JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Solo

Pandemi Covid-19, Tingkat Partisipasi dalam Pilkada Ditarget 77 Persen

Direktur IK PMK Kementerian Kominfo, Drs Wiryanta, MA, PhD / joglosemarnews
Madu Borneo
Madu Borneo
Madu Borneo

SOLO, JOGLOSEMARNEWS.COM – Pandemi virus Corona atau Covid-19 berdampak pada sebagian besar sektor dalam kehidupan manusia, termasuk berdampak pula di ajang Pilkada yang akan dihelat pada 9 Desember 2020 nanti.

Direktur Informasi dan Komuniasi (IK) Pembanguan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Kementerian Kominfo, Drs Wiryanta, MA, PhD menjelaskan, situasi pandemi Covid-19 telah memaksa turunnya ancangan target dari situasi normal.

“Dalam situasi pandemi Covid-19 ini, target partisipasi publik dalam Pilkada 2020 sebesar 77 persen,” ujarnya kepada wartawan di sela-sela acara Sosialisasi Pilkada Serentak 2020 “Pemilih Cerdas, Aman dan Sehat” di TA TV, Solo, Sabtu (21/11/2020).

Wiryanta menegaskan, ancangan tersebut merupakan target riil, di mana kendala-kendala sebagai akibat pandemi Covid-19 sudah diperhitungkan.

Dia membandingkan, dalam kondisi normal tanpa Covid-19, target partisipasi publik terhadap Pilkada 2020 bisa mencapai 80 persen lebih.

Pilkada tahun 2020 ini ibarat ungkapan maju kena mundur kena. Di satu sisi, partisipasi publik dapat digenjot, namun di sisi lain partisipasi publik yang tidak diimbangi dengan kedisiplinan terhadap protokol kesehatan, bakal menimbulkan klaster Covid-19 pada sisi yang lain.

Baca Juga :  Bantu Imunitas Pengurus Masjid Agung Solo, Habib Hasan Mulachela Bagikan Suplemen untuk Mencegah Covid-19. Ini Alasannya

Oleh karena itulah, jelas Wiryanta, pihak Kominfo merasa terpanggil untuk ikut terjun ke bawah dengan membantu sosialisasi Pilkada 2020 yang cerdas, aman dan sehat.

“Cerdas, yakni masyarakat menggunakan hak pilihnya dengan baik, agar Pilkada menghasilkan seorang pemimpin yang jujur, amanah dan ngayomi,” ujarnya.

Aman, yakni pemilu yang berjalan dengan lancar, demokratis dan tidak sampai memicu terjadinya gesekan antar pendukung maupun kontestan.

Sementara, ‘sehat’ yakni Pilkada dapat berlangsung dengan lancar dan tidak justru menjadi media penularan atau penyebaran Covid-19.

“Artinya, Pilkada meski berjalan demokratis, tidak dapat dikatakan sempurna jika ternyata memicu lonjakan jumlah pasien Covid-19 dan menjadi klaster baru,” bebernya.

Wiryanta mengatakan, pandemi Covid-19 merupakan situasi bersama, yang dihadapi oleh semua elemen dan lapisan masyarakat. Dihadapi oleh Pemerintah, petugas KPU, Panwas maupun masyarakat pemilih.

Oleh karena itu, jelas Wiryanta, seluruh elemen harus satu visi dalam mendukung pelaksanaan Pilkada yang demokratis, aman dan sehat. Kuncinya, protokol kesehatan harus benar-benar ditegakkan, dan petugas harus berani bersikap tegas pada pelanggar.

Baca Juga :  Klinik Rawat Inap SOLOPEDULI Gelar USG Gratis untuk Dhuafa

“Jadi gerakan 3 M yang menjadi anjuran pemerintah itu harus benar-benar ditaati di hari H,” ujarnya.

Wiryanta mengatakan, gerakan 3 M tersebut terdiri dari Mengenakan masker, Menjaga jarak dan Mencuci tangan. Di antara tiga sikap dalam gerakan 3 M tersebut, menurut Wiryanta, sikap menjaga jarak merupakan bagian yang paling berat dilakukan dan sering dilanggar.

Pasalnya, jelas Wiryanta, sebagai makhluk sosial, sudah menjadi naluri ketika mereka bertemu bersama dengan rekan-rekannya, cenderung akan mendekat.

“Karena itu, kami akan ikut pantau, bagaimana agar soal jarak dan waktu ini dapat diatur dengan baik untuk mencegah terjadinya kerumunan,” ujar Wiryanta.

Demi tercapainya Pilkada yang cerdas, ama dan sehat, jelas Wiryanta, Kominfo melakukan sosialiasi selama masa pra Pilkada, ikut memantau selama Pilkada hingga pasca Pilkada. suhamdani