JOGLOSEMARNEWS.COM Panggung Sastra

Serunya Obrolan Tiga Novel Karya Sastrawan Surakarta

Dok Pribadi
madu borneo
madu borneo
madu borneo

SUKOHARJO, JOGLOSEMARNEWS.COM – Pandemi Covid-19 bukan berarti pageblug pula bagi apresiasi karya sastra. Seperti yang dilakoni oleh para sastrawan muda Surakarta ini, mereka berkumpul dalam kelompok kecil untuk membahas tiga buah nonvel karya mereka.

Dalam tajuk Obrolin Buku, ada tiga buah novel yang diulas, yakni novel Aku Rasa Suamiku Telah Sinting karya Han Gagas, Kita Tak Pernah Tahu Kemanakah Burung-burung itu Terbang karya Y Agusta Akhir dan novel Candik Ayu Segaramadu karya Andri Saptono.

Acara Obrolin Buku tersebut berlangsung di Embung Pengantin, Sawah, Wirun, Kecamatan Mojolaban, Sukoharjo, Sabtu (3/10/2020) pukul 11.00 hingga sore hari.

Obrolan berjalan santai secara lesehan dan terkesan non formal. Tiga orang didapuk menjadi pemantik obrolan, yakni Panji Sukma, Ian Hasan dan Eko Setyawan.

Puluhan sastrawan hadir dalam acara yang diprakarsai Perjamuan Sastra Siang Saja itu, antara lain nama yang sudah cukup familier dari Yuditeha, Dadang Ari Murtono, Eko Setyono, Sari, Alfian hingga Puitri Hatiningsih.

Han Gagas mengatakan, obrolan tersebut adalah sebuah forum, sehingga terbuka bagi siapa saja yang berminat datang dan bergabung di dalamnya.

“Ini bukan komunitas, hanya forum, jadi siapa saja boleh datang,” ujar Han Gagas kepada Joglosemarnews.

Dalam paparannya, pemantik obrolan memulai membicarakan dan mengulas tiga novel tersebut satu persatu. Novel Candik Ayu Segaramadu merupakan novel Juara I lomba novel DKJT karya Andri Saptono.

Novel ini mengungkap lokalitas pabrik gula Tasikmadu yang selaras dengan judulnya, telah berusia senja. Hal itu ditandai dengan produksi yang terus menurun.

Cerita menarik dengan hadirnya tokoh Meinar,seorang penjual jamu langganan buruh pabrik. Di antara penjual jamu lainnya yang ternyata juga menjual diri, namun Meinar tidak. Meinar tetap teguh pada sikap moralnya.

Novel Kita Tak Pernah Tahu Kemanakah Burung-burung itu Terbang, karya Y Agusta Akhir merupakan pemenang lomba novel Unsa 2017. Novel ini bercorak realisme magis dan sensual.

Novel ini menghadirkan tokoh bocah yang menjadi saksi atas kisah-kisah mistis di antara tokoh-tokoh lain seperti Sakrama, Mahligai Sukma dan lain-lain.

Sementara novel Aku Rasa Suamiku Sinting, adalah karya Han Gagas. Ini adalah karya kesekian kalinya yang lagi-lagi mengangkat persoalan gangguan jiwa, termasuk mengangkat kelainan seksual.

Dalam tanggapannya, Y Agusta Akhir mengakui dalam novelnya tersebut ia mengangkat hal-hal yang berbau magis. Namun ia sendiri mengaku kurang paham mengenai kriteria realis magis.

“Misalnya, di novel ini saya menampilkan pohon tua yang bisa bicara dengan salah satu tokoh, Sakrama,” ujarnya.

Ada juga kejadian yang muskhil dihadirkan dalam novel tersebut, seperti tokoh yang meninggal karena diperkosa, namun hidup lagi, walau sudah dibuang ke sungai. suhamdani