JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Klaten

Bentrokan di Pedan Klaten, Danrem Warastratama Sebut Persaudaraan Pencak Silat Terdistorsi, Kapolres Klaten: Berawal dari Salah Paham

Danrem 074 Warastratama Kolonel Inf Kolonel Inf Rano Adolf Tilaar. Istimewa
madu borneo
madu borneo
madu borneo

SOLO, JOGLOSEMARNEWS.COM — Bentrokan dua kelompok massa di Kecamatan Pedan, Kabupaten Klaten, Minggu (05/10/2020) malam mendapat perhatian dari Danrem 074/Warastrarama, Kolonel Inf Rano Adolf Tilaar.

Bentrokan itu dikabarkan terjadi antara salah satu kelompok perguruan pencak silat dengan salah satu organisasi masyarakat (ormas). Akibat bentrokan itu, tiga orang mengalami luka.

“Saya melihat ada sebuah distorsi dalam pemahaman persaudaraan dalam organisasi pencak silat. Pemahaman persaudaraan ternyata mengarah kepada hal yang negatif, bukan untuk justru menciptakan image yang baik tengah masyarakat,” kata Rano Tilaar kepada awak media.

Baca Juga :  Tertangkap Razia di Depan Polsek Kemalang Klaten, 6 Pengendara Dapat Sanksi Ini!

Menurutnya, distorsi itu justu menciptakan suatu ikatan batin yang berlebih-lebihan. Sehingga, lanjut dia, seringkali justru persaudaraan ini dipakai untuk menyalahkan orang yang benar dan membenarkan orang yang salah.

“Apalagi mencampuri yang namanya penegakan hukum. Sehingga yang sering terjadi pada saat terjadi konflik bisa mengakibatkan bentrokan akibat ikatan emosional yang berlebihan,” tegasnya.

“Dimana beberapa oknum anggota organisasi pencak silat ini berusaha untuk mengambil jalan pintas mengambil sikap terhadap proses penegakan hukum yang sebenarnya sedang dilakukan oleh pihak kepolisian,” tukas dia.

Baca Juga :  Tertangkap Razia di Depan Polsek Kemalang Klaten, 6 Pengendara Dapat Sanksi Ini!

Sementara itu, Kapolres Klaten AKBP Edy Suranta Sitepu menyebut bentrokan yang terjadi di kawasan Pasar Pedan masih dalam penyelidikan. Namun berdasarkan informasi, kejadian itu muncul karena salah paham.

Setelah kejadian itu, polisi mengamankan 74 orang dari lokasi keributan. Mereka lantas dibawa ke Mapolres untuk pemeriksaan.

“Memang dari informasi yang kita terima berawal dari salah paham,” tukas Edy Suranta. Prabowo