JOGLOSEMARNEWS.COM Edukasi Akademia

Mahasiswa UNS Rancang Sistem Pertanian Pesisir, Menggabungkan Budidaya Ikan dan Tanaman, Bagaimana Teknisnya?

Budidaya Pertanian Melalui Pemanfaatan Air Laut Berbasis Intergrated Farming System Dengan Saltagrofish System. Humas UNS

SOLO, JOGLOSEMARNEWS.COM – Tidak dapat dipungkiri, sistem budidaya pertanian pesisir dari tahun ke tahun semakin berkembang. Aquaponik, salah satu sistem dimana menggabungkan budidaya ikan dan tanaman dengan tanpa membutuhkan banyak lahan.

Mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo kembali melahirkan inovasi dengan menciptakan rancangan sistem pertanian pesisir yang terintegrasi dengan teknologi internet of things. Rancangan sistem tersebut diciptakan untuk membantu pemenuhan permintaan pasar yang tinggi akan komoditas pertanian seperti sayuran, udang, dan ikan.

Ketiga mahasiswa UNS yang membanggakan tersebut adalah Nanda Hafidz Rivanda dari Fakultas Teknik (FT) UNS, Muhammad Iqbal Zidny dari Fakultas Teknik (FT) UNS, dan Devie Febriansari dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UNS. Di bawah bimbingan Agus Ramelan, S.Pd., M.T dari Program Studi Teknik Elektro FT UNS.

Inovasi yang mereka ciptakan berhasil meraih dana hibah Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) 2020 dengan judul proposal “Budidaya Pertanian Melalui Pemanfaatan Air Laut Berbasis Intergrated Farming System Dengan Saltagrofish System” senilai Rp. 4,5 juta dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI.

Baca Juga :  Mahasiswa Cantik Asal FKIP UNS, Fiska Amanda Mulia Raih Juara 2 Lomba Infografis Nasional

“Ide tersebut berawal dari adanya pembangunan New Yogyakarta International Airport di Kabupaten Kulon Progo dimana pada bagian selatan dari bandara masih terdapat lahan kosong yang belum dimanfaatkan dengan optimal sebagai lahan pertanian pesisir,” ujar salah satu anggota tim, Devie Febriansari, Senin (23/11/2020).

Ia mengatakan, sistem pertanian dengan metode aquaponik sudah banyak. Namun, sistem yang ada sebelumnya belum saling dikolaborasikan antara satu dengan yang lainnya sehingga masih menghasilkan komoditas monokultur.

Sistem ini memungkinkan adanya kolaborasi sehingga menghasilkan komoditas polikultur. Selain itu, sistem ini juga terintegrasi dengan Internet of Things (IoT) dan Artificial Intelegence (AI).

Rancangan sistem ini terbagi menjadi empat bagian yang memiliki fungsi masing-masing. Yaitu tambak garam (produksi garam), tambak payau (produksi udang), tambak air tawar (produksi ikan dan sayuran), dan embung (irigasi pertanian).

Baca Juga :  Kasus Covid-19 di Solo Masih Tinggi UNS Tunda Pembelajaran Tatap Muka

“Keunggulan dari sistem ini, yaitu dapat bekerja secara otomatis, terhubung ke IoT, friendly interface, hemat energi, dan adanya AI memungkinan sistem ini dapat menentukan kapan filter dibersihkan, dan pemberian nutrisi tambahan untuk udang, ikan dan tanaman,” imbuh Devie.

Selanjutnya, Devie menuturkan jika saat ini ia bersama tim tengah mempersiapkan diri untuk mengikuti ajang bergengsi bagi mahasiswa yaitu Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas). Tuan rumah dari Pimnas ke- 33 tahun 2020 adalah Universitas Gadjah Mada (UGM).

Komunikasi intens dilakukan bersama pembimbing untuk mempersiapkan poster dan presentasi yang akan mereka bawakan.

“Harapannya kami bisa mendapatkan medali dalam ajang tersebut dan nantinya alat yang kami buat, benar-benar dapat direalisasikan sehingga mampu memberikan dampak positif dan kebermanfaatan bagi petani khususnya petani pada wilayah pesisir,” tambah Devie. Prihatsari