JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Nasional

Ini Sosok Mayjend Dudung Abdurachman Yang Perintahkan Copot Baliho Rizieq Shihab

Pangdam Jaya Mayor Jenderal TNI Dudung Abdurachman ditemui awak media di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat, Kamis (8/10/2020) petang / tempo.co
Madu Borneo
Madu Borneo
Madu Borneo

972433 720
Pangdam Jaya Mayor Jenderal TNI Dudung Abdurachman ditemui awak media di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat, Kamis (8/10/2020) petang / tempo.co

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM  –
Sikap Panglima Kodam (Pangdam) Jaya Mayor Jenderal Dudung Abdurachman ini sungguh bertolak belakang dengan Gubernur DKI.

Ketika Gubernur DKI, Anies Baswedan mengunjungi kediamam Ketua FPI Rizieq shihab, maka Mayjen Dudung justru memerintahkan anak buahnya untuk mencopoti baliho Rizieq Shihab.

Pemasangan baliho Rizieq Shihab tersebut disebutnya menyulut amarah Tentara Nasional Indonesia (TNI). Menurut dia, Rizieq Shihab telah bersikap seenaknya di Tanah Air.

“Kok dia sesukanya sendiri ngatur. Emang dia siapa. Habib Rizieq itu siapa dia,” kata dia saat dihubungi, Jumat (20/11/2020).

“TNI marah sekarang,” ujarnya.

Sebelumnya, sebuah video viral memperlihatkan sekelompok orang berbadan tegap dengan pakaian loreng mencopot spanduk pimpinan Front Pembela Islam (FPI), Rizieq Shihab, yang berada di pinggir jalan.

Baliho dengan wajah Rizieq bertuliskan “di bawah komando Imam Besar” ini dicopot tak kurang dari 1 menit.

Lantas, seperti apakah sosok Dudung Abdurachman? Dia lahir di Bandung, Jawa Barat pada 16 November 1965. Perwira Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) ini lulusan Akademi Militer 1988 dari kecabangan infanteri.

1. Dudung muda jualan klepon
Sewaktu muda, Dudung berjualan jajanan pasar di lingkungan Kodam III/Siliwangi, Jawa Barat untuk membantu perekonomian keluarga. Salah satu kudapan yang ia sodorkan adalah klepon.

Baca Juga :  17 Dari 270 Daerah Berisiko Tinggi Terhadap Penyebaran Covid-29 Pada Ajang Pilkada 2020

Dudung ingat betul bagaimana bawaannya jatuh setelah ditendang seorang penjaga di Kodam III. Kala itu, ada seorang penjaga yang tak tahu Dudung kerap ke kantin untuk menitipkan dagangannya.

Si penjaga memanggil, menginterogasi, dan menendang Dudung. “Saat itu saya bawa klepon. Menggelindinglah 55 buah klepon yang saya bawa itu,” ujar dia dilansir dari Antara.

“Saya pikir kok begitu jadi TNI semena-mena sama rakyat. Dari situ lah saya terpacu untuk jadi perwira,” tuturnya.

2. Mantan Gubernur Akademi Militer
Dudung adalah mantan Gubernur Akademi Militer atau Akmil kedua yang menjadi Pangdam Jaya. Pria kelahiran Bandung ini menjadi Gubernur Akmil ke-38 pada 2018-2020.

Dudung menjabat Pangdam Jaya sejak 27 Juli 2020 menggantikan Mayjen Eko Margiyono. Dudung dan Eko sama-sama pernah menduduki kursi Gubernur Akmil.

3. Bangun patung Soekarno
Saat menjabat Gubernur Akmil, Dudung membangun patung Presiden ke-1 Soekarno di hall utama kompleks pendidikan calon perwira TNI AD. Menurut dia, patung tersebut sebagai simbol untuk menghormati dan mengabadikan perjalanan bersejarah perjuangan Sang Proklamator, Bung Karno.

Baca Juga :  Pencopotan Baliho Rizieq Shihab oleh Pangdam Jaya, Kodam Jaya Banjir Karangan Bunga

Pembuatan patung ini bermula dari informasi bahwa peletakan batu pertama salah satu tiang hall utama dilakukan oleh Soekarno. Informasi ini Dudung sampaikan ketika Irjen TNI Muhammad Herindra berkunjung yang kemudian dilaporkan kepada Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Andika Perkasa.

Andika lantas memerintahkan Dudung untuk membangun patung Bung Karno. Patung ini diresmikan di Akmil Magelang, Jawa Tengah pada Jumat, 7 Februari 2020. Hadir Presiden ke-5 sekaligus putri Soekarno, Megawati Soekarnoputri. Megawati menandatangani prasasti peresmian Patung Bung Karno tersebut.

4. Gandeng emak-emak untuk cegah Covid-19
Dudung turut membantu pemerintah menangani pandemi Covid-19. Salah satunya dengan berperan dalam pengelolaan Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet jakarta dan mengawasi penegakkan protokol kesehatan pencegahan Covid-19.

Cara Dudung mencegah penularan virus corona dengan menggandeng emak-emak di wilayah hukumnya, Jakarta, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Kodam Jaya menjaring sektiar 6.100 emak-emak di 61 kelurahan.

Emak-emak bertugas menyebarkan informasi ke rumah warga soal pentingnya menjalankan protokol kesehatan demi menekan penularan Covid-19.

Kader Pembinaan Kesejahteraan Keluarga atau PKK itu memperoleh insentif berupa uang Rp 500.000 hingga Rp 1 juta, disesuaikan dengan kontribusinya, dari pemerintah pusat.

www.tempo.co