JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Nasional

Libur Panjang Bakal Dipangkas, Eijkman: Tak Bisa Cegah Penularan Covid-19

Ilustrasi virus corona. Pixabay

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Peniadaan atau pengurangan libur panjang, sebagaimana yang direncanakan oleh pemerintah, menurut Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, tidak akan bisa mencegah penularan Covid-19.

Hal itu dikatakan oleh Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Amin Soebandrio. Pasalnya, libur bisa terjadi kapan pun.

Menurut dia, masyarakat harus menyadari eksistensi Covid-19 dan disiplin menerapkan protokol kesehatan pencegahan corona.

“Obatnya yang paling penting adalah bahwa semua masyarakat menyadari,” kata dia dalam diskusi virtual, Selasa (24/11/2020).

Baca Juga :  Vaksinasi Covid-19, Menteri Agama Minta Jamaah Haji 2021 Diprioritaskan

Amin menyampaikan sekitar 20-30 persen warga menganggap Covid-19 tidak ada. Dia berujar, masyarakat akan sulit diajak mencegah penularan jika tidak percaya virus corona benar-benar ada.

“Kalau kita bicara masyarakat jangan dianggap hanya masyarakat menengah ke bawah, tapi menengah ke atas juga harus dilibatkan,” ucap dia.

Pencegahan Covid-19, papar Amin, dilakukan dengan masif menggelar pengetesan (testing), pelacakan (tracing), dan perawatan (treatment) atau disebut 3T. Kemudian masyarakat juga harus menjalankan 3M, yakni memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak.

Baca Juga :  Usai Kunjungan Kerja ke Surabaya, Wakil Ketua Komisi Kesehatan DPR Positif Covid-19

Pemerintah DKI Jakarta mencatat salah satu melonjaknya kasus Covid-19 karena mobilitas warga yang tinggi. Jumlah kasus aktif corona di Ibu Kota kini mulai menanjak usai libur panjang pada 28 Oktober-1 November 2020.

Pasien positif Covid-19 DKI juga melonjak 49 persen sepanjang 1-12 September 2020, sehingga membuat Anies memperketat Pembatasan Sosial Berskala Besar atau PSBB. Sebelum periode ini, ada libur panjang pada 20-23 Agustus 2020.

www.tempo.co