JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Wonogiri

Gerojok Singkatan Dari Gerakan Jogo Kali, Komunitas Mancing Mania Wonogiri Timur yang Peduli Ekosistem dan Lingkungan. Tidak Hanya Seputar Ikan dan Sungai Namun Care Juga Soal Habitat Burung Hingga Semut

Salah satu aksi komunitas Gerojok Wonogiri Timur. Dok. Gerojok
Madu Borneo
Madu Borneo
Madu Borneo

IMG 20201104 WA0043
Salah satu aksi komunitas Gerojok Wonogiri Timur. Dok. Gerojok

WONOGIRI, JOGLOSEMARNEWS.COM – Komunitas pehobi mancing atau mancing mania yang satu ini layak dapat acungan jempol. Pasalnya tidak hanya sekadar wadah menyalurkan hobi, namun juga peduli pada kelestarian lingkungan.

Meskipun berangkat dari hobi yang sama seputar ikan dan mancing, ternyata komunitas ini juga peduli terhadap habitat burung maupun semut. Anggota komunitas ini juga kerap terlibat sejumlah kegiatan sosial lainnya.

Gerojok
Pimpinan Gerojok, Sularmo. JSnews. Aris Arianto

Komunitas tersebut adalah Gerojok, singkatan dari Gerakan Jogo Kali. Mereka saat ini beranggotakan para mancing mania di kawasan Wonogiri Timur. Meliputi Purwantoro, Kismantoro, Puhpelem, Bulukerto, maupun Slogohimo. Sementara ini anggota Gerojok sekitar 102 orang.

Lantaran kiprah para anggota Gerojok itulah mereka turut terlibat aktif dalam komunikasi sosial (komsos) yang dihelat Kodim 0728 Wonogiri di aula Makodim, Rabu (4/11/2020). Komsos juga diikuti komunitas motor besar dan pegiat media.

Pimpinan Gerojok, Sularmo mengungkapkan, komunitasnya berdiri belum lama ini. Yakni pada

“Kami berdiri berangkat dari keprihatinan pada kondisi alam sekitar seperti sungai dan ekosistemnya. Banyak terjadi kerusakan, salah satunya karena penangkapan ikan dengan cara yang dilarang, misalnya diracun atau strum listrik,” ungkap warga Kenteng Kecamatan Purwantoro itu.

Tidak sebatas retorika, anggota Gerojok kemudian beraksi nyata. Sejumlah kegiatan langsung mereka adalah. Misalnya edukasi dan sosialisasi larangan menangkap ikan dengan menyetrum atau meracun. Edukasi dilakukan di antaranya ketika ada lomba memancing serta papan larangan yang dipasang di titik strategis.

Baca Juga :  Alhamdulillah, Petani Dengan Lahan Maksimal Setengah Hektare di Wonogiri Terima Bantuan Paket Pompa Air Program Konversi BBM ke BBG dari ESDM, ini Perinciannya

“Tidak hanya soal ikan atau sungai, kami juga kangen dengan kicauan burung di alam liar. Makanya dalam pengumuman atau papan larangan itu dicantumkan pula agar tidak menembak burung atau mencari kroto alias kroto dan anak semut secara membabi-buta serta larangan membuang sampah sembarangan,” beber pensiunan guru itu.

Secara berkelanjutan, anggota Gerojok bersama elemen lain serta TNI Polri aktif membersihkan aliran sungai dari sampah. Mereka turut pula terlibat pada aksi penghijauan dengan menanam aneka bibit pohon.

“Menebarkan bibit ikan juga sering kami lakukan. Untuk pengadaan ikan diperoleh melalui acara mancing bersama melalui umbruk (patungan). Sebagian dana digunakan untuk pembelian bibit sebagian lagi untuk hadiah,” tutur dia.

Ada cara unik yang ditempuh Gerojok saat mendapati ada oknum yang menangkap ikan dengan cara dilarang. Oknum tersebut dinasihati secara kekeluargaan bersama pemerintah desa setempat. Selanjutnya sebagai efek jera oknum yang bersangkutan diwajibkan membayar denda.

Denda yang dimaksud adalah mengganti ikan dengan bibit baru. Misalnya bibit lele nila tawes dan sejenisnya.

Baca Juga :  Penyelenggara Pemilu Tingkat Kecamatan di Wonogiri Ikuti Rapid Test, Pelaksanaannya Berjenjang Antara 3 Sampai 5 Hari

Lantas apakah langkah yang ditempuh Gerojok dalam menjaga lingkungan Isa efektif?. Soal ini mereka menunjukkannya dengan bukti. Hingga saat ini penangkapan dengan racun maupun strum mulai berkurang. Aliran sungai lebih bersih.

Selain itu mulai banyak lagi terdengar kicauan burung di alam liar. Aneka jenis burung seperti anggungan (perkutut, derkuku,puter) sudah banyak terlihat lagi. Sebelumnya, ujar Sularmo, sudah melihat burung beterbangan maupun bisa mendengar kicauannya.

“Meskipun masih kadang ada oknum yang menangkap ikan dengan cara dilarang waktu malam hari. Tapi jauh berkurang dibandingkan dulu,” ujar dia.

“Kenda yang kami hadapi adalah belum memiliki badan hukum, sudah berulangkali mengajukan namun belum berhasil,” sebut dia.

Pihaknya selanjutnya meminta bantuan kepada Polres dan Kodim 0728 Wonogiri. Bukan bantuan dana melainkan dukungan untuk ikut bergerak ketika ada pelanggaran di sungai dan memberikan bimbingan dan pembinaan.

Dandim 0728 Wonogiri, Letkol Inf Imron Masyhadi menyambut baik keberadaan dan kiprah Gerojok. Aksi yang ditunjukkan komunitas itu menurut dia sangat nyata dan berdampak luar biasa. Sementara Kapolres AKBP Christan Tobing menegaskan, ujung tombaknya yakni Bhabinkamtibmas bersama Babinsa telah diperintahkan aktif mendampingi elemen masyarakat. Aria