JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

11 Petani di Sragen Tewas Kesetrum Jebakan Tikus, DPRD: Pemkab Tak Serius Cari Solusi, PLN Juga Harus Bertanggungjawab!

Para petani korban-korban setrum jebakan tikus di Sragen dari waktu ke waktu dalam beberapa bulan terakhir. Foto kolase/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Kematian Suyadi (58) petani asal Dukuh Tanjang RT 21, Kedung Upit, Sragen akibat kesetrum jebakan tikus bermuatan listrik, Senin (2/11/2020) pagi, menuai reaksi keras dari wakil rakyat.

Banyaknya korban jiwa dari petani dan warga yang sudah mencapai 11 orang akibat kesetrum jebakan tikus, menjadi keprihatinan tersendiri.

Anggota DPRD Sragen dari Fraksi Golkar, Bambang Widjo Purwanto mengaku prihatin dengan insiden setrum jebakan tikus yang tak henti memakan korban. Menurutnya, insiden tewasnya petani akibat setrum jebakan tikus itu membuktikan ada beberapa hal yang tak beres.

“Menurut saya yang pertama pemerintah lewat dinas terkait tidak serius dalam menangani kasus ini. Coba bandingkan dengan korban covid-19. Begitu ada satu saja yang meninggal, pemerintah lewat dinas terkait langsung action yang sangat luar biasa. Tapi setrum jebakan tikus yang sudah menewaskan 11 orang, seperti nggak ada tindakan nyata, solusi atau bagaimana juga belum ada,” paparnya kepada JOGLOSEMARNEWS.COM , Senin (2/11/2020).

Legislator yang juga pecinta pertanian itu menyebut, insiden itu tak bisa serta merta menyalahkan petani.

Ia meyakini petani sebenarnya sudah menyadari dampak bahayanya pemakaian setrum. Akan tetapi hal itu terpaksa karena tidak ada alternatif pilihan yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan tanaman dari hama tikus.

“Artinya apa, berarti selama ini dinas yang harusnya turun tangan ketika ada hama tikus dan mencarikan solusi yang aman, dari dulu sampai sekarang nggak juga bisa memberikan solusi. Petani saya yakin kalau ada cara yang aman dan efektif, pasti tidak akan pakai setrum. Makanya ini tugas dan tanggungjawab dinas,” tandasnya.

Kedua, Bambang menilai PLN juga harus andil bertanggungjawab atas rentetan korban tewas di tangan setrum jebakan tikus. Sebab PLN adalah institusi yang memiliki otoritas mengelola setrum.

Baca Juga :  Dicecar Hakim, Suparmi Masih Bungkam Misteri Sogokan Rp 190 Juta. Jaksa Bilang Aneh Uang Segitu Banyak Sampai Nggak Ingat Dipakai Apa Saja!

Ia kembali menegaskan, PLN harus segera bertindak melakukan pendataan apakah setrum yang digunakan petani itu legal atau tidak. Jika legal, mestinya PLN juga harus memberikan bimbingan agar penggunaannya aman bagi keselamatan.

“PLN jangan hanya diam saja. Harus bertindak bagaimana itu bisa terjadi,” ujarnya kesal.

Kemudian, yang ketiga, ia sangat berharap kesadaran dari masyarakat dan petani sendiri.

Masyarakat di sekitar atau petani di kanan dari yang memasang perangkap itu bisa mengingatkan karena membahayakan jiwa seseorang.

“Kalau yang kena yang pasang sendiri mungkin nggak jadi masalah, tapi kalau orang bagaimana jadinya,” tandasnya.

Terpisah, Kepala Dinas Pertanian Sragen, Ekarini Mumpuni Titi Lestari mengatakan sebenarnya dari dinasnya sudah terus menyampaikan bahwa pengunaan jebakan tikus mengunakan listrik itu tidak diperbolehkan.

Karena selain membahayakan diri sendiri, hal itu juga membahayakan keselamatan orang lain. Akan tetapi menurutnya fakta di lapangan, masih saja ada petani yang nekat memasangnya.

Terkait solusi menekan hama tikus, sebenarnya sudah banyak disosialisasikan juga. Yakni mulai dari gerakan gropyokan, memberi umpan, pengemposan hingga penggunaan burung hantu.

“Tapi petaninya kadang yang ngeyel Mas. Tapi tentunya nanti akan kami sampaikan ke assisten dua untuk kita berkoordinir bagaimana langkah baiknya ke depan,” paparnya dihubungi via telepon.

Ekarini menyampaikan terkait larangan penggunaan setrum jebalan tikus, hal itu juga tak henti disosialisasikan. Terkait kemungkinkan akan dilakukan penertiban di wilayah, pihaknya akan berkoordinasi lagi dengan pihak-pihak terkait terlebih dahulu.

“Yang jelas akan kami sampaikan lagi bahwa memang harus ditertibkan,” tandasnya.

Seperti diberitakan, dunia pertanian Sragen kembali berduka karena ada petani yang lagi-lagi tewas kesetrum jebakan tikus, Senin (2/11/2020) pagi tadi.

Kali ini seorang petani asal Desa Kedungupit, Kecamatan Sragen, Suyadi (58) warga Dukuh Tanjang RT 21, Kedung Upit, Sragen ditemukan tewas di sawahnya Dukuh Gabus Wetan RT 6, Desa Gabus, Ngrampal, Sragen.

Baca Juga :  Geger Bunuh Diri Lagi di Jembatan Sapen Sragen. Korbannya Bapak-Bapak, Motor dan Sandal Jepitnya Ditinggal di Atas Jembatan

Data yang dihimpun di lapangan, kejadian itu terjadi pukul 08.00 WIB. Menurut keterangan saksi, korban semula berniat tamping-tamping atau membenahi pematang sebagai persiapan tanam.

Entah bagaimana ceritanya, ia kemudian sudah ditemukan tergeletak di dekat pematang di areal persemaian padinya. Diduga kuat, korban terkena setrum jebakan tikus yang dipasang di persemaian.

“Dia memang warga kami tapi sawahnya di Gabus Ngrampal. Informasin yang kami terima, tadi korban mau tamping-tamping galengan (pematang) lalu kesetrum listrik untuk jebakan tikus di pinihan (persemaian),” papar Kades Kedungupit, Eko Hartadi, Senin (2/11/2020).

Kapolsek Ngrampal, AKP Lukman Tri Novianto mengatakan korban diketahui meninggal di sawahnya tadi pagi pukul 08.00 WIB oleh dua orang tetangga sawahnya.

Korban kesetrum listrik jebakan tikus dari sibel yang dipasang di sawah korban.

Kematian Suyadi menambah panjang daftar korban tewas korban jebakan tikus di Sragen. Ia menjadi korban tewas ke-11 selama kurun 8 bulan terakhir.

Ironisnya, meski larangan sudah diserukan, pemakaian setrum jebakan tikus tak juga mereda. Tragisnya lagi, beberapa korban terakhir bahkan terjadi dalam hitungan amat berdekatan.

Sebulan lalu, perangkat desa asal Kranggan, RT 21 Desa Pengkol, Tanon, Supomo (53) juga ditemukan tewas di sawahnya karena kesetrum jebakan tikus.

Sebulan sebelumnya lagi, Kamis (13/8/2020), seorang petani di Desa Gringging, Kecamatan Sambungmacan, bernama Karno Purnomo alias No Balak (60) warga Dukuh Celep RT 14/4, Desa Gringging, Sambungmacan, Sragen ditemukan tewas di sawahnya karena jebakan tikus.

Selebihnya, delapan petani dan warga lainnya juga tewas di tangan jebakan tikus berlistrik di beberapa wilayah sejak tujuh bulan terakhir. Wardoyo