah satunya emulgel luka bakar.

Secara empiris, menurut Zainab, masyarakat kuno memanfaatkan nyamplung untuk menyembuhkan gatal dan obat penutup luka, baik luka tergores, luka sayat maupun luka bakar.

“Dan itu bisa dijelaskan secara medis,” tambah Rita Rakhmawati selaku pembibing tim.

Hal itu, jelas Rita, dikarenakan metabolit sekunder yang terdapat dalam minyak nyamplung diduga bertanggungjawab terhadap aktivitas pentup luka, antiinflamasi dan antibakteri.

Baca Juga :  Pandemi Bukan Penghalang untuk Berkreasi. UNS Gelar Pameran Seni Rupa Internasional secara Virtual dengan Peserta dari 15 Negara

Metabolit sekunder itu antara lain Calophyllolide, Calonide GUT 70, Tamanolide, Inophyllum P, D, dan C, Tamanolide P, (F) 12-Oxo-Calanolide, Calanolide A, Inophyllum E, Tamanolide D dan Tamanolide E1,E2, saponin dan asam lemak seperti asam linoleate serta  omega 3 dan 6.

Menurut hasil penelitian, senyawa Calophyllolide juga dapat mengurangi fibrosis dan mampu menutup luka lebih cepat jika dibandingkan dengan kelompok kontrol negatif yang hanya diberi PBS dan Povidon Iodin.

“Senyawa ini juga memiliki aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus,” bebernya.

Zainab kembali menjelaskan, berbagai studi secara terpisah melaporkan bahwa Calophyllolide dalam minyak nyamplung memiliki potensi sebagai agen antibakteri dan antiinflamasi.

Penggabungan dari kedua potensi tersebut memungkinkan lahirnya potensi baru dari minyak nyamplung sebagai kandidat obat terapi luka bakar.

Kini, jelas Zainab, timnya tengah menyiapkan diri untuk finalisasi draft artikel ilmiah, untuk dapat dipublikasikan di jurnal terakreditasi.

“Kami berharap dapat lolos masuk PIMNAS 2020. Sehingga gagasan ini dapat terwujud menjadi sebuah prototipe kandidat obat luka bakar dari tanaman lokal di Indonesia,” imbuh Zainab. suhamdani