JOGLOSEMARNEWS.COM Edukasi Pendidikan

Rektor Unisri, Pemberantasan Narkoba Harus Hati-hati, Cerdas dan Tanpa Henti


SOLO, JOGLOSEMARNEWS.COM – Rektor Universitas Slamet Riyadi (Unisri) Surakarta Prof Dr Sutardi mengatakan, perang terhadap narkoba itu ibarat psywar, perang tanpa senjata.

Karena itu, perang terhadap narkoba harus dilakukan secara cerdas, hati-hati dan tanpa henti.

Apalagi, menurut Sutardi, korban akibat mengkonsumsi narkoba terus meningkat jumlahnya, meski tidak diberitakan. Sasaran pun juga meluas, tidak hanya orang tua dan remaja, tapi juga anak-anak.

“Yang perlu dilakukan itu adalah penyadaran pada masyarakat, bukan melarang. Sebab kalau dilarang, biasanya orang itu penasaran dan kemudian coba-coba,” kata rektor ketika membuka talkshow bertajuk Hidup 100% Persen: Mahasiswa Tanpa Narkoba.

Talkshow yang dipandu Dr Herning Suryo itu juga menghadirkan Kepala Badan Narkoba Nasional Kota Surakarta Ridho Wahyudi dan wakil rektor bidang kerja sama alumni dan kemahasiswaan Unisri, Dr Sutoyo.

Baca Juga :  Fakultas Hukum Unisri Gandeng KPK dan Ditjen Imigrasi Gelar KKL Daring

Dalam kesempatan itu juga, dilakukan pengukuhan duta anti narkoba Unisri Surakarta.

Kepala Badan Narkoba Nasional (BNN) Kota Surakarta Ridho Wahyudi mengatakan, pemberantasan penyalahgunaan narkoba kini tak lagi dipandang sebagai masalah sektoral yang hanya menjadi tugas institusi tertentu.

Tapi sudah menjadi masalah nasional dan menjadi tugas semua pihak.

Lantaran kasus penyalahgunaan narkoba dianggap sangat penting, lanjut dia, maka sangat beralasan kalau Presiden Joko Widodo sampai mengeluarkan dua instruksi.

Yakni, Inpres No 6 Tahun 2018 dan Inpres No 2 tahun 2020 tentang Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika atau P4GN.

Baca Juga :  Hari Guru di SMPN 8 Surakarta, Guru Diminta Selalu Berinovasi

“Penerbitan kedua Inpres ini mencerminkan bahwa pemerintah serius dalam pemberantasan penyalahgunan narkoba, dengan melibatkan berbagai stakeholder,” katanya, sebagaimana dikutip dalam rilisnya ke Joglosemarnews.

Dikatakan, sekitar tahun 2011 atau 2012, di Indonesia mengalami zaman kalabendu terkait penyalahgunaan.

Dimana menurut hasil survai internasional, sebanyak 5 juta atau sekitat 2,1 persen penduduk Indonesia terpaoar narkoba dengan angka kematian 50 orang per hari di seluruh Indonesia.

Dalam keadaan seperti itu sempat dinyatakan darurat narkoba nasional.

“Saya mengapresiasi kampus Unisri ini dalam pemberantasan narkoba. Selain sering melakukan talkshow atau seminar tentang pemberantasan narkoba, juga memiliki satgas anti narkoba dan duta anti markoba. Ini membuktikan bahwa Unisri serius dalam membentengi mahasiswa dari bahaynaya narkoba,” tandasnya. suhamdani