JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Habiskan Rp 170 Juta Lebih, Debat Publik Pilkada Sragen Panen Kritikan. Siaran TV Sempat Trouble, Live Streaming Hanya Ditonton 160an Orang, Parpol Pengusung Sebut Hanya Hambur-hamburkan Anggaran!

Penampakan tayangan di televisi yang sempat trouble gambar terputus saat siaran langsung debat publik Pilkada Sragen (kiri) dan siaran live streaming yang hanya ditonton 160an orang saat debat berlangsung. Foto kolase/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Agenda debat publik Pilkada Sragen yang digelar KPU, Kamis (19/11/2020) menuai kritikan pedas. Kualitas tayangan TV lokal dari Jogja dan minimnya penonton di tayangan live streaming dinilai tak sebanding dengan besarnya anggaran yang disebut menghabiskan Rp 100 juta lebih.

Kritikan itu dilontarkan salah satunya oleh Ketua DPD Nasdem Sragen, Heri Sanyoto. Kepada wartawan, ketua salah satu parpol pengusung paslon Yuni-Suroto itu mengkritisi agenda debat publik yang digelar KPU tersebut.

Pertama, ia menyesalkan pemilihan channel TV yang bukan memilih channel TV lokal yang familiar di Soloraya. Akan tetapi justru memilih channel TV lokal di Jogja yang notabene siarannya juga kurang bagus tertangkap di Sragen.

“Orentasi kita kan mem-publish Visi dan Misi dari bakal calon bupati dan wakil bupati. Dengan ditayangkan televisi harapannya bisa dilihat masyarakat luas. Kalau channel yang dipilih bukan yang familiar di masyarakat, lha siapa yang mau nonton,” paparnya, Kamis (19/11/2020).

Baca Juga :  Kakek 69 Tahun Tewas Tertabrak Kereta Api di Perlintasan Ngrampal Sragen. Tubuhnya Remuk Terseret Hampir 1 Kilometer

Heri menguraikan mestinya untuk memaksimalkan agar siaran bisa terlihat luas, KPU lebih cermat mempertimbangkan animo dan kebiasaan channel apa yang sering diputar oleh masyarakat serta keterjangkauan siarannya.

Yang kedua, lebih dari itu ia memandang mestinya orentasinya adalah orentasi efektivitas ditonton masyarakat.

“Kalau sama-sama siaran TV lokal, kenapa harus pakai yang di Jogja kalau di Soloraya saja ada dan lebih familiar di masyarakat. Bukan apa-apa atau anti ini itu, tapi harusnya dipertimbangkan efektivitas dan tujuannya. Dengan disiarkan TV lokal Jogja akhirnya banyak warga yang nggak nonton. Di live streaming youtube pun hanya 160an sekian yang nonton. Sehingga tujuan untuk mempublish dan mengenalkan visi misi paslon ke masyarakat, jadi nggak nyasar sama sekali,” terangnya.

Heri menambahkan mestinya KPU jangan hanya mengejar kewajiban untuk melaksanakan sebuah tahapan saja. Namun mengabaikan efektivitas dan tujuan dari tahapan itu sendiri.

Baca Juga :  Kronologi Ibu di Sragen Tewas Digasak Truk, 2 Anak Kecilnya Masih Kritis

Terlebih jika tahapan itu menyangkut sosialisasi dan publikasi ke masyarakat yang menelan anggaran tidak sedikit. Pasalnya ia juga melihat hingga mendekati Pilkada, sosialisasi ke masyarakat masih sangat minim.

“Makanya ke depan harus di pertimbangkan, orentasinya jangkauannya untuk sosialisasi. Ini lebih penting, kalau perlu disurvei dulu nggak apa-apa agar agenda itu bisa benar-benar ditonton atau dilihat masyarakat. Kami terus terang prihatin kalau anggaran Rp 100 juta lebih, siarannya nggak tertonton, live streamingnya hanya ditonton segelintir masyarakat saja. Ini anggaran dari uang rakyat, nggak seenaknya digunakan. Kalau anggaran sebesar itu faktanya tidak efektif ya sama aja hanya menghambur hamburkan uang rakyat saja,” tandasnya.

Senada, salah satu warga Gondang Sragen, Suratno mengatakan ia menonton debat dari live streaming youtube. Menurutnya, kualitas gambar juga beberapa kali tidak jelas dan bahkan sempat nge-blank alias tak ada gambarnya.

Halaman selanjutnya »

Halaman :  1 2 Tampilkan semua
  • Pantau berita terbaru dari GOOGLE NEWS
  • Kontak Informasi Joglosemarnews.com:
  • Redaksi :redaksi@joglosemarnews.com
  • Kontak : joglosemarnews.com@gmail.com