JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Kreatif di Masa Pandemi, Mahasiswa Undip asal Kaliwedi Sragen Sukses Jadi Jutawan Muda Berkat Inovasi Melon Green House. Sekali Panen Untung Rp 25 Juta, Kini Mulai Berdayakan Warga dan Pemuda di Desanya

Gilang Indarmaga Putra, mahasiswa Undip asal Kaliwedi Gondang dengan inovasi budidaya melon green housenya yang sukses mendatangkan banyak keuntungan di masa pandemi. Foto kolase/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM Masa pandemi covid-19 memang telah memaksa segala sendi peradaban sosial ekonomi masyarakat berubah di tengah keterbatasan.

Namun bagi sebagian yang kreatif, masa pandemi justru menjadi momentum memunculkan ide-ide inovatif mereka untuk melakukan sesuatu yang positif.

Salah satunya ditunjukkan remaja asal Desa Kaliwedi, Kecamatan Gondang, Sragen ini. Ya, Gilang Indarmaga Putra (23), mahasiswa semester 7 jurusan Teknik Perkapakan Universitas Diponegoro (Undip) Semarang itu mampu memanfaatkan pandemi menjadi momen untuk mendatangkan hasil.

Momen kuliah daring dan belajar di rumah, dimanfaatkannya untuk berinovasi dengan merintis budidaya melon lewat hidroponik dan green house.

Meski tak nyambung dengan basic ilmu kuliahnya, tekad besar Gilang memanfaatkan potensi di wilayahnya, sukses mengantarkannya menjadi jutawan muda.

“Ide awalnya karena selama pandemi kan praktis saya banyak aktivitas belajar di rumah. Lalu saya mulai berfikir ketika di era Covid-19 banyak orang kembali ke pola hidup yang sehat dengan mengkonsumsi buah dan sayur yang mengandung nutrisi nutrisi untuk kekebalan tubuh. Nah dari situ saya melihat dari potensi waktu sekarang ini dengan usaha memproduksi buah-buahan yang lebih sehat. Makanya saya terbentuk ide menanam melon dalam sistem green house. Dari sistem ini kita bisa mengurangi pestisida,” papar Gilang kepada JOGLOSEMARNEWS.COM , Minggu (15/11/2020).

Baca Juga :  Tanggapi Hasan Nasbi, Pengusaha Beras Nasional Asal Sragen Berani Taruhan Range Rover untuk Anies. "Tanggung Kalau Hanya Alphard!"

Menurutnya, sistem green house itu digagas karena minim pestisida sehingga buah dan sayur hasil panen akan memiliki jaminan bersih dan sehat untuk dikonsumsi.

Berbekal tutorial didapat dari berbagai referensi, ditambah belajar dari penelitian dosen-dosennya dan dari orangtuanya yang juga gemar budidaya pertanian, mimpi Gilang diwujudkan mulai awal pandemi atau sekitar bulan Februari 2020 lalu.

Diawali dengan membuat green house yang dibangun di atas pekarangan milik keluarganya. Kemudian untuk modal pembuatan green house, ia rela menggadaikan BPKB motornya untuk mencari pinjaman kredit usaha rakyat (KUR) di bank.

“Saya dapat kredit usaha Rp 70 juta, lalu saya mulai buat green house di lahan 1.400 meter persegi. Untuk buat green house habis Rp 50 juta. Lalu sisanya untuk modal penanaman,” terangnya.

Setelah semua siap, ia memulai inovasinya dengan penanaman melon pertama pada bulan Maret. Untuk operasional, ia dibantu beberapa pemuda di desanya.

Baca Juga :  Ditangkap Polisi, Jumadi Asal Ngrampal Cokot Nama Tempel. Mengaku Sudah Bayar Rp 550.000

Tekad kuatnya rupanya membawa berkah. Tanpa aral, percobaan pertamanya itu berbuah manis. Melonnya sukses dan berhasil panen dengan hasil 5 ton melon kualitas super.
Dengan harga Rp 7.000 perkig dari supliyer, panen perdana itu sukses mendatangkan hasil Rp 35 juta. Setelah sukses di debut perdana, selang dua pekan, lahan green house kembali ditanami untuk kedua kalinya.

Dengan kesuksesan pertama, tanam kedua pun berhasil bagus dan hingga kini sudah memasuki periode tanam keempat.

“Alhamdulillah dari sekali panen, dapat Rp 35 juta dengan biaya produksi Rp 10 juta, sehingga masih ada keuntungan Rp 25 juta. Ini sudah tiga kali panen, sudah bisa menutup pinjaman kredit usaha. Untuk satu green house bisa empat kali tanam,” jelasnya.

Gilang menuturkan selain rajin belajar referensi, kesuksesannya juga tak lepas dari perjuangannya merintis kerjasama hingga akhirnya bisa menembus mitra pasar buah-buahan di kota-kota besar.

Halaman selanjutnya »

Halaman :  1 2 Tampilkan semua