JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Semarang

Penasaran dengan Bangunan Rumah Tahan Gempa, 250 Unit Telah Dibangun di Jateng, Tahan Gempa hingga 9 SR

Petugas dari Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (Disperakim) Provinsi Jawa Tengah sedang fokus melaksanakan pembangunan rumah tahan gempa. Istimewa
Madu Borneo
Madu Borneo
Madu Borneo

SEMARANG, JOGLOSEMARNEWS.COM — Sebanyak 250 unit rumah tahan gempa dibangun Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, pada tahun 2020. Bangunan yang disebut Rumah Sistem Panel Instan (Ruspin) merupakan hunian tahan gempa, sehingga bisa meminimalisasi kerawanan yang diakibatkan bencana alam.

Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (Disperakim) Provinsi Jawa Tengah, Arief Djatmiko mengatakan Ruspin didesain sebagai bangunan yang tahan gempa hingga kekuatan sembilan skala richter (SR).

“Ruspin memang didesain tahan gempa. Bahkan hingga skala (SR) sembilan masih kuat,” kata Arief ditemui di ruang kerjanya di Jalan Madukoro, Kota Semarang, kemarin.

Dia menjelaskan, bangunan Ruspin memiliki konstruksi sederhana yakni hanya dengan dirakit dan memiliki nilai rigid yang sangat kuat. Hal ini berdasarkan pada teknologi Puslitbangkim yang menyatakan bangunan Ruspin bisa tahan gempa berkekuatan sembilan SR.

Arief mengatakan program ini merupakan salah satu program Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk mengurangi backlog rumah di Jateng. Backlog adalah selisih antara jumlah kebutuhan hunian dengan jumlah ketersediaan hunian yang ada.

Baca Juga :  Tembus Angka 1.416 Orang Per 1 Juta Penduduk Per Minggu, Tes PCR Jateng Lampaui Target WHO

Program ini diarahkan pada dua hal. Pertama, untuk memenuhi kebutuhan rumah. Kedua, untuk memanfaatkan teknologi Ruspin untuk kawasan bencana. Secara teknis, Ruspin ini merupakan produk Puslitbangkim Pekerjaan Umum yang baru saja diluncurkan. Pihaknya memilih Ruspin karena memiliki kepraktisan dan bisa dilakukan masyarakat secara umum.

“Program ini baru saja di-launching di Jawa Tengah tahun 2020 ini,” ujarnya.

Arief menuturkan program Ruspin di Jawa Tengah untuk warga miskin, karena memang pihaknya ingin memenuhi kebutuhan rumah untuk warga miskin. Secara teknis, rumah ini mudah dikerjakan, sehingga tidak membutuhkan peralatan rumit, hanya alat sederhana. Masyarakat miskin bisa mengerjakannya secara gotong royong (komunitas) maupun sendiri.

Disperakim memilih dua pengerjaan Ruspin. Yaitu Ruspin untuk daerah rawan bencana, dan Ruspin untuk warga miskin yang kekurangan rumah (backlog). Untuk pengerjaan Ruspin di daerah rawan bencana baru dilakukan di Kabupaten Purworejo dengan jumlah 11 unit rumah. Saat ini, untuk pengerjaan di Purworejo di daerah rawan bencana ada yang sudah berdiri dan ada yang sedang dalam proses pengerjaan.

Baca Juga :  Khawatir Ada Lonjakan Kasus Covid-19, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo Usul Libur Panjang Akhir Tahun Dihapus

Sedangkan Ruspin mandiri untuk warga miskin dibangun di 15 kabupaten. Yaitu Purworejo, Wonosobo, Banjarnegara, Pemalang, Brebes, Blora, Rembang, Klaten, Sragen, Temanggung, Demak, Pati, Jepara, Kebumen, dan Grobogan.

Pihaknya sebelumnya sudah memberikan pelatihan cara mendirikan rumah tahan gempa kepada penerima manfaat. Dia membeberkan teknologi Ruspin ini terdiri dari dua komponen, yaitu komponen pembentuk kolom dan penguat tegakan alur.

Proses perakitan bagian struktur bangunan membutuhkan waktu tiga hari dengan tiga orang tukang. Kemudian baru dilakukan pembangunan lanjutan baik berupa atap, dinding dan lantai.

“Secara keseluruhan membutuhkan waktu tiga sampai empat minggu saja (waktu pengerjaan),” jelasnya.

Arief juga menambahkan untuk pengerjaan, pihaknya terus melakukan pendampingan supaya kualitasnya tetap terjaga, termasuk untuk bangunan Ruspin di titik bencana. Pihaknya berharap ke depan, Ruspin tidak hanya dibangun pemerintah provinsi tapi juga komunitas di masyarakat yang peduli dengan masalah rumah. Satria Utama